Ikuti Kagama Yuk Motret, 51 Peserta Diberi Tips Memotret yang Unik

 
JAKARTA– Sebanyak 51 peserta yang terdiri atas alumni UGM dan penghobi fotografi dari Jakarta dan sekitarnya, turut meramaikan acara Kagama Yuk Motret II di Bendungan Ciawi, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor. Kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama) tersebut, mengambil topik “Story Telling in Travel Photography” dengan mengundang sejumlan narasumber, yaitu Arbain Rambey (fotografer profesional), Marrysa Tunjung Sari (fotografer profesional &travel writer), dan Raiyani Muharramah (travel photographer &writer). 

Ketua PP Kagama Bidang Fasilitasi Alumni, Bambang E. Marsono mengatakan kegiatan Kagama Yuk Motret merupakan program rutin PP Kagama bertujuan meningkatkan kemampuan fotografi alumni UGM peminat fotografi dengan menghadirkan fotografer profesional untuk memberikan latihan dan kiat praktis fotografi. 

“Kemampuan memotret yang baik amat penting di era yang serba digital ini. Kagama Yuk Motret  merupakan program kegiatan kedua, selanjutnya akan terus dilaksanakan secara rutin baik melalui kelas sharing session maupun hunting foto bersama,” ujar Bambang E Marsono. 

Fotografer profesional dan travel writer, Maryssa Tunjung Sari ikut memberikan tips bagaimana mengambil sudut pandang foto yang diinginkan. Menurut perempuan yang akrab disapa Sasha ini, sebuah foto bisa memberikan cerita yang serupa dengan 1000 kata. Namun, belum banyak orang  tahu mengenai cara menghasilkan foto yang bercerita, bahkan, bisa menarik ribuan likes dari para follower di media sosial. Sasha mengatakan, konten suatu foto sebaiknya unik. Yakni sesuai dengan kebutuhan atau tujuan si story teller foto.

“Konten yang didasarkan bukan pada pengalaman langsung sang pencerita tidak akan memiliki ‘rasa’ dan tidak akan memancing orang untuk mengikuti cerita tersebut,” kata Sasha. 

Sasha menambahkan, seorang story teller yang baik akan memberikan cerita, tidak hanya caption. Selain itu, dia juga melihat pentingnya mencermati dan  melihat respons  publik berupa like atau comment terhadap posting yang diunggah. 

Menurutnya, comment merupakan sarana berinteraksi antara fotografer dengan follower atau netizen. Karena itu, masih kata Sasha, fotografer tidak mesti tahu segala hal. “Komentar dari follower akan memberi tahu apa yang fotografer tidak tahu dan dapat menjadi inspirasi berikutnya,” ucap Sasha.

“Misal fotografer tidak tahu salah satu jenis buah dalam makanan asinan. Follower juga akan memberi tahu dan memberi ide foto atau travelling berikutnya,” terangnya.

Sasha juga mengatakan ada tiga kunci utama keberhasilan dalam fotografi travel. Hal itu adalah natural, jujur, dan kontekstual. Tiga kunci tersebut yang membedakan fotografi dengan rasa dan sekadar mengambil gambar. Namun, di luar soal rasa penting juga memahami komposisi foto. Untuk itu, Sasha menganjurkan agar seorang fotografer memahami   komposisi dalam fotografi. Terlepas dari itu, dia tidak mempermasalahkan perangkat apa yang dipakai untuk bisa menghasilkan foto yang oke.

“Foto dapat diambil dengan menggunakan kamera DSLR, kamera pocket, atau handphone,” ujar Sasha. “Saat ini handphone lebih praktis dan digunakan hingga 85% oleh pemotret. Mengambil gambar dengan menggunakan HP juga lebih mudah dari sisi etika. Misal daripada memotret orang dengan menggunakan DSLR,” paparnya.

Pegiat organisasi Masyarakat Fotografi Indonesia ini pun memberikan enam tips sederhana dalam fotografi travel. Pertama, lakukan riset sebelum melakukan perjalanan. Misalnya, apakah lokasinya nanti di pantai atau gunung, panas atau hujan. Kedua, membuat foto proses,  yaitu proses dari titik A ke titik B. Misalnya, saat naik kapal laut atau pemandangan dalam perjalanan, atau saat menggunakan alat pengaman diri. Ketiga, membuat foto establishment spot (foto lokasi).

“Keempat, belajar menulis dengan prinsip bahwa kata hanyalah mengisi gap dari foto-foto yang ada. Kelima, ambil angle low level atau high level,” tutur Sasha.

“Keenam, foto sequence. Yaitu foto urut-urutan dari sebuah proses. Misal foto 1 booth penjual makan, foto 2 proses memasak, foto 3 saat makanan disajikan. Foto ini akan bercerita secara dinamis tanpa banyak kata,” pungkasnya. (ami/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *