Ifa Isfansyah: Keputusan Dewan Juri Komite Oscar Berani.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Ifa Isfansyah sedang bahagia. Setelah dua tahun lalu film Turah, yang juga diproduksi Fourcolours dipilih dewan juri Komite Oscar 2017, untuk mewakili Indonesia di ajang Foreign Language di Academy Awards 2018. Tahun ini, film Kucumbu Tubuh Indahku kembali ditunjuk anggota dewan juri Komite Oscar 2019 , kembali mewakili Indonesia di kategori yang sama untuk gelaran Oscar 2020.

Apa yang membuat Ifa dengan Four Colours-nya begitu lihai menghasilkan film berkualitas. Sehingga sampai dua kali ditunjuk mewakili Indonesia di ajang bergengsi sekelas Oscar? Berikut wawancara Suara Merdeka dengan Ifa yang juga suami Kamila Andini. Anak Garin Nugroho, sutradara Kucumbu Tubuh Indahku

  1. Setelah diputar di banyak tempat dan festival, dan yang terkini mendapatkan perlakuan kurang pas di Semarang, film Kucumbu…oleh Komite Oscar 2019 atau The Indonesian Academy Awards Selection Committee, dipilih mewakili Indonesia di ajang Oscar 2020? Apa komentar Ifa sebagai produser film ini.
     
    Yang pertama ini jelas keputusan yang berani dari komite seleksi. Saya sangat respect dengan keputusan ini. Bukan hanya karena saya produser dari film ini, tapi artinya komite seleksi sudah sangat terbuka dengan keberagaman tema dan ini penting sekali untuk perfilman Indonesia. Bahwa msyarakan masih belum siap, tentu hal itu wajar terjadi di negara seperti Indonesia. Tapi semoga ke depannya akan semakin biasa menyikapi perbedaan perspektif dan keberagaman.
     
  2. Film ini banyak berbicara lewat bahasa simbol, tanpa mengurangi ketersampaian pesan yang ingin disampaikan. Penentuan bahasa simbolisme itu hak prerogatif sutradara atau hasil rembukan dengan tim? Bagaimana prosesnya.
     

    Saat saya memutuskan menjadi seorang produser, saya ingin menjadi produser untuk project-project film yang “Director’s Driven”. Saya bukan produser yang memilih cerita kemudian memanggil sutradara untuk mengeksekusi berdasarkan visi saya. Harus merupakan visi sutradara, baik statement maupun visi kreatif. Saya mengikuti visi tersebut, memberi ruang, dan menghitung penyesuaian visi tersebut dengan investasi yang masuk akal. Karena bagaimanapun juga pada akhirnya tetap berpikir bagaimana cara mempertemukan film (statement) tersebut pada penonton. Jadi bisa dibilang 100% adalah visi sutradara, visi yang juga saya sepakati.
     
  3. Dari mula isu yang diangkat dalam film ini beririsan dengan isyu LGBT, sebuah pilihan yang berjarak, bahkan berpunggungan dengan isyu umum masyarakat Indonesia. Meski justru menjadi isyu kesetaraan di mancanegara (Eropa/AS), bagaimana tim menyiasatinya.
     
    Sebenarnya kami tidak pernah ada niat sedikitpun untuk membuat film LGBT. Maksudnya LGBT tidak kami letakkan di layer pertama diskusi atau pembuatan film ini. Kami berpicara tentang gender dalam hubungannya dengan budaya di Indonesia. Bahwa yang disebut sebagai LGBT itu sudah organik ada di dalamnya. Dan oleh karena itu film ini menjadi sangat penting bahwa isyu tersebut bahkan sudah ada di pondasi budaya ini. Tergantung dari perspektif mana isyu tersebut dilihat. Banyak sekali yang hanya melihat dari permukaan dan langsung tidak setuju dengan film ini.
     
  4. Setelah ditetapkan sebagai pemenang dan dikirim ke panitia Academy, apa harapan Ifa kepada negara (Pusbangfilm, Kemendikbud) sebagai bentuk dukungan pada film ini agar total berkompetisi di Oscar?
     

    Saya sangat berharap sekali film ini tetap terus dianggap sebagai film Indonesia yang mewakili Indonesia di ajang Oscar 2020. Karena yang seringkali terjadi, saat film tersebut dipilih sebagai film Indonesia, tapi setelah terpilih diserahkan begitu saja kepada produser atau individu pemilik film untuk berjuang sendirian. Mengkampanyekan film tersebut di academy awards bersaing dengan 90 film berkualitas yang lain. Sudah saatnya pemerintah tidak hanya membentuk tim pemilih, tapi juga tim promosi sekaligus dengan dukungan pembiayaannya, karena ini merupakan kepentingan kita bersama, bukan hanya kepentingan pribadi pembuat film. Di tahap ini saya sudah bekerja sama dengan publicist di LA dan sudah ada plan yang jelas tentang rencana promosinya. Sudah saya sampaikan juga ke Pusbang Film dan Bekraf semoga bisa didukung secara maksimal.
     
  5. Ini adalah film kedua Fourcolours setelah Turah yang menang dan juga dikirim ke ajang yang sama. Ada ramuan khusus Fourcolours membuat  film, sehingga acap merajai sejumlah festival film?
  6. Kami tidak pernah membuat film untuk memenangkan awards dan sebagainya. Tapi mungkin karena kami selalu membuat film yang director’s driven. Statemen dan voices sutradara menjadi sangat penting untuk disuarakan. Dan suara-suara tersebut menjadi susah sekali terdengar jika dibenturkan dengan kepentingan bisnis/material. Saat visi sutradara diletakkan di layer pertama, suara di dalam film tersebut menjadi lebih jujur dan terdengar. Dan disitulah kekuatan film muncul. Kami senang sekali bisa membantu menyuarakan suara-suara sutradara tersebut, baik bakat-bakat baru seperti Wicaksono Wisnu Legowo (Turah) maupun sutradara veteran seperti Garin Nugroho (Kucumbu Tubuh Indahku). (benny benke-69) .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *