Memanusiakan Manusia.

Preview Film The Peanut Butter Falcon. .

Jakarta, Suaramerdeka.News –Jika Anda penikmat kisah susastra, atau novel klasik karya Mark Twain, Huckleberry Finn, dipastikan akan sangat menikmati film The Peanut Butter Falcon.

Meski bukan adaptasi langsung dari novel The Adventures of Tom Sawyer, film ini terinspirasi dari kisah karakter novel terbitan 1876 itu. Dan di bawah racikan sutradara Nilson dan Schwartz, kisah novel klasik itu, malih rupa dalam cerita kekinian, yang masih bercita rasa susastra. Sesak pemikiran, perenungan dan berkedalaman. Plus tawa yang datang bergantian dengan kisah kedukaan, galibnya kehidupan.

Preview Film The Peanut Butter Falcon di Jakarta, Kamis (3/10) malam.

Demikianlah film yang dibintangi
Shia LaBeouf (Transformer) dan Dakota Jhonson (21 Jump Street dan Fifty Shades Film Series) ini mengalir. Sebagaimana kisah perjalanan anak manusia kebanyakan, narasi kedukaan, dalam film yang akan mulai diputar di Indonesia per tanggal 9 Oktober nanti, senantisa berjalan beriringan dengan keriaan.

Kedukaan dan keriaan itu, dihadirkan lewat sosok  Zak (Zack Gottsagen), pemuda 22 tahun yang tinggal di panti jompo dengan sindrom Down, atau berketerbelakangan mental. Atau publik yang tidak punya otak dan hati, acap memanggilnya dengan sebutan, maaf, idiot.

Bosan dengan dunianya yang down, Zak berkali-kali ingin minggat dari rumah jompo itu. Tapi berbilang kali ikhtiar dikibarkan, berbilang kali juga kegagalan diadapatkan. Padahal keinginan Zak hanya satu. Menjadi pegulat profesional, mengikuti sekolah gulat pahlawannya, Salt Water Redneck. Yang lokasinya nun jauh dari panti jompo tempat tinggalnya.

Hingga pada sebuah malam. Hanya dengan kancut di badan, minyak di sekujut tubuh dan semangat menggelora di dada, loloslah dia dari “Penjara dunia” itu. Sebelum akhirnya, bersiborok nasib dengan Tyler (Shia LaBeouf). Yang juga buron, setelah menghanguskan sebuah galangan kapal, karena sebuah konflik.

Dari sinilah tualang bermula. Ikatan persaudaraan antara manusia normal dan manusia istimewa, akan mengobrak-abrik perasaan terceruk penontonnya. Manusia penuh keterbelakangan mental, yang kemudian acap disapa “idiot”, dan “retard” oleh manusia normal, seperti kita itu, ternyata lebih manusia daripada manusia normal, seperti kita. Lebih punya hati, dan kejujuran yang tak terpermaknai, dari pada pekerti kita yang paling baik sekalipun.

Eleanor, Zak dan Tyler menjelma semacam tiga menguak takdir. (SMNews/Doc)

Dari tualang Tyler, Zak dan Eleanor (Dakota Jhonson) — mantan kakak asuh Zak di rumah jompo yang ayu dan terbengkalai perasaan cintanya itu,– kita akan diajak mengembara ke perjalanan terdalam menemukan diri sendiri. Sambil mendapatkan pelajaran dari manusia “idiot” seperti Zak, bagaimana memanusiakan manusia harus dilakukan.

Selebihnya di film yang mendapatkan rating 95% versi Tomattoes Rotten, 8/10 versi IMDB, dan 3,5/4 dari Rogert Ebert ini, akan membuat menangis tertawa penikmatnya. Khas novel klasik petualangan Mark Twain yang melegenda. Yang biasanya bernarasi tentang pencarian nilainilai kemanusiaan paling subtil, tentang hakikat kemanusiaan. (benny benke – 69).

One thought on “Memanusiakan Manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *