Harun Masiku Ditemukan!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

TEMUKAN dia, hidup atau mati. Kalau masih hidup di mana rimbanya. Kalau sudah mati di mana kuburannya. Semestinya perintah keras ini datang dari Ketua KPK Firli Bahuri terkait politisi PDIP Harun Masiku.

Calon anggota legislatif dari Daerah Pemilihan Sumatera Selatan I ini buron usai ditetapkan sebagai tersangka suap Pergantian Antar-Waktu (PAW) Anggota DPR RI periode 2019-2024 dari Riezky Aprilia kepada dirinya.

Sebenarnya Masiku hendak ditangkap dalam operasi tangkap tangan KPK, 8 Januari 2020, namun ada “invisible hands” yang disebut menghalanginya.

Perintah keras? Tapi tidak. Sebab, Firli ternyata lebih tertarik dengan perilaku individualnya sendiri yang kontroversial sehingga harus disidang etik.

Hingga 8 bulan berlalu, Masiku tak jelas di mana rimbanya. Ada yang berspekulasi dia telah “dihilangkan” untuk menghapus jejak keterlibatan pihak-pihak lain. Ada “invisible hands” yang diduga melindungi atau justru melenyapkan dia. Melindungi atau melenyapkan tujuannya sama: membungkam Masiku!

Akibatnya, Masiku hanya dapat ditemukan namanya dalam surat dakwaan dan vonis tiga terdakwa kasusnya.

Pertama, Agustiani Tio Fridelina yang divonis Pengadilan Tipikor Jakarta 4 tahun penjara pada 24 April 2020.

Kedua, Saeful Bahri yang divonis Pengadilan Tipikor Jakarta 1 tahun 8 bulan penjara pada 28 Mei 2020.

Ketiga, mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan yang divonis Pengadilan Tipikor Jakarta 6 tahun penjara pada 24 Agustus 2020.

Perlindungan atau penghilangan jejak Masiku dan pihak-pihak lain yang diduga terlibat pun terjadi di Pengadilan Tipikor Jakarta. Buktinya, majelis hakim menolak pernohonan Wahyu Setiawan untuk menjadi “justice collaborator”. Ada “invisible hands” yang diduga bermain di pengadilan.

Bila Wahyu “bernyanyi”, perkara bisa merembet ke mana-mana. Apalagi bila Masiku yang “bernyanyi”.

Wahyu dan Masiku, dalam konteks ini, bisa menjadi kotak Pandora. Bila dibuka, maka segala keburukan akan berhamburan keluar.

Sebab itu, nama Masiku, dan juga Wahyu, pasti juga ditemukan dalam benak elite-elite PDIP, terutama yang namanya pernah disebut terlibat.

Jika Masiku “bernyanyi”, mungkin akan terjawab mengapa penyidik KPK gagal menangkap dirinya.

Akan terjawab pula mengapa penyidik KPK gagal menggeledah kantor PDIP di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.

Pun akan terjawab apakah benar Wahyu bermain solo di KPU, tanpa melibatkan komisioner KPU lainnya, termasuk sang Ketua Arief Budiman yang disebut pernah bertemu Masiku.

Karakter korupsi itu berjemaah. Bagaimana bisa di KPU hanya Wahyu yang terlibat?

Begitu pun di PDIP, mengapa hanya Tio dan Saeful yang ditangkap? Tio dan Saeful hanya bidak-bidak catur. Keduanya bukan “decision maker”. Jika Masiku “bernyanyi”, bisa jadi PDIP akan diterjang tsunami.

Mengapa KPK “adem-ayem” saja? Bisa jadi karena menyangkut parpol berkuasa. Apalagi yang melakukan “fit and proper test” calon pimpinan KPK adalah DPR. Wajar jika ada “deal-deal” politik di sana.

Begitu pun bila ternyata “invisible hands” yang bermain di Pengadilan Tipikor adalah sosok-sosok politisi, karena para petinggi mereka di Mahkamah Agung (MA) yang melakukan “fit and proper test” adalah DPR. Wajar jika ada “deal-deal” pilitik di sana.

Kini, tugas KPK adalah menemukan fisik Masiku, bukan sekadar namanya. Atau sebenarnya KPK sudah tahu di mana Masiku berada, cuma tidak berani menangkapnya?

Atau memang Masiku benar-benar telah lenyap atau dilenyapkan? Biarlah waktu yang menjawab.

Karyudi Sutajah Putra: Pegiat Media, Tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort