Lola Amaria: Perlakuan Jaringan 21/XXI Tidak Fair.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Per hari Kamis (26/9) ini film produksi Lola Amaria Productions berjudul 6,9 Detik mulai beredar di jaringan bioskop 21/XXI.

Untuk semua wilayah edar di seluruh Indonesia, film yang juga disutrdarai oleh Lola Amaria itu, mendapatkan 83 layar. Meski sayangnya, untuk wilayah edar di Jakarta, film 6,9 Detik “hanya” mendapatkan 11 (sebelas) layar.

Dari kesebelas layar yang disediakan itu, menjadi makin membuat masygul Lola Amaria, karena tiga (3) layar yang diaminta selaku produser, yaitu di Kemang Village, Megaria dan Gading tidak diluluskan pihak 21/XXI. “Padahal tiga tempat itu, akan banyak kegiatan nonton bareng dari berbagai komunitas. Juga komunitas Panjat Tebing Indonesia. Terpaksa saya harus memindahkan nobar (nonton bareng), meski sudah kami skedul jauhjauh hari, ” kata Lola Amaria di Jakarta, Kamis (26/9).

Lola Amaria. (SMNews/Bb)

Ihwal 11 layar di wilayah Jakarta yang hanya diberikan oleh Jaringan 21/XXI kepada film 6,9 Detik, memimbulkan pertanyaan besar bagi Lola Amaria. Dia membandingkan dengan film Danur 3 yang mendapatkan 40 layar. Bahkan film Hayya yang beredar dari Minggu lalu, atau 19 September, sampai Kamis (26/9) ini masih mendapatkan 15 layar. Juga film Pretty Boys yang masih mendapatkan 35 layar.

“Bagaimana mungkin kami bisa mengembalikan modal kami, kalau persoalannya selalu seperti ini. Berulang terus, tidak ada azas keadilannya, ” kata Lola yang menganalogikan cara pemberian layar pihak Jaringan 21/XXI menciderai prinsip berniaga yang adil.

Karena nasib rumah produksi film semenjana seperti Lola Amaria Productions, juga akan diperlakukan serupa oleh pihak 21/XXI. Berbanding terbalik dengan perlakukan pihak 21/XXI terhadap rumah produksi besar dan mapan.

“Aku udah gak sanggup nih mau negosiasi sama mereka (21/XXI). Karena pasti kalah,” tekan Lola.

Ihwal kegundahan Lola Amaria sebagai pelaku film yang mendaku sepanjang memproduksi film, belum pernah mendapatkan layar di atas bilangan 100 layar itu, mendapatkan tanggapan dari Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Chand Parwez Servia.

Menurut Chand Parwez Servia pembagian layar yang diberikan pihak 21/XXI berdasarkan banyak pertimbangan dan hal, “Seharusnya yang berhak jawab bukan saya,” kata pemilik rumah produksi film Star Vision itu. Tapi, imbuh dia, dari pengalaman yang ada, sebuah film bisa dilihat potensi pasarnya dari berbagai referensi, juga dari promosinya.

“Pemberian jumlah layar selalu dikoreksi sesuai minat penonton terhadap film tersebut. Karena yang dievaluasi itu OR atau Occupancy Rate, yaitu prosentasi kursi terisi secara ratarata film yang beredar,” katanya.

Justru dengan layar tidak kebanyakan, menurut Chand Parwez Servia, penonton justru fokus di layarlayar yang ada. Sehingga perolehan penonton per layar prosentasinya bagus atau OR-nya tinggi. “Kalau OR lebih tinggi dari yang lain, maka langsung diberikan tambahan layar. Juga sebaliknya. Mana lebih baik ditambah atau dikurangi? Tentunya untuk imej peredaran, ditambah jauh lebih baik,” katanya.

Sepengalaman Parvez yang makan asam garam sistem industri pembagian layar film, umumnya para produser sudah mengalami dan maklum dengan hal ini, “Di mana ketika sukses mendapatkan layar yang sangat banyak. Ini berlaku umum di dunia,” ujar Parwez.

Ketika ditanya lebih jauh, sebenarnya Lola Amaria ingin meminta tolong kepada BPI agar paling tidak menjembatani kepentingan produser film dengan pihak 21/XXI, Chand Parwez Servia menjawab, “Kalau filmnya berhasil tapi tidak diberi kesempatan, pantas minta tolong. Mari kita bersabar menunggu hasilnya saja. Ingat bioskop juga unit usaha, kalau OR di bawah 30% mereka rugi,” pungkasnya.

Mengetahui jawaban Ketua BPI, Lola Amaria mengaku sangat kecewa. Karena alihalih mendapatkan pertolongan, dia merasa mengalami pembiaran, dan akhirnya harus kembali berjuang sendiri. “Memang percuma sih ribut sama pihak mereka. Selalu punya jawaban pamungkas, “Film kamu itu gak laku, gak ada promosi dan lainlain”. Intinya, gimana mau balik modal kalau dikasih layar aja sedikit dan harus berantem dulu,” kata Lola Amaria yang akan terus melawan dengan sebaik-baiknya, dan sehormat-hotmatnya.

Ketika persoalan dan pertanyaan yang sama diarahkan kepada Humas 21/XXI Chaterine Keng, WA penulis yang telah dikirimkan dan centrang (atau artinya sudah terbaca) sejak pukul 08.46 WIB sampai pukul 14.00 WIB belum mendapatkan tanggapan dari pihak 21/XXI. (benny benke – 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *