JAKARTA – Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menilaikekuatan lobi politik nantinya akan lebih mendominasi dalam seleksi anggota dan pimpinan Badan Pengawas Keuangan (BPK) ketimbang kompetensi yang dimiliki para calon pejabat publik tersebut.

“Dalam pemilihan pimpinan BPK, saya nilai yang lebih mendominasi adu kekuatan lobi. Bukan adu kompetensi yang menang. Tapi ini bukan suap. Tapi lobi dengan menggunakan kekuatan politik, karena BPK adalah institusi negara yang strategis. Yang diaudit mulai dari pusat sampai daerah,” kata Ucok dalam diskusi bertema “BPK dalam Pusaran Kepentingan Politik dan Profesionalisme” di Pressroom Gedung DPR MPR, Senayan, Jumat (12/7/2019) siang.

Selain Ucok, narasumber diskusi tersebut adalah, Ketua Umum Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tarkosunaryo, Anggota Komite IV DPD, Siska Marleni, dan Anggota Komisi XI DPR Johnny G. Plate.

Menurut Ucok, bila hanya mengandalkan kekuatan lobi politik untuk mencari pimpinan BPK, dan mengalahkan kompetensi di bidang audit, maka BPK tidak bisa diandalkan sebagai lembaga antikorupsi. Dan WTP juga menjadi rentan dimainkan untuk kepentingan tertentu. Dia khawatir ada pihak yang ingin pimpinan BPK bukanlah sosok yang ahli di bidang audit, karena demi kepentingan politik pihak tersebut.

Senada dengan Ucok, Tarkosunaryo menyayangkan tidak lolosnya, mereka yang memiliki sertifikat kompetensi dibidang auditing, dan berpengalaman, yaitu pemilik sebutan Certified Public Accountant (CPA).

“Kami menyayangkan mengapa yang pemilik CPA tidak ada yang lolos.  Padahal, mereka itu selama ini telah menjadi bagian dari tim pemeriksa di BPK. Bicara soal audit laporan keuangan maka asosiasi profesi yang membidangi auditor laporan keuangan adalah IAPI, sehingga keterwakilan seorang auditor yang memegang sertifikasi CPA menjadi salah satu simbol komitmen bagi para pimpinan BPK dalam menerapkan profesionalisme dan menjamin kualitas pemeriksaan,” jelas Tarkosunaryo.

Dan sejak tahun 2009, lanjut dia, dua orang pemegang CPA menjadi bagian dari kepemimpianan di BPK. Mereka adalah Sapto Amal Damandari dan Moermahadi yang kini memimpin BPK.
“Dengan berakhirnya masa tugas Pak Moermahadi pada bulan Oktober 2019, praktis tidak satupun pemegang CPA dalam kepemimpinan di BPK. Padahal dengan adanya pimpinan yang kompeten, maka permainan di bawah, bisa mudah terdeteksi. Karena pimpinan ini adalah orang yang matang di lapangan. Maka demi kepentingan publik, harus ada pimpinan yang kompeten dalam hal auditing,” kata dia. (htn/69)