Memahami Bahasa Pejabat Publik

Oleh Rangga Asmara

PEMBERLAKUAN kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta ramai diperbicangkan warganet. Tidak hanya kebijakan itu yang menuai pro-kontra, pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak kalah menuai kehebohan di jagat media sosial.

Warganet ramai-ramai membincangkan pernyataan pejabat publik tersebut, yang boleh dibilang bahasa tingkat dewa. Anies dalam konferensi persnya Minggu (13/- 9/2020) lalu mengatakan tingkat kematian turun tapi jumlah orang yang meninggal meningkat. Sontak para pewarta berita ramai-ramai menggunakan pernyataan tersebut sebagai judul berita.

Warganet tentu banyak yang kebingungan memaknai judul pemberitaan tersebut. Banyak yang mempertanyakan bagaimana mungkin tingkat kematian turun, namun jumlah yang meninggal malah meningkat. Bagi yang awam dengan perkembangan berita Covid-19, kalimat tersebut memang sulit dipahami menggunakan logika sederhana. Penggunaan terminologi statistik menjadikan dua klausa yang secara semantik seolah sama, namun terkesan diparadokskan.

Salahnya, Anies tidak menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami. Bahkan, bisa dibilang bahasa Anies hanya cocok untuk kalangan terpelajar. Meskipun begitu, kalimat tersebut sejatinya dapat dijelaskan dengan premis yang lebih sederhana, yaitu besar persentase dihitung dari jumlah orang yang meninggal dibagi dengan jumlah kasus positif. Angka kematian adalah jumlah orang yang meninggal.

Jika seminggu lalu orang yang terinfeksi berjumlah 100 orang, sedangkan yang meninggal 10 orang, jadi tingkat atau persentase kematiannya adalah 10%. Angka tersebut dihitung dengan kalkulasi (10/100) x 100% = 10%. Selanjutnya, kasus positif meningkat jadi 1.000 orang dan yang meninggal menjadi 50 orang. Artinya angka kematian meningkat jadi 50 orang, tapi persentase kematian hanya 5%. Ini yang dimaksud Anies dengan tingkat kematian yang menurun, dari 10% menjadi 5%, meski jumlah yang meninggal mengalami kenaikan.

Secara harfiah, pernyataan Anies tidak ada yang salah. Karena secara statistik berdasarkan data dari laman jakarta.corona.go.id tingkat kematian di DKI dalam tiga bulan terakhir terus menurun. Pada bulan Mei, tingkat kematian ratarata 6,68%. Pada bulan Juni, ratarata 5,56% dan 4,81% pada bulan Juli. Meski tingkat kematian di DKI masih di bawah rata-rata global, tapi terlihat jelas angka kematian terus menanjak naik. Eskalasi jumlah warga DKI yang terinfeksi dan meninggal dunia akibat Covid-19 bukanlah prestasi yang membanggakan, apalagi bagi seorang Anies.

Sekadar Tata Kata

Dari sudut pandang linguistik, sebuah kalimat dapat dibingkai dengan teknik topikalisasi. Teknik ini merupakan strategi pengedepanan informasi yang akan ditonjolkan. Bagian informasi yang memiliki beban makna negatif yang lebih tinggióalih-alih informasi yang tidak disukai mitra tuturócenderung tidak ditonjolkan.

Para pewarta berita tampaknya sangat cakap menggunakan teknik ini khususnya untuk membingkai berita. Informasi yang sebenarnya sederhana, disajikan dengan kemasan yang ciamik, sehingga menarik perhatian pembaca dan memancing kehebohan. Tentunya setelah dibaca isi beritanya, baru kita sadari kekuatan kata-kata sang gubernur. Anies menutupi sedikit realitas jumlah yang terinfeksi yang jauh meningkat dengan menilai tingkat kematian yang menurun, padahal hal tersebut karena pembaginya (jumlah yang terinfeksi) meningkat tajam.

Anies memang sudah lama dikenal sebagai politikus yang tidak hanya jago dalam politik, tetapi juga dalam linguistik. Benar kata Menko Polhukam Mahfud MD, ini soal tata kata bukan tata negara. Sekali ngomong, langsung bikin bingung dan gaduh. Tingkat tata katanya makin lama makin mirip dengan Rocky Gerung yang gemar membingungkan pendengarnya.

Kegaduhan efek bahasa Anies bukan pertama kali terjadi. Katakata seperti rumah lapis, naturalisasi sungai, menata bukan menggusur, sampai yang paling baru ìmenarik rem daruratî, tidak lain adalah akrobat kata-kata yang perlu didalami substansinya.

Belum lama, publik juga memperdebatkan penggunaan istilah pulau reklamasi pada saat Anies menjelaskan kronologi penerbitan IMB pulau reklamasi Teluk Jakarta. Kata ìpulauî menurut Anies adalah daratan yang terjadi secara alami. Sementara itu, menurut KBBI, kata pulau berarti tanah atau (daratan) yang dikelilingi air (di laut, di sungai, atau di danau). Konon, bahasa bukan lagi entitas yang netral. Bahasa seseorang menunjukkan isi pikirannya. Bahasa bisa menjadi instrumen yang berbahaya ketika digunakan oleh orang yang salah dan dalam konteks (ruang dan waktu) yang salah.

Meski begitu, publik tidak butuh kata-kata. Cukup kerja saja, tak perlu kebanyakan menata kata. Jangan sampai PSBB kali ini menjadi kegagalan yang sama, yang akibatnya jauh lebih buruk dari yang sebelumnya. Bagi rakyat Jakarta, mereka tidak butuh angka-angka dan hitungan statistik yang tidak bisa dicerna, yang mereka butuhkan adalah hasil nyata dari pemberlakukan kembali PSBB.(34)

— Rangga Asmaradosen Universitas Tidar, mahasiswa S-3 Peminat Kajian Sosiolinguistik UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort