- Kolom Esai

Lebaran dan Kematian.

Semarang, Suaramerdeka.News — Setiap Lebaran tiba, kematian senantiasa mengingatkan, betapa jaraknya dengan kehidupan setipis benang. Demikian paling tidak yang saya pahami dari setiap datangnya Lebaran.

Lebaran lalu, saya menziarahi maqam bapak. Lebaran tahun ini ngendangi maqam bapak dan ibu mertua.

Kita semua tentu sangat paham sekali. Kematian bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Saat kita siap menyambutnya atau tak siap sama sekali. Saat kita sangat ketakutan menyambut kedatangannya, atau justru penuh keriaan menyilahkan masuk ke rumah kita.

Oleh karenanya ada ungkapan “Orangorang yang penuh kedalaman tak gentar pada kematian” (People living deeply have no fear of death). Karena manusia semacam ini, lebih mengutamakan kedalaman hidup, alihalih panjang umur, tapi semenjana kualitasnya, (It is not length of life, but depth of life).

Meski kita juga sangat paham sekali. Kita, manusiamanusia semenjana ini, mempunyai ketakutan naluriah atas kematian. Kita cenderung menghindari kematian dalam pikiran dan tindakan kita.

Meski andai kita bisa melupakan ketakutan kita atas kematian sebentar saja, konon kita bisa melihat lebih jelas betapa menarik konsep kematian sebenarnya. Dan “dia” tidak terlalu menakutkan. Atau bahkan tak perlu ditakuti sedikitpun.

Karena, sebagaimana bijak bestari menasehati, seharusnya kita tidak berduka atas kematian orang yang kita kasihi. Karena orangorang terkasih yang telah pergi itu, telah meraih kemenangan spiritual tertinggi. Jadi mengapa harus ditangisi.

Sayangnya, sampai saat ini kita masih manusia semenjana. Yang cenderung masih gentar pada kematian, dengan prasangka yang bukanbukan di benak kita. Seolah kalau kita mati saat ini, anak istri kita ngga ada yang ngurusi! Seolah Tuhan lepas tangan dan tutup mata kepada orangorang terkasih, saat kita telah pergi.

Singkatnya, kita buruk sangka dengan kehidupan. Seolah kalau kita mati saat ini, kehidupan akan menelantarkan orangorang terkasih.

Padahal, guru agama mengajarkan, serahkan semua kepada Gusti Allah, maka Dia akan menyelesaikan segalanya. Termasuk soal sepele ihwal orangorang terkasih yang bakal kita tinggal ke alam baka. Allahualam Bisawab. (benny benke -69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *