“Kepaduk” Film Terbaik Ko’Nobar 2019

PURWOKERTO – Film pendek bertajuk Kepadukgarapan sutradara Ifentigo Nalika, meraih penghargaan Film Terbaik ajang Ko’Nobar yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Apresiasi diberikan usai sesi pemutaran 12 film garapan mahasiswa di Aula kampus setempat, Kamis (18/7).

Pemeran film Kepaduk, Anastasia Leony mengaku sangat senang lantaran filmnya tersebut mampu meraih penghargaan. Meski banyak kendala teknis selama proses pembuatan film.

“Penghargaan ini menjadi penyemangat kami untuk kembali berkarya,” ujar Anastasia.

Adapun film yang diproduksi Sakala Production ini mengisahkan perempuan bernama Ndayum yang bersifat ambisius, perfeksionis dan memiliki hobi menulis serta melukis. Suatu ketika, saat menulis puisi dan kehabis kertas, Ndayum menemukan kotak hitam di dalam kardus. Ternyata kotak tersebut berisi kain hitam dan pensil yang dapat mewujudkan segala keinginnnya melalui gambar yang kemudian yang ditutup oleh kain hitam.

Ndayum yang ingin merasa sempurna mengenakan kain itu. Dampaknya justru membuat perempuan itu frustasi dan gila. Ajang ini juga memberikan penghargaan kepada 2 film terbaik pilihan Dewan Juri yang terdiri dari pegiat film Purbalingga, Bowo Leksono dan dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Edy Santoso. Terbaik kedua, diraih film Apirowang garapan Pinandi Sultan dan Mukhammad Aryf (Anu Production), serta Terbaik Ketiga diraih film berjudul Harus garapan sutradara Palomita Zain (Mendadak Production).

Penghargaan lainnya, yaitu Best Poster diberikan untuk film Susuk Sukma (Mahajana Production), Best Actress diberikan pada Anastasia Leony (Kepaduk), Best Actor diberikan pada Yoga Prasetya (Belum 5 Menit).

“Saya harap ajang ini mengawali semangat perfilman kampus di Purwokerto yang sebenarnya sudah ada lahir sejak tahun 2001 lalu. Setidaknya ada 4-5 film yang layak diputar di luar kampus,” kata salah satu juri Bowo Leksono.

Menurut dia, film mahasiswa memiliki ciri khas yang unik. Namun, masih membutuhkan referensi cerita dan isu yang beragam. Di sisi lain, sebuah film pendek juga perlu menonjolkan sisi lokalitas.

Ketua panitia Ko’Nobar, Michael Purba mengatakan, sejatinya perguruan tinggi di Banyumas mampu menghasilkan talenta perfilman. Terakhir, ada karya mahasiswa Ilmu Komunikasi yang diputar di layar bioskop.

“Sebenarnya kampus tuh banyak talenta. Cuma memang kurang berani tampil,” ujarnya.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed, Wiwik Novianti berharap even ini menjadi tonggak untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas perfilman di Banyumas. Hal ini menjadi pemicu untuk menggelar ajang yang melibatkan insan perfilman lebih banyak lagi.

“Kami akan gelar festival yang lebih besar lagi dan konten yang lebih beragam. Titik awalnya ya dari angkatan 2017 ini,” kata dia. (K35-52)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort