Mengenal Avalokitesvara

Oleh Imam Budiwiyono

BODHISATTWA Avalokitesvara atau dikenal dengan Dewi Kwan Im adalah pujaan umat Budha Mahayana khususnya Tri Dharma sebagai dewi penolong dan dewi welas asih, yang diyakini umatnya sebagi dewa serba bisa, menolong umat manusia yang sedang menderita di dunia.

Pada umumnya semua tempat ibadah Tri Dharma atau kelenteng dan sebagian besar Vihara Mahayana mempunyai altar pujaan Avalokitesvara, bahkan sebagai tuan rumah pujaan utama di tempat ibadah ini. Hampir semua tempat ibadah yang bernapaskan Buddha di Asia terutama di Asia Timur, umatnya memuja Avalokitesvara, antara lain Tibet, Tiongkok, Jepang, Korea, Taiwan, Muangthai, Vietnam, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia dengan nama yang mirip-mirip sesuai dengan bahasanya, misalnya di Jepang Ken Zeon, di Korea Guanse-eum, di Viet Nam Quan Am, Muangthai Kuan Eim, Hongkong Kwan Yum, dan Indonesia Kwan Im.

Sebagian orang Barat menyebut Maria dari Timur, karena kemiripan sebagai sosok wanita dan pemujaannya. Dua tempat ibadah di Semarang yang terkenal dengan pemujaan Dewi Kwan Im ini berada di tempat ibadah Tri Dharma Gang Lombok dan tempat ibadah Tri Dharma Kebon Jeruk.

Di Candi Mendut juga ada patung Avalokitesvara, halinimerupakandaya tarik tersendiri bagi umat dan wisatawan yang berkunjung.

Sebenarnya banyak versi asal-usul nama Avalokitesvara ini, antara lain sebagai seorang raja Nepal 1.500 tahun yanglalubernama Avalokitesvarayang beragama Buddha kemudian dipuja sebagai dewa welas asih oleh umatnya, kemudian aliran ini menyebar ke Korea, Tiongkok, dan Asia Timur.

Sebagian umatnya mempercayai sebagai penerus aliran Brahma di India. Dalam penyebarannya ke timur sekitar abadke-4Masehialiraninidibawapandita Buddha bernama Kumarajiva masuk ke Tiongkok.

Avalokitesvara diterjemahkan menjadi Guan Shi Yin atau Kwan Sie Im yang berarti dapat mendengarkan dan melihat penderitaan semua mahluk. Umatnya meyakini siapa saja yang menyebutkan namanya akan mendapat pembebasan atau pertolongan.

Dalam perkembangannya, karena terkenal sebagai dewi welas asih atau Dewi Guan Yin, banyak doa umatnya terkabul dan memujanya. Di Tiongkok diyakinisebagaianakseorangrajayang menjadi murid Buddha Sakyamuni yaitu Dewi Miao San.

Ajaran Universal

Ajaran cinta kasih ini adalah ajaran universal bagi setiap makhluk di dunia khususnya di Asia, tidak hanya umat Budhis tetapi bersamaan dengan agama lain.

Dalam perkembangannya di Tiongkok bersama dengan ajaran budi pekerti dari Konfusianisme dan keharmonisan dari Tao terus dipelihara berabad-abad sebagai kepercayaan rakyat sampai saat ini.

Umatnya meyakini dengan melakukan ajaran welas asih ini akan membebaskan mahluk dari penderitaan dan kesusahan, dengan ditambah dengan pengorbanan diri akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar, yaitu akan membebaskan manusia dari karma buruk. Umatnya percaya, dengan menyebutkan namanya beberapa kali, doanya akan terkabul.

Sebagai dewa penuh cinta kasih, penolong dalam kesulitan, menghilangkan penderitaan serta mengajarkan pengorbanan untuk menghilangkan karma buruk, telah meyakinkan umatnya sebagai dewa yang serba bisa menolong.

Diyakini pula oleh umatnya, bisa memberikan putra bagi keluarga yang belum memperoleh keturunan, ini dilakukan dengan wujudnya sebagai Avalokitesvara sedang menggendong anak. Sebagai seorang Bodhisattwa Avalokitesvara, Miao Shan mengajarkan belas kasih, kebajikan, pembinaan melepas penderitaan, membebaskan dari karma buruk. Bodhisattva diartikan calon Buddha yaitu makhluk yang mendedikasikan dirinya untuk kebahagiaan makhluk lain di alam semesta.

Dalam perjalanan pengabdiannya sebelum mencapai kesempurnaan diceriterakan bahwa untuk menolong ayahnya yang sedang menderita bersedia menyerahkan kedua mata dan tangannya untuk dipersembahkan.

Legendanya dapat mempunyai 33 perwujudan yang diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk patung antara lain dengan membawa tempat bunga berisi air suci, dan ranting daun untuk dipercikkan, duduk berdoa di atas teratai emas dan ada perwujudan lain dengan tangan seribu, membawa anak dalam gendongan, membaca doa dan memberikan nasehat, dan lain-lain, sehingga pada tanggal 19 bulan 6 penanggalan Imlek saat itu mencapai pencerahan dan kesempurnan. Hari itu sampai sekarang diperingati sebagai Hari Kesempurnaan Avalokitesvara.

Semua tempat ibadah Tri Dharma dan Vihara Mahayana memperingati dan merayakan sebagai hari Dewi Avalokitesvara mencapai kesempurnaan, yangbertepatandengantanggal8 Agustus 2020. Suasana ritual di tempat- tempat ibadah di Semarang tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, karena sedang terjadi pandemi Covid-19.

Namunparaumatnyajustrumenggunakan upacara dengan pimpinan panditanya itu diarahkan untuk minta kemukjizatan meminta keselamatan agar keluarga dan masyarakatnya terhindar dari Covid-19. (37)

— Dokter Imam Budiwiyono SpPK(K), wartawan Suara Merdeka 1975-1988, dosen FK Undip, dan pengurus Tempat Ibadat/Majelis Rohaniwan Tri Dharma Jateng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort