Historiografi Srihadi.

Jakarta, Suaramerdeka.News
Srihadi Soedarsono, kelahiran Solo, 4 Desember 1931, sejak usia dini suka menggambar. Saat jadi pelajar, dia bergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bagian Pertahanan pada 1945 dengan tugas membuat poster, grafiti, menulis slogan yang mengobarkan semangat juang di dinding-dinding besar dalam kota dan gerbong-gerbong kereta api.

Lalu masuk sebagai staf Penerangan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Penerangan Tentara Divisi IV TNI di Solo. Kegiatannya membuat brosur militer dan menggambar sketsa peristiwa penting untuk dokumentasi karena saat itu tidak ada kamera.

Pada 1946, dia bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM) di Solo dan belajar dengan pelukis-pelukis perintis seni lukis Indonesia, seperti Sudjojono dan Affandi. Sewaktu bergabung dengan Kementerian Urusan Pemuda Republik Indonesia yang berlokasi di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta, Srihadi juga berada di sana bersama Sudjojono untuk menegakkan perjuangan Indonesia melalui seni rupa.

Belanda ditarik dari Indonesia pada Desember 1949. Alih-alih meneruskan bekerja di ketentaraan, Srihadi memilih meneruskan sekolah yang sebelumnya pernah terhenti, dan menerima beasiswa. Dia bersekolah di SMAN 1 Margoyudan, tamat 1952.

Selepas SMA, Srihadi melanjutkan kuliah di Balai Pendidikan Universiter Guru Seni Rupa Fakultas Teknik UI yang untuk sementara berkedudukan di Fakultet Teknik Bandung (belum jadi ITB). Pada tahun 1959, Srihadi Soedarsono merancang logo untuk ITB yang digunakan hingga saat ini.

Dia tidak memilih kuliah di ASRI Yogyakarta karena sudah mengenal para tenaga pengajarnya saat dulu remaja aktif di sanggar di Yogya dan Solo. Di SIM, Srihadi mengalami Mazhab Yogya malah dari tangan pertama, Sudjojono dan Affandi. Alasan lain, dia ingin belajar hal baru di Bandung. Ketertarikan Srihadi pada pendekatan landscape lebih jelas dideskripsikan antara tahun 1954-1959 ketika beberapa kali berkunjung ke Bali.

Kunjungan yang paling penting adalah pada 1954. Dia tinggal di pantai Sindhu, Sanur, Bali yang saat itu masih sepi, selain ada perahu-perahu, upacara, dan perempuan Bali di pantai. Masa tersebut adalah masa Srihadi memikirkan apa yang dia cari dari seni lukis.

Dari momen-momen kontemplasi di Bali inilah Srihadi memahami arah karya-karyanya. Dan saat mengamati pantai, Srihadi menemukan fenomena alam bahwa antara langit dan laut selalu ada garis penghubung yang lurus, bersih, dan indah. Garis horizon. Semacam titik nol yang siap untuk dikembangkan.

Srihadi Soedarsono pensiun sebagai pegawai negeri sipil pada 1997 dan terus berkreasi hingga hari ini. Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh oleh Srihadi Soedarsono antara lain Tanda-Jasa “Bintang Gerilya RI” (1958), Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II (1958), Piagam dan Medali “Satyalancana Kebudayaan RI” (2004), Piagam dan Medali “Anugerah Sewaka Winayaroha”, Penghargaan Pengabdian Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional (2008), serta penghargaan dari internasional yakni The American Biographical Institute 2005 Commemorative Medal “Man of The Year” (2005). (Benny Benke — 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *