Membangkitkan Optimisme Lewat Buku

SEMARANG – Balai Bahasa Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan peluncuran dan diskusi buku karya Wiwien Winarto dan Asef Saeful Anwar. Acara yang dihadiri seniman, sastrawan, tokoh masyarakat dan pemerintah dari berbagai daerah di Jawa Tengah itu berlangsung di Hotel Grasia, Jalan S Parman No 29 Semarang, Selasa (10/12).

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pusat Prof Dadang Sunendar saat membuka acara mengatakan, pentingnya menghadirkan karya-karya buku yang mampu membangkitkan optimisme, baik bagi anak maupun generasi penerus bangsa. Menurutnya, apa yang dibaca anak-anak itulah yang akan menjadi pijakan mereka kelak nanti.

“Kita perlu menerbitkan buku-buku yang mampu membangkitakan optimisme anak-anak dan masyarakat,” kata Prof Dadang di lokasi, Selasa (10/12).

Dicontohkannya, buku tentang Kapten Tsubasa legenda pemain sepak bola asal Jepang. Kapten Tsubasa merupakan manga (komik Jepang) dan anime (animasi dari Jepang yang digambar dengan tangan maupun menggunakan teknologi komputer) tentang sepak bola. Kapten Tsubasa merupakan salah satu manga dan anime favorit masyarakat Indonesia. Menurutnya, komik tersebut mampu memantik semangat masyarakat dan anak-anak muda Jepang.

“Jadi apa yang akan diberikan kepada anak cucu kita nanti itu harus dipikirkan sejak sekarang. Bapak-ibu yang diberikan kepada anak cucu kita jangan hanya soal cerita seperti, kancil nyolong timun, malin kundang atau cerita rakyat lainnya,” ungkapnya.

Menurutnya, meski hal itu oleh sebagian kalangan dinilai bagus namun sempat mendapatkan protes karena dianggap menjadi salah satu penyebab maraknya terjadi korupsi di Indonesia. Maka dari itu diperlukan semacam peluncuran buku yang mampu meningkatkan daya belajar dan membaca.

“Jadi terobosan perluncuran buku seperti yang berlangsung saat ini sangat penting. Pesan saya, acara ini jangan hanya selesai pada peluncuran saja tetapi disusul dengan bedah buku lainnya,” ungkapnya.

Diakhir paparan, Prof Dadang mengingatkan pentingnya membangun budaya literasi. Dipaparkannya, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam literasi, yakni minat baca dan kemampuan membaca. Menurutnya, keduanya sama-sama penting.

“Harus didukung jika ada komunitas yang fokus pada bedah buku. Semua tentang literasi yang dapat meningkatkan minat baca dan belajar,” imbuhnya.

Kepala Balai Litbang Agama Semarang (Balitbang) Agama Semarang Samidi Khalim yang turut hadir di acara tersebut mengapresiasi. Menurutnya, peluncuran dan bedah buku yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Tengah itu merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Tengah dengan Balitbang Agama Semarang.

“Kami selaku Kepala Balitbang Agama Semarang memberi apresiasi dan bangga dengan penerbitan buku-buku hasil penelitian teman-teman di Balai Bahasa Jateng,” katanya.

Menurutnya, buku merupakan media edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Tak hanya itu, buku juga dianggap sebagai jendela membuka dunia.

“Besar harapan kami untuk meningkatkan kerja sama ini. Melakukan riset bersama, dan mengembangkan hasil riset yang tepat sasaran,” terangnya.

Dia melanjutkan, hasil riset kolaborasi antara Balai Bahasa Jateng dan Balai Litbang Agama Semarang akan memberikan hasil output dan outcome yang lebih besar dan lebih luas bagi masyarakat. Oleh sebab itu publikasi hasil riset tidak hanya dipublikasikan melalui cetak saja, tetapi juga melalui media daring, media sosial sesuai tuntutan zaman.

“Lebih lebih buku yang terkait dengan dunia generasi millenial. Seringkali generasi ini lebih akrab dengan media daring daripada media cetak,” imbuhnya. (arw-58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *