Membaca Ulang Dinamika Kesusastraan Semarang

KOTA LAMA, Suaramerdeka.news – Sebanyak lima forum diskusi tentang sastra, digelar dalam Semarang Literary Triannale bertajuk ”Piye Kabare Sastra Semarang?” di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama, kemarin.

Perbincangan serta rangkaian acara di dalamnya berusaha membaca ulang dinamika kesusastraan di Semarang.

”Sastra dan literasi bisa mengisi minimnya narasi tentang Kota Semarang,” kata Ketua Panitia Semarang Literary Triannale, Istiqbalul Fitriya.

Forum pertama merupakan soft launching buku ”Bercerita Jawa” dengan pembicara Gunawan Budi Susanto, Pungki Ariawan, dan moderator Ganjar Sudibyo. Forum kedua tentang Iklim Literasi Semarang yang menampilkan pegiat sastra di Semarang, seperti Sulis Bambang, Ahmad Khairudin, Heri Candra, Handry TM, dengan moderator Himas Nur.

Forum selanjutnya tentang penerjemahan sastra oleh Mario F Lawi, Bagus Dwi Hananto, dan moderator Arif Fitra Kurniawan. Kemudian, tentang

”Literasi dan Hal-hal yang Menggemaskan” oleh Janet dan Pratono, yang dimoderatori oleh Pupung. Serta forum yang membahas tentang desain buku dan penerbitan oleh Budi Maryono, Widyanuri Eko Putra, Koskow dan moderator Yunan.

”Pembacaan puisi, musik, dan pentas seni juga digelar,” terangnya.

Para penampil antara lain Serambi, Dengan Kata Lain, Wadah Musik Sastra, BDBH, Swaranabya, dan Tridhatu. Penyair di Kota Semarang mengisi dengan pembacaan puisi.

Direktur Hysteria, Ahmad Khairudin, mengatakan kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Hysteria kali pertama di Desa Gebyok, Gunungpati dan Taman Budaya Raden Saleh pada 2008, kemudian di Grobak Art Kos, Jalan Stonen, Gajahmungkur pada 2011. ”Keinginannya adalah melihat perkembangan dunia sastra kekinian baik dalam konteks lokal maupun global,” ujar Ahmad.

Beberapa penerbit alternatif berpameran dalam acara ini. Dari Semarang yakni Beruang, Gigih Pustaka Mandiri, dan Bengkel Sastra Taman Maluku. Penerbit luar Kota Semarang di antaranya Rua Aksara, Bening Pustaka, JBS, Interlude, Nyala, Shiramedia, Gambang, Circa, Pojok Cerpen, IBC, Kakatua, Pelangi Sastra. ”Selain untuk membaca ulang dinamika kesusastraan Kota Semarang. Juga melihat hubungan antara penerbit, penulis, pembaca, agar tidak putus barang satu bagian pun,” pungkasnya. (akv-42)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *