Gus Mus: Saya Budaknya Remy Sylado.

Jakarta, Suaramerdeka.New –– Remy Sylado adalah maestro langka. Saya berhutang rasa dengan beliau banyak sekali. Bahkan saya tahu makna kata mata keranjang aslinya dari cerita apa, dari beliau. Beliau bisa bahasa apa saja. Arab , Urdu, Yahudi dan apa saja.

Demikian dikatakan Ahmad Mustofa Bisri (75) saat diberi waktu untuk menjadi salah satu pembuka pameran lukisan Maestro Remy Sylado di Balai Budaya Jakarta, Kamis (11/7) malam.

Mengenakan batik dan peci hitam khasnya, Gus Mus — demikian penyair dan kyai karismatis itu biasa disapa– melanjutkan, “Saya kenal beliau tahun 70 an saat beliau di (majalah) Aktuil dan mengasuh puisi Mbeling. Saya ngirim terus (puisi Mbeling), dan terus dimuat, tapi (saat itu) pakek nama samaran. Beliau baru tau (kalau saya yang ngirim) kemarin saat di Semarang. Dipikir saya orang Rusia,” kata Gus Mus disambut tawa hadirin, yang menyesak hingga ke pinggir jalan.

Gus Mus. (Suaramerdeka.News/Benny Benke)

Gus Mus yang mengaku datang khusus ke Jakarta, dari Rembang diantar anak perempuannya, demi menghadiri pembukaan pameran Remy Sylado, melanjutkan, “Makanya ketika beliau ndawuhi saya (untuk datang ke Jakarta), saya mau nolak gimana? Kata Sayidina Ali, ‘saya adalah budaknya orang yang mengajari aku, walau satu huruf saja’. Padahal beliau (Remy Sylado) mengajari saya lebih dari satu huruf, berkalimat kalimat. Makanya saya budaknya beliau. Semoga beliau awet muda atau awet tua, dan selalu kreatif, dan manfaat bagi sesama dan allah SWT,” kata Gus Mus diaminkan hadirin.

Renny Djayusman, Remy Sylado dan Gus Mus. (Suaramerdeka.News/Benny Benke)

Sejurus kemudian, Gus Mus menbacakan
Fragmen Doa. Yang berisi sanjung puji kepada Sang Pencipta Allah Taalla. Di akhir doanya, Gus Mus menekan suaranya pada bait penutup: // Kami berdoa sebagaimana Engkau perintahkan/ Maka, kabulkanlah sebagaimana Engkau janjikan.//

Pada detik ini pula, tepuk tangah menderas menyambut usainya pembacaan Fragmen Doa. Semua bertepuk tangan. Juga Sarwono Kusumaatmadja, Romo Mudji Sutrisno, Ronny Sompie, Ida Leman, Renny Djayusman, Tommy F. Awuy, Ilham Bintang, Jose Rizal Manua, Wina Armada Sukardi, dan sejumlah nama tenar lainnya.

Remy Sylado (74) , yang naik ke atas panggung sederhana, setelah Syahnagra — Kepala Balai Budaya Jakarta– memberikan sambutan, membalas ‘doa’ Gus Mus.

“Kalau orang lain didoakan muda terus senang. Saya tidak. Saya lebih suka menua sewajarnya. Saya rayu Gus Mus supaya mau datang (ke Jakarta). Terakhir ketemu Gus Mus saat kami samasama hadir di Semarang, menghadiri acara PWI Semarang,” kata Remy Sylado mengenakan batik dan sepatu berkelir merah.

Remy yang sebenarnya masih nggliyeng, bercerita, dirinya bisa tetap awet tua, karena menggemari susastra. “Saya bisa jadi awet tua karena dari kecil mengagumi puisi Joseph Brodsky. Salah satu judulnya, I Walked With God,” setelah itu dia menyanyikan syair puisi yang telah dilagukan itu, dengan gaya lagu pop tahun 70 an.

Romo Mudji S dan Remy Sylado. (Suaramerdeka.News/Benny Benke)

Sebenarnya Remy meminta Tommy F. Awuy mengiringi dengam instrumen organ. Tapi Tommy memilih tidak melunaskan keinginannya. Setelah sajak Joseph Brodsky, peraih Nobel Prize dalam bidang karya sastra tahun 1987, usai. Remy melanjutkan sambutannya.

“Untuk salah satu kawan saya yang hari ini kena vonis berita bohong, hoax. Jan Akkerman, dulu pernah membawakan lagu berjudul Hocus Focus. Aslinya katanya Hoax (lalu melaras menjadi hocus),” kata Remy sembari menyanyi lagu itu, yang dalam beberapa jeda lagu, ada teknik yodel.

Yodel atau Yodeling, katanya usai bernyanyi, adalah budaya bangsa Bas, perbatasan bangsa Prancis dan Spanyol. “Yodel untuk orang Minahasa dilakukan untuk manggil sapi,” katanya disambut gelak tawa.

Demikianlah pembukaan pameran lukisan Remy Sylado, yang memajang 33 lukisan cat minyak atas kanvas dan cat minyak atas kayu lapis, serta memajang 31 buku yang pernah ditulisnya, plus 6 album kaset yang pernah dinyanyikannya, dibuka.

Menurut Syahnagra, Balai Budaya Jakarta adalah tempat melahirkan banyak seniman dan dirindukan seniman. Dengan segala kesederhanaannya. Memgapa kali ini menghadirkan Remy Sylado? “Karena Remy Sylado ada di manamana dan pendobrak kotakkotak seni di negeri kita. Semua yang dipegang Remy menjadi hebat. Remy Sylado mulukis sejak duduk di bangku sekolah rakyat, sampi sekarang. Remy Sylado adalah contoh bagaimana membangun sebuah keindahan dan menghargai kesenian,” katanya.

Apakah lukisan Remy Sylado – yang akan dipamerkan mulai 11-19 Juli 2019 — telah memenuhi, bahkan bisa jadi melebihi kaidah lukisan seorang pelukis maestro. Apakah kemaestroannya hanya pada dunia kepenulisan, drama juga musik belaka?

“Saya melukis atas apa yang saya rasa dengan hati sebagai keindahan, tidak hirau atas apa yang Anda pikirkan dengan akal tentang kesenian,” tulis Remy Sylado dalam Apologia: Tentang Martabat dalam Perbedaan Rasa Keindahan.

Remy Sylado dkk. (Suaramerdeka.News/Benny Benke)

Siapa berani melawan Remy Sylado. Yang menurut Romo Mudji Sutrisno, “Hanya Remy yang bisa mendatangkan Anda ke mari,” katanya kepada Gus Mus, ketika memasuki ruang pameran, sebelum pameran secara resmi dibuka.

Romo Mudji ada benarnya. Siapa yang berani mempunyai “budak” sekelas Gus Mus selain Remy Sylado. Dan itu diakui sendiri oleh Gus Mus. (Benny benke – 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *