Menggemari Namun Bukan Berarti Mengkultuskan

  • Komunitas Penggemar Sejati Manteb Soedharsono (2-Habis)

MESKI menjadi penggemar berat namun mereka yang tergabung dalam PSMS tidak lantas mengkultuskan Ki Manteb Soedharsono. Bahkan dalam konteks menonton wayang mereka juga tetap melihat pentas dalang lain setiap ada kesempatan. Kondisi yang demikian sengaja diciptakan karena sejak semula PSMS memang diharapkan menjadi ruang untuk mencerdaskan penonton wayang.

”Kami memang berharap PSMS bisa menjadi ruang yang bisa mendialogkan atau memperbincangkan berbagai hal seputar wayang. Sehingga akan menjadi ruang edukasi bagi siapa pun untuk mengenal, mengerti dan bahkan memahami apa itu wayang,” ujar Nanang Hape, seniman Wayang Urban Jakarta yang juga bergabung dalam PSMS.

Dengan tujuan, visi misi dan semangat yang demikian tidak heran jika keberadaan PSMS bukan sekadar ruang berkumpul. Selanjutnya hanya duduk bersama lalu bersama pula nonton bareng pertunjukan wayang sembari makan kacang dan minum teh. Tidak, tidak sekadar itu karena faktanya kemudian banyak hal yang sudah dilakukan oleh kumpulan pandemen wayang ini.

”Kami tidak hanya mendialogkan wayang di dalam grup saja, tapi itu juga kami lakukan di luar lewat berbagai kegiatan yang sudah digelar selama ini,” terang alumnus Jurusan Pedalangan ISI Surakarta itu.

Hingga sekarang, sudah tidak terhitung lagi kegiatan yang diselenggarakan PSMS yang semangatnya untuk pelestarian dan pengembangan wayang. Termasuk dengan kegiatan lomba yang berhubungan dengan persoalan wayang, termasuk tentu wayang karya Ki H Manteb Soedharsono.

”Kalau yang sifatnya lomba kami pernah menyelenggarakan lomba sabet, lomba membuat balungan lakon dan lain-lain. Kalau yang sifatnya pengenalan wayang kami pernah menggelar acara di berbagai tempat termasuk di mall-mall di berbagai kota,” jelas Witrikarno Basusesno.

Kecuali kegiatan-kegiatan yang sifatnya lomba dan pengenalan wayang, PSMS juga acap menggelar kegiatan diskusi wayang. Karena membicarakan tentang wayang maka tema diskusinya bisa beragam dan membedah persoalan-persoalan wayang. Baik itu menyangkut dengan persoalan internal wayang (wayang dan unsur-unsurnya) atau juga dengan persoalan eksternal yakni wayang dan relasinya dengan kehidupan masyarakat.

Demikian memang keindahan yang tercipta ketika penggemar dan idola sudah menemukan titik pertemuan-nya. Dan pastinya sang idola akan menjadi inspirasi bagi penggemarnya. Seperti yang dirasakan Edi Sujono dari Kediri yang menganggap keterbukaan dan kecerdasan pemikiran Ki Manteb sebagai inspirasi, lalu Wisnu Wardana dari Yogyakarta yang menganggap Ki Manteb pelepas dahaga dalam dunia pewayangan serta Gatot Triono dari Tangerang yang memandang Ki Manteb sebagai dalang yang mumpuni dan selalu penuh semangat.(Wisnu Kisawa-21)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort