Mengenalkan Konsep Matematika Dasar lewat Permainan Bekel.

Oleh Endi Aras.

Jakarta, Suaramerdeka.News
Bisa dibilang, permainan Bekel adalah permainan yang populer pada zaman dahulu yang hingga kini masih sering dimainkan. Permainan tradisional yang dimonopoli oleh anak perempuan ini terlanjur menjadi permainan legendaris.

Kehadiran berbagai macam alat permainan modern tak lantas membuat permainan Bekel menjadi punah. Meski tak seramai dulu, kita masih bisa mendapati anak-anak perempuan memainkan permainan Bekel untuk mengisi waktu senggang mereka.

Permainan Bekel merupakan permainan yang fleksibel. Bisa dimainkan sendiri ataupun bersama. Bisa dimainkan di luar ruangan ataupun di dalam ruangan.

Alat permainannya pun ringkas dan mudah dibawa kemana-mana. Tak heran jika kita sering melihat anak-anak SD bermain bekel disela waktu istirahat sekolah. Mungkin inilah alasan mengapa permainan Bekel masih dimainkan hingga sekarang.

Ketika cuaca tak memungkinkan bagi anak-anak untuk bermain di luar rumah, permainan Bekel menjadi alternatif yang mengasyikan, karena permainan ini bisa dimainkan di dalam ruangan dan tak menimbulkan suara gaduh yang dapat mengganggu istirahat dan aktivitas rumah tangga lainnya.

Para orang tua tak akan merasa keberatan saat melihat anak-anak mereka bermain Bekel, apalagi jika para orang tua memahami manfaat yang akan didapat oleh anak-anak mereka dalam permainan Bekel.

Permainan ini akan melatih kemampuan motorik anak-anak untuk cekatan dan terampil. Anak-anak juga akan terlatih untuk teliti dan fokus.

Lebih dari itu, tanpa disadari dalam permainan Bekel dikenalkan konsep bilangan sebagai dasar matematika.

Konsep mencacah terlihat saat pemain mengambil biji Bekel satu persatu hingga semua biji terambil. Anak-anak juga diajak untuk mengenal konsep pengelompokan (klasifikasi) dan transformasi terhadap bangun ruang sederhana.

Hal ini tampak saat anak-anak mencoba mengenal sisi-sisi biji Bekel dengan baik, lalu mengatur agar semua biji Bekel tersebut berada pada posisi yang sama.

Ketika para pemain mengambil dua atau empat biji Bekel sekaligus, sebenarnya mereka sedang belajar tentang penjumlahan dan perkalian. Begitu pula dengan pengurangan, karena jumlah biji Bekel di lantai akan berkurang jika terus diambil. Melalui permainan Bekel, belajar matematika menjadi begitu menyenangkan.

Konsep latihan dasar matematika ini diharapkan akan menjadi pijakan bagi anak-anak untuk menggunakan perhitungan dan rasionalitas mereka dalam menyelesaikan setiap permasalahan.

Selain Bekel, permainan jenis ini memiliki berbagai sebutan di beberapa daerah di nusantara.

Masyarakat suku Dairi di Sumatera Utara menyebut permainan ini dengan istilah Merkerang. Anak-anak Bengkulu mengenal permainan ini sebagai permainan Lantun. Istilah beklen adalah istilah nama bagi permainan ini di Jawa Barat, sedangkan istilah “bekelan” lazim dikenal di Jawa Tengah. Boleh jadi, pemberian nama “bekelan” pada orang Jawa Tengah atau “beklen” bagi masyarakat Sunda terpengaruh oleh istilah dalam bahasa Belanda. Orang Belanda menyebut permainan ini dengan nama “bikkelen”.

Untuk memainkan permainan Bekel dibutuhkan sebuah bola karet dan beberapa biji Bekel yang terbuat dari logam, ada yang terbuat dari timah dan kuningan.

Jumlah biji Bekel yang digunakan berbeda di tiap daerah, ada yang memainkan Bekel dengan 5 biji kuningan, ada yang enam dan ada yang memainkannya dengan 10 biji kuningan.

Bentuk ciri khas biji kuningan adalah kedua sisi diberi tanda bulatan kecil agak cekung, sebuah bulatan di satu sisi dan dua buah bulatan kecil di sisi yang lain.

Anak-anak jaman dulu bermain Bekel dengan bola karet berdiameter 3,5 sentimeter dan warnanya pun sama, yaitu coklat buram. Bola karet ini dibuat transparan sehingga terlihat motif berwarna merah di tengahnya.

Saat ini anak-anak bermain Bekel dengan bola karet yang lebih beragam. Ukuran bolanya ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil dari yang dulu. Pilihan warnanya pun lebih menarik. Ada yang berwarna orange, hijau terang dan merah jambu. Bahkan, ada bola Bekel bergambar tokoh kartun yang sedang populer.

Di berbagai tempat di Indonesia, bola karet sebagai alat permainan Bekel diganti dengan bola kasti dan biji kuningan diganti dengan kulit kerang atau siput.

Seperti di Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu dan Maluku. Bahkan, di Sumatera Utara permainan ini disebut Merkerang yang artinya “bermain kerang”. Sedangkan di Jawa Barat, ada yang memakai kewuk (kerang) dan ada yang memakai biji kuningan, tergantung kebiasaan anak-anak.

Permainan Bekel merupakan permainan adu ketangkasan yang lazim dimainkan oleh 2-4 anak perempuan berusia 6-12 tahun, meski bisa juga dimainkan sendiri atau lebih dari 4 perempuan. Jika dimainkan sendiri, tentu permainan hanya bersifat rekreatif, bukan kompetitif.

Dimana enaknya bermain sendirian tanpa teman?

Permainan diawali dengan hompimpah dan suit untuk mengundi siapa pemain yang berhak bermain terlebih dulu. Ada tiga babak pada permainan Bekel. Seorang pemain dianggap menang jika berhasil menyelesaikan ketiga babak ini.

Di babak pertama, biji Bekel digenggam dalam satu genggaman, lalu bola Bekel dilambungkan kira-kira setinggi 30 sentimeter. Anak-anak di Jawa Barat menggunakan 10 biji Bekel saat bermain.

Saat bola Bekel dilambungkan, biji Bekel ditebar dengan posisi acak. Bola Bekel hanya boleh memantul satu kali. Sebelum memantul untuk kedua kalinya, biji Bekel harus diambil. Satu pantulan untuk sekali pengambilan. Pengambilan biji Bekel sendiri dilakukan secara berurut. Diawali dengan mengambil satu buah demi satu buah biji Bekel.

Anak-anak Jawa Barat menyebutnya pihijieun. Kemudian dilanjutkan dengan piduaeun atau mengambil dua buah demi dua buah biji Bekel. Begitu seterusnya hingga pisapuluheun atau mengambil sepuluh biji Bekel sekaligus.

Pada babak berikutnya, bola Bekel dilambungkan sambil memainkan letak biji Bekel dengan cara dibolak-balik. Letak pertama adalah nangkarak, yaitu membalikkan biji Bekel menghadap ke atas.

Sisi atas pada biji Bekel kuningan adalah sisi yang memiliki sebuah bulatan kecil atau jika menggunakan biji Bekel kewuk, maka sisi yang dianggap atas adalah bagian yang terbuka dan bergerigi.

Letak kedua adalah nangkub, yaitu membalikkan biji Bekel menghadap ke bawah, sehingga sisi yang tampak adalah dua bulatan pada biji Bekel kuningan atau kewuk bagian bundar.

Pada babak ini pemain Bekel harus melalui tahapan-tahapan yang sama dengan babak pertama tadi, yaitu nangkarak hiji, nangkarak dua, dan seterusnya hingga nangkarak sapuluh. Gambar tangan sedang membuka biji bekal pada situasi ‘nangkup’.

Babak ketiga disebut babak naspel. Babak ini merupakan babak terakhir. Pada babak ini biji Bekel dibolak-balik seperti pada babak kedua, namun tidak diambil.

Tapi setelah sampai pada nangkub, biji Bekel dibuka lagi sambil disusun membentuk barisan. Kemudian seluruh biji Bekel diambil dan kembali ditebarkan.

Kesalahan pada permainan Bekel bagi anak Jawa Barat disebut lasut. Pemain yang lasut (melakukan kesalahan) harus berhenti dulu dan memberi kesempatan pada pemain diurutan berikutnya.

Pemain yang lasut harus ingat tahapan terakhir yang dia mainkan, untuk dilanjutkan kembali saat giliran bermainnya tiba. Seorang pemain dinyatakan lasut jika bola Bekel yang dilambungkan tidak tertangkap atau biji Bekel dalam genggaman jatuh.

Pemain juga dinyatakan lasut jika melakukan gudir, yaitu saat mengambil biji Bekel tangan menyentuh atau menyenggol biji Bekel yang lain. Oleh karena itu, seorang pemain harus berusaha menebar biji Bekel agar jatuh pada posisi yang menguntungkan.

Tak jarang, kita akan merasa kagum saat menyaksikan betapa cekatan anak-anak dalam bermain Bekel. Apalagi jika tiba giliran anak yang dikenal jago dalam memainkannya.

Tangannya yang terampil saat membolak-balik biji Bekel, kecepatannya saat menangkap bola Bekel dan kecekatannya dalam meraup semua biji Bekel kemudian menebarkannya kembali.

Tanpa sadar, kita bisa dibuat geleng-geleng kepala saat menyaksikannya.

Para pemain yang lain menunggu dengan ekspresi yang beragam, ada yang berharap-harap cemas, ada yang mulai jenuh menunggu giliran mainnya tiba, ada yang bersorak mengganggu konsentrasi bermain, ada juga yang berdecak kagum seperti kita.

Ekspresi mereka membuat hidup kita lebih berwarna.

Tentu permainan ini menarik untuk kaum perempuan, tapi tidak dengan kaum laki-laki. Karena permainan ini identik dengan kaum perempuan. Keadaan telah berubah, sekarang kaum laki-laki juga banyak yang memainkannya. Tapi tentu sekedar pengin mencoba saja. Nah, yuk siapa lagi yang ingin mencoba. (benny benke — 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *