Irigasi Otomatis Antisipasi Embun Beku

YOGYAKARTA – Belum lama ini embun beku atau yang dikenal masyarakat dengan istilah embun upas muncul di kawasan Dieng, Jawa Tengah. Embun upas terjadi akibat suhu ekstrem sehingga embun menjadi butiran es.

Meskipun embun upas merupakan fenomena alam biasa tapi kemunculannya yang terus terjadi setiap hari berdampak pada tanaman pertanian di sekitar Dieng. Banyak tanaman sayuran seperti kentang, wortel, kubis, cabai dan tomat menjadi tertutup embun upas bahkan bisa-bisa mati.

Ketika terjadi embun upas, umumnya petani akan melakukan penyiraman pada lahan pertaniannya untuk mencairkan es yang menempel pada tanaman. Namun, penyiraman yang dilakukan menyebabkan kelebihan air pada tanah (drainage stress) dan meningkatkan potensi serangan hama dan penyakit tanaman. Hal tersebut terjadi karena jumlah air yang disiramkan melebihi kebutuhan air tanaman.

“‘Sistem penyiraman pada tanaman muda menyebabkan kerusakan batang, cabang, daun karena embun es dan pukulan air irigasi sistem semprot menambah beban tanaman,” ungkap Kholishotul Ma’rifah, mahasiswa Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM, kemarin.

Ia dan rekannya Setiyawati dan Denis Tio Yudhistira serta Muhammad Fiqi Rohman dari Sekolah Vokasi memperkenalkan metode untuk menangani persoalan tersebut. Metodenya dinamai Mist Irrigation Pencegah Embun Upas yang disingkat Misi Hempas sebagai upaya peningkatan produktivitas sayuran kelompok tani di wilayah Dieng. Teknologi ini lahir melalui kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa-Teknologi (PKM-T) di bawah bimbingan Dr Ngadisih.

Metode karya mereka telah diujicobakan pada Kelompok Tani Tamansari di Desa Leksana, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara. Alat dipasang di lahan pertanian milik salah satu anggota kelompok Tamansar, Sugiyanto. Lahan tanaman cabai diberi irigasi sprinkle otomatis dan petak lainnya diberi perlakuan kontrol irigasi siram manual.

”Sistem irigasi sprinkle otomatis dibuat dengan menggunakan pompa air untuk mengalirkan air dari tampungan. Pompa air dihubungkan ke mikrokontroler bebasis Arduino Uno dengan menggunakan sensor DHT11 untuk membaca suhu dan kelembaban udara lingkungan. Pada bagian mode otomatisnya digunakan relay 1 pin yang berfungsi sebagai saklar yang dihubungkan antara pompa dengan mikrokontroler,” papar Ma’rifah.

Ia menjelaskan rangkaian irigasi sprinkle telah diuji di laboratorium Teknik Sumberdaya Lahan dan Air FTP UGM dan menunjukkan keseragaman tetesan 80 persen. Sistem irigasi sprinkle diseting menyala ketika suhu udara mencapai kurang dari 10 derajat Celcius dan kelembapan udara lebih 80 persen. Alat akan mati ketika suhu udara lebih 10 derajat Celcius dan kelembapan udara kurang 80 persen.(Agung PW-26)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort