- Life Style

Lebaran, Keadilan dan Persatuan.

Semarang, Suaramerdeka.NewsActung Achtung! Bismillahirohmanirohim.

Saat ini sedang dimulai, tetiba, siapapun dia, dengan riang hati menjadi perangkai kata yang ulung. Menjelma penyair dadakan yang wibawa. Lalu, menerakan status di laman sosialnya masingmasing dengan katakata mutiara nan bercahaya. Dengan kandungan maknawi, nyaris mendekati surga. Dan hal seperti ini, adabnya terjadi setahun sekali, menjelang Hari Raya tiba.

Kurang lebih seperti ini,

//Ketika mulut tak mampu berucap/ Ketika telinga tak mampu mendengar/ Ketika tangan tak mampu berjabat erat/ Dan ketika kaki tak mampu lagi melangkah…/ bla bla bla…//

Atau : //Jika berjalan seringkali aku tersandung./ Jika berlari seringkali aku terjatuh./ Jika bicara seringkali aku salah. /Jika bertindak seringkali aku salah arah// bla bla bla

Menurut saya, jika Anda mengalami hal seperti di atas, dengan semangat canda, lekaslah, bergegas menuju Rumah Sakit terdekat.

Jangan menunggu Idul Fitri tiba, bersegeralah bawa diri Anda ke ICU/UGD, barangkali fatal “penyakit” Anda sekalian…

Lalu, lebih waspada lagi jika ada himbauan dari siapapun dia, yang mengaitkan Idul Fitri dengan semangat menjalin kembali semangat persatuan dan kesatuan. Setelah sempat koyak atau sengaja dikoyak, lantaran perbedaan pandangan politik yang nganga, dan sampai kini belum purna juga. Karena penyelenggara negara berdiri pada posisi yang tidak sepatutnya.

Anda boleh berlebaran, tapi bukan berarti kehilangan KESADARAN. Tersebab, mengabaikan KEADILAN tapi terus mengharap PERSATUAN, adalah KEMUSKILAN.

Bagi para penuntut KEADILAN, BERSATU dan PERSATUAN bukanlah tujuan….

Ingatlah apa yang diserukan Thomas Jefferson: “When injustice becomes law, resistance becomes duty.”

Ketika ketidakadilan menjadi hukum, perlawanan menjadi tugas (kewajiban).

“If law is unjust, a man is not only right to disobey it, he is obligated to do so”.

Jika hukum tidak adil, manusia tidak hanya berhak untuk tidak menaatinya, ia juga wajib melakukan perlawanan atas ketidakadilan itu.

Met Lebaran semua. Salaman. Semoga selalu happy, siapapun pemimpinnya.

NB: Menukil pikiran Dr.Polit.Sc.Henny Saptatia Sujai, S.S., M.A, Kepala Jurusan Program Studi Kajian Wilayah Eropa, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, UI. (Benny Benke dan Penikmat Mie Jowo, pendukung pemimpin jurdil -69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *