Iskandar K. Loedin: Mengalir Seperti Air.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Jalan hidup bekerja dengan cara paling ajaib. Setidaknya demikian yang dialami Iskandar Kama Loedin, atau sohor dengan nama Iskandar Loedin. Seniman “cahaya” kelahiran Surabaya, 4 November 1960 itu mengawali profesi sebagai Lighting Designer atau Penata Cahaya pada awalnya bukan berangkat dari kesadaran. Bahkan tidak terbersit juga terucap sebagai cita-cita dari kecil. Meski pada dasarnya Loedin kecil, sudah suka dan bermain main dengan dunia seni.

Bahwa Loedin yang pernah belajar di fakuktas Seni Rupa meski hanya bertahan selama 1 semester, akhirnya menetapkan hatinya di dunia penata cahayaaan, tersebab menurut dia, dunia Seni Rupa terlalu individul. “Paling tidak dalam pola kerjanya, ” kata si empunya nama kepada Danny Fe di Jakarta, barubaru ini.

Sebelum akhirnya Loedin menjatuhkan pilihan di dunia Seni Pertunjukan yang menurutnya sangat menarik, karena pola kerjanya Team Work. “Tapi itupun gak tau waktu pertama kali terlibat cuma senang aja, ikut-ikutan. Belum terpikir akan menjadi Penata Cahaya. Tapi lama-lama terarah ke Lighting. Karena mungkin dari aspek Seni Pertunjukan, Lighting-lah yang paling visual,” imbuh Loedin sembari menambahkan pada dasarnya dirinya menyengani segala hal yang berhubungan dengan Visual Arts.

Iskandar K. Loedin. (SMNews/Doc)

“Jadi semua seperti mengalir terjadinya, karena memang susah di sini (Indonesia) kan belum ada pendidikkan formal untuk Lighting sampai sekarang. Kalaupun ada kelas Lighting seperti di IKJ misalnya, tapi masih menjadi bagian dari Tata Artistik Panggung. Yang khusus ngomongin Lighting belum ada,” katanya yang memprihatinkan minimnya jalur pendidikan tata lampu di lembaga pendidikan resmi di Indonesia.

Oleh karenanya dia berharap, ke depan ada lembaga Pendidikan Formal untuk Penata Cahaya di Indonesia. Karena, menurut Loedin, permintaan atau demand-nya untuk profesi ini mulai terasa. “Saya rasa kalau ada sekolah formil untuk Lighting Designer pasti akan banyak peminatnya,” kata Loedin meyakini.

Loedin, anak ke-3 dari 5 bersaudara ini, sejatinya malah belajar fomal dari Fakuktas Sosial Ekonomi Pertanian di IPB, dan lulus tahun 1988. Tapi, setelah lulus, dia tidak pernah bekerja di bidang itu. Bahkan setelah diwisuda, sepenceritaannya, dirinya malah ikut tur bersama Putu Wijaya.

“Pas saat itu Putu Wijaya lagi ‘ngamen’ ke Bandung, Salatiga, Surabaya, dan Denpasar, terus saya mikir..aah males aah, kemudian saya ikut aja. Aku jadi gak punya foto wisuda,” katanya terkekeh sambil mengenang.

Walaupun tidak bekerja di bidang yang dipelajarinya saat kuliah di IPB, bukan berarti pula ilmu dari bangku kuliah tidak terpakai. Karena dia sangat meyakini, pengetahuan, pengalaman, dan sistematika berpikir di bangku kuliah menurut dia, tetap terpakai.

Dan untuk menajamkan keilmuaannya di bidang tata cahaya, Loedin akhirnya mengambil pendidikan Non-Formil. Yaitu mengikuti dua program Lighting di Amerika. Pertama 1992-1994 di North Carolina. Kedua tahun 2001-2002 setelah mendapatkan beasiswa lagi untuk belajar Skenografi Panggung (Stage & Lighting Design) di Yale School of Drama di Connecticut, AS

Skenografi.

Iskandar K. Loedin (SMNews/Doc)

Pengertian Skenografi menurut Iskandar K. Loedin bukan hanya membahas persoalan Lighting, dan Panggung belaka. Tapi membahas tentang seluruh aspek audio visual dari panggung. Termasuk mengarahkan kostum, panggung, lighting, juga multimedia.

“Jadi dia yang membuat konsep secara keseluruhan. Dalam pelaksanaan nya nanti ada asisten, yaitu Lighting Designer, Kostum Designer, dan lainnya. Mungkin kalau di film seperti Production Designer, kalau di event seperti Art Director atau Pengarah Artistik,” jelas Loedin teknis.

Srintil. (SMNews./Doc)

Berkat kemampuannya dalam bidang skenografi ini pula, Loedin pernah bekerja sebagai Theater Manager di Jakarta International School (JIS) tahun 1990-1992. JIS memiliki Gedung Teater bernama The Fine Arts Theater, dengan kapasitas 750 kursi dan Proscenium Stage. Sebelum akhirnya, dia memutuskan untuk fokus berprofrsi sebagai penataan cahaya.

Setelah itu, Loedin berkisah tentang suka duka dunia yang sangat dicintainya itu. Sebagaimana pekerjaan lainnya di muka bumi ini, menurut Loedin, sukanya lebih banyak jika seseorang mencintai pekerjaannya. “Sukanya selalu menyenangkan di tiap proses produksi, dan karena berhubungan dengan banyak orang. Tiap proyek selalu bertemu dengan orang yang berbeda, sutradara yang berbeda, composer yang berbeda,” katanya.

Walaupun pada akhirnya sampai sekarang, dia acap berulang bertemu orangorang yang sama,”Tapi suasana kerjanya selalu baru karena base on project,” imbuh dia. Sedangkan dukanya, menurut dia, nyaris tidak ada, karena Loedin sangat menikmati berada di dunia seni pertunjukan.

Meski demikian, menurut Loedin di dunia komersial, yang mencakup 2 jenis, yaitu Penata Cahaya untuk Seni Pertunjukan dan Penata Cahaya untuk Commercial Projects, acap menerbitkan frustasi. Tersebab klien maunya terlalu banyak.

“Payahnya klien tidak mengerti kemauannya itu mempunyai konsekuensi teknis, budget, dan macam-macam yang diluar bayangan mereka,” katamya.

Bahkan sering kali yang terjadi permintaan klien terlalu banyak tapi tidak bisa dipenuhi, karena sejumlah persoalan turunan teknis itu. “Kalaupun budget ada, gak bisa dilakukan karena budget itu kan bukan hanya nilai uang semata, tetapi juga waktu. Jadi misal waktu persiapan yang hanya sehari, bagaimana kita membuat sebuah pertunjukan besar yang persiapannya hanya sehari? Akhirnya grabak-grubuk, cuma capek, semua tidak tercapai..jadi ujungnya seringkali selesai pertunjukan bukan happy malah merasa frustasi,” terangnya.

Iskandar K.Loedin (SMNews/Doc)

Dengan sejumlah pengalaman panjang penggiat seni sekelas Loedin, apa pencapaian terbesarnya selama menjalani profesi Penata Cahaya dan Skenografer?

Perihal hal itu, Loedin mengaku tidak terlalu memikirkannya, karena dia melihat sebuah show bukan dari kuantitasnya, tapu kualitasnya. “Sekarang ini malah yang aku kerjakan hanya untuk show-show kecil, tapi benar-benar selesai dan bagus,” katanya merujuk sejumlah pertunjukan yang ditanganinya.

Seperti tahun ini dia hanya melakukan tur untuk tari solo (tunggal), setelah tahun lalu turut menggelar tur dengan Eko “Pece” Supriyanto. Bandingkan saat tahun 2015, lalu, Loedin bisa sampai melakukan tur di 30 kota, demikian halnya di tahun 2016, bahkan lebih banyak tur yang dilakukannya. “Tahun ini aku hanya dengan 1 koreografer, Riyanto. iytu hanya tari solo di atas panggung dengan 1 musisi. Jadi kalau kita tur cuma bertiga,” katanya.

Selendang Merah. (SMNews/Doc)

Meski tur dalam lingkup kecil, menurut Loedin sama nilainya dengan sebuah pertunjukan berskala besar. Seperti saat dia turut tur dengan Garin Nugroho untuk lakon Setan Jawa atau Opera Jawa, yang sekali tur atau jalan melibatkan hampir 40 orang.

“Karena toh sama aja buat aku nilai kepuasannya,” kata Loedin yang mematok kepuasan tertinggi dengan memegang parameter kepuasan penonton. “Pada saat kita liat penonton mengapresiasi pertunjukan tersebut. Walaupun hanya dengan pertunjukan tunggal tapi apresiasi pertunjukan besar atau tinggi, saya ikut terpuaskan. Jadi, selalu ukurannya dari penonton,” katanya berfilosofi.

Guru Guru Dunia.

Iskandar K. Loedin mengaku pertama kali tertarik dengan Seni Pertunjukan karena menyaksikan aksi Julie Taymor. Saat Taymor menggelar karya kolaborasi dengan seniman-seniman Indonesia sekitar tahun 1976. “Julie Taymor itu yang bikin musikal Lion King di Broadway dan banyak karya-karya pentas lainnya,” kata Loedin mengingatkan.

Awal tahun 1970-an Julie Taymor tinggal di Indonesia dan belajar banyak dari Seni Pertunjukan di Indonesia, sambil Taymor membuat sebuah pertunjukan, yang saat itu turut disaksikan Loedin kecil saat masih duduk di bangku SMP.

“Tapi itu pertama kali saya melihat Tamer dan langsung tercengah, Ooh, ini menarik yaa…di panggung ada orang dengan kostum yang didisain sedemikian rupa, padahal waktu itu pencahayaan ditata dengan sederhana banget. Dengan lilin-lilin, dan sebagainya. Dan saya berpikir, ada yaa bentuk media seni yang seperti ini”, kata Loedin berkisah.

Nyanyi Sunyi…. (SMNews/Doc)

Itulah awal ketertarikan Loedin ke Seni Pertunjukan. Setelah itu, sampai sekarang Loedin mengaku masih mengikuti karya-karya Julie Taymor yang menurut dia, masih luar biasa. “Beliau sekarang mengerjakan Film, Opera, media seni lainnya “.

Sedangkan nama Lighting Designer yang Loedin kagumi adalah sosok guru di mana dia belajar secara langsubg. “Namanya Jennifer Tipton ..Lighting Designer yang mengajari saya ketika sekokah di Yale School of Drama,” ujar Loedin sembari melanjutkan dia merasa beruntung sekali akhirnya saya bisa menjadi muridnya Tipton, karena awalnya impian menjadi murid Tipton adalah sebuah obsesi. “Waah..asik bangett kalau bisa belajar sama dia. Dan akhirnya menjadi kenyataan”.

Loedin kali pertama ketemu Tipton tahun 1994 saat dia magang di American Dance Festival, “Dia bikin show dan saya suka sekali dengan gaya Lighting-nya. Terus tahun 2001 saya bisa menjadi muridnya. Jadi sekitar 7 tahun dari yang awalnya sebuah obsesi menjadi kenyataan untuk bisa belajar kepada Jennifer Tipton,” kata Loedin.

Srintil. (SMNews/Doc)

Di dunua Seni Pertunjukan itulah, dua orang itulah yang pertama kali mempengaruhi dan menyadarkan Loedin bahwa Seni Pertunjukan itu bisa menjadi menarik. Khususnya Jennifer Tipton yang akhirnya mengajarkannya secara langsung dan membuat dia bisa menuai hasil seperti sekarang.

“Jennifer Tipton tahun ini usianya 82 tahun kalau tidak salah, dan tahun ini dia menjadi nominasi Lighting Designer Terbaik di Tony Awards di New York,” pungkas Loedin ihwal guru yang sangat dihormatinya itu. (benny benke – 69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *