Mengusung Optimisme Pembelajaran Virtual

Oleh Didi Pramono

SEBELUM pandemi Covid-19 berlangsung, pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah dikenal, baik di dalam lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Di lembaga pendidikan formal, khususnya di perguruan tinggi, PJJ dalam bentuk e-learning memang telah diterapkan, tetapi dengan tetap memprioritaskan pembelajaran tatap muka. Beberapa perguruan tinggi bahkan pernah mencoba mengalokasikan sebagian dari pertemuan kuliah selama satu semester untuk kelas virtual.

Adapun pembelajaran virtual secara penuh umumnya dilakukan lembaga pendidikan nonformal yang menggelar kursus di bidang tertentu. Meskipun telah mengenal, pengajar dan pembelajar dapat dikatakan belum terbiasa dengan pembelajaran virtual. Kondisi belum terbiasa tersebut tak pelak menciptakan kegagapan tertentu ketika pandemi Covid-19 mengharuskan pembelajaran dilangsungkan tanpa pertemuan fisik secara langsung.

Kita tidak bisa memungkiri kegagapan dalam pembelajaran tersebut, karena kita memang mengalaminya selama sekira enam bulan berselang. Proses pembelajaran benar-benar mengandalkan jaringan internet, yang dengan berbagai alasan memunculkan kompleksitas persoalan: ketidakstabilan jaringan internet, gawai yang tidak kompatibel dengan aplikasi pembelajaran, dan lain-lain.

Itu baru persoalan teknis. Persoalan psikologisnya lebih runyam lagi. Pengajar dan pembelajar sangat mungkin mengalami perasaan teralienasi akibat ketiadaan interaksi fisikal secara langsung. Meskipun hal tersebut telah berusaha diatasi dengan aplikasi berbasis video seperti Zoom, Google Meet, atau lainnya, bahkan bila kualitas audiovisualnya bagus, akan tetapi keterasingan atau alienasi itu tetap ada. Sejelas apa pun ekspresi muka dan suara masing-masing orang ketika berkomunikasi secara virtual, tetap ada sekat bernama layar kaca yang memang mengalienasi. Ketika pembelajaran virtual di perguruan tinggi mengalami kompleksitas persoalan, kondisi yang lebih rumit berlangsung dalam proses pembelajaran di stratum di bawahnya, dari SD hingga SMA. Para siswa secara umum belum mencicipi model e-learning.

Dalam pembelajaran di SD hingga SMA, pihak yang menanggung beban persoalan tidak hanya siswa, tapi juga orang tua. Padahal, pada saat pembelajaran tatap muka di kelas, para orang tua siswa tidak secara langsung terlibat. Dalam pembelajaran virtual, para orang tua tak hanya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kuota internet atau gawai yang kompatibel dengan sistem pembelajaran yang diterapkan, tapi mereka juga kerap “terpaksa” berperan sebagai “guru” atau instruktur.

Moralitas yang Terancam

Masih ada persoalan lain yang lebih serius dari persoalan teknis dan psikologis, yaitu persoalan moralitas. Melihat efek pembelajaran virtual (yang sekarang masih berlangsung) dari perspektif moralitas barangkali terlalu nggege mangsa atau dini karena belum banyak yang melakukan kajian atau penelitian mengenai aspek moralitas di kalangan siswa selama pandemi.

Bagaimanapun pendidikan karakter siswa kini benar-benar bertumpu pada orang tua. Orang tua saat ini dikenai beban ganda, di satu sisi harus mencari nafkah, di sisi lain harus membimbing secara penuh anaknya dalam belajar dan membangun moralitas anak. Meskipun begitu, apa yang sedang dialami anak-anak kita selama pembelajaran virtual ini tetap perlu dicermati dari segi moralitas, terutama aspek kemandirian dan kejujuran.

Banyak siswa mengaku senang bersekolah dengan sistem pembelajaran virtual. Perasaan itu bukan karena metodologi pembelajaran yang diterapkan telah mampu memenuhi kebutuhan belajar mereka, melainkan karena ada orang yang membantu dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Membantu dalam hal ini bahkan bersifat harfiah karena orang tua atau kakak atau saudara siswa yang bersangkutanlah yang mengerjakan tugas. Jadi, aspek moralitas kemandirian siswa boleh dibilang “terancam”. Satu lagi ancaman terhadap moralitas adalah kejujuran.

Meskipun bukan sebuah penelitian, penulis pernah bertanya kepada beberapa siswa yang merasa senang dengan pembelajaran virtual, karena mereka bisa mencontek ketika mengerjakan tugas, dan merasa gembira karena nilai mata pelajaran mereka jadi bagus. Berkaitan dengan hal tersebut, evaluasi merupakan satu tahapan penting yang harus dilakukan pada akhir pembelajaran, tetapi tidak semua evaluasi bisa dilakukan saat ini. Apalagi penilaian otentik yang mengharuskan guru menilai kinerja dan produk siswa secara langsung. Keterbatasan bertemu harus dicari celahnya.

Perlu adanya evaluasi pembelajaran yang tetap bisa mengukur kemampuan siswa, tetapi juga tidak membebani. Dengan gambaran mengenai persoalan- persoalan yang muncul seturut proses pembelajaran virtual, boleh jadi kita merasa baper, atau bahkan paranoid. Boleh jadi kita lalu mencemaskan kesuraman dunia pendidikan dan kehancuran satu generasi. Lantas apa yang harus kita lakukan? (Kita di sini tak melulu para pendidik, tapi mencakup banyak pihak lain, juga orang tua pembelajar). Tentu saja melulu kecemasan tak akan menyelesaikan persoalan.

Pesimisme ketika berhadapan dengan persoalan pendidikan juga bukan sikap yang tepat. Bagaimanapun sikap optimisme perlu diusung. Karena itu, kompleksitas persoalan yang mendera pembelajaran virtual tetap harus diurai dan dicari solusinya. Berbagai inovasi, khususnya yang berkenaan dengan metodologi pembelajaran, perlu terus digali dan diterapkan.

Alih-alih baper atau bahkan frustrasi ketika berhadapan dengan kekarutmarutan sistem pembelajaran virtual, para pendidik perlu berjuang keras mencari berbagai metodologi pembelajaran yang tepat, tentu saja metodologi yang setidaksetidaknya mampu mengurai persoalan teknis, psikologis, dan moralitas dalam proses pembelajaran virtual. Salah satu metode yaitu social project based learning yang perlu banyak diusung oleh pengajar dan pembelajar saat ini.

Mungkin situasi pandemi inilah saat yang tepat untuk kembali membumikan siswa pada akarnya yang selama ini dianggap tercerabut dari lembaga formal bernama sekolah. Siswa saat ini perlu banyak dikerahkan untuk melakukan aksi sosial di masyarakat, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Dengan demikian optimisme untuk menyelamatkan satu generasi ini tetap bisa diwujudkan melalui pembelajaran secara langsung dari laboratorium terbesar di dunia, yakni masyarakat. Satu hal yang tak boleh dilupakan, khususnya oleh kalangan di dunia pendidikan, adalah upaya tak henti-henti mentradisikan pola pembelajaran virtual betapa pun nanti pembelajaran tatap muka dilangsungkan kembali.

Pembiasaan terhadap subjek belajar mengenai pembelajaran virtual adalah kunci untuk mengurai persoalan. Kalau sudah demikian, kita punya alasan untuk mengusung optimisme terhadap pembelajaran virtual. Pada situasi apa pun, lebih-lebih pada situasi pandemik, hanya optimismelah yang kita butuhkan untuk menghadapinya. Optimisme adalah sikap paling tepat sebagai mesin moral dalam menyelesaikan pelbagai persoalan. (37)

 Didi Pramono MPd, dosen Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Unnes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort