Mariposa, Bersiap Menyapa.

Jakarta, Suaramerdeka.News –— Mulai tanggal 12 Maret 2020 nanti, film Mariposa yang disutradarai Fajar Bustomi akan mulai rilis ke pasar.

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Luluk HF itu, produksi bersama oleh Falcon Pictures dan Starvision, itu diklaim akan menyajikan tontonan drama remaja yang menyenangkan, sekaligus berbeda.

“Karena kami memberikan ruang untuk mendevelop setiap peran kepada para pemain film Mariposa selebar-lebarnya,” kata Fajar Bustomi dalam rilis poster dan trailler film Mariposa di Falcon Bioskop, Jl DurenTiga 33 Mampang, Jakarta, Senin (10/02/2020).

Oleh karenanya, Chand Parwez Servia produser dari Starvision yakin, film ini akan mendapatkan sambutan positif dari publik. Karena banyak perspektif dalam film ini, di luar persoalan drama percintaan. Yaitu isyu nasionalisme dan pendidikan.

“Patut dicatat dalam sejarah perfilman Indonesia, ada kerjasama antara Falcon dan Star Vision dalam menggarap sebuah film, ini luar biasa, ” kata Parwes.

Dia menambahkan, faktor novelnya telah dibaca jutaan pembaca, menjadi nilai signifikan tersendiri. Apalagi di film Mariposa, dilakoni duet Angga Yunanda dan Adhisty Zara, yang sukses via film Dua Garis Biru (2019). Yang berhasil mendapatkan 2,6 juta penonton.

“Apalagi ini bukan semata kisah tentang remaja, tapi bagaimana sistem edukasi dari sebuah keluarga dapat membentuk karakter seorang anak yang berbeda, ” kata Parwez.

Hal senada diamini Alim Sudio selaku penulis skenarionya. Yang membuat cerita sepadat mungkin, harapannya dapat mencakup semua intisari cerita versi novelnya.

Selain Angga Yunanda dan Adhisty Zara, film Mariposa juga dilakoni Ariyo Wahab, Ersa Mayori, Irgi Fahrezi, Junior Robert, Dannia Salsabilla, Abun Sungkar, Syakir Daulay, dan Diaz Danar.

Fajar Bustomi menambahkan, film Mariposa sekaligus menjadi sangat bersejarah bagi dirinya. “Karena makin lama, karya saya, menurut saya, makin membaik. Sebab ada peningkatan di setiap film saya. Meski beban saya juga makin berat. Karena ada dua PH besar di film ini, dengan seratus juta pembaca versi novelnya,” kata sutradara film Dilan 1990, Dilan 1991 dan Milea, itu.

Oleh karenanya, Fajar Bustomi memperlakukan dengan cara berbeda penyutradaraannya di film ini. Agar tidak mirip citarasanya dengan sejumlah film larisnya ya g lain. “Ini lain.Tonton saja nanti, ” pungkasnya. (benny benke-69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *