Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) 2019. Berbeda-beda Tetap Baca Juga.

Jakarta,Suaramerdeka.News. — Di dalam dunia biologi, hutan yang tampak biodivirsity atau keragamannya tampak penuh ketidakteraturan, sebenarnya sangat penuh keteraturan. Demikian halnya dengan kebudayaan di Indonesia, yang mempunyai ratusan bahasa. Jika keberagaman hutan bisa didiamkan saja, tidak dengan keberagaman bahasa dan budaya.

Jika hutan bisa didiamkan secara alami, bahasa dan budaya membutuhkan daya kelola dari budi dan daya manusia. “Itulah mengapa GWRF 2019 mengusung tema “Literacy in Diversity’, sebagai simbol atas keberagaman di dalam dunia literasi. Seperti halnya kemajemukan di Indonesia,” demikian dikatakan Publishing and Education Director PT Gramedia Asri Media, Suwandi S. Brata saat rilis Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) 2019 di Perpusnas, Jakarta, Kamis (1/8).

GWRS diharapkan dapat menstimulus Indonesia yang telah dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat perbedaan suku, budaya, dan bahasa tertinggi di dunia, dapat terus menjaga menjaga kebhinekaannya. Kebhinekaan juga terjaga jika persatuan dalam keberagaman terjaga dan tingkat literasinya baik.

Dalam upaya mendukung tujuan tersebut, Gramedia kembali bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI untuk mengadakan Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) 2019.

Acara ini merupakan forum bertemu, berinteraksi, diskusi dan sharing antara penulis dan pembaca. GWRF akan digelar pada Jumat – Minggu (2-4) Agustus 2019 di Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Selatan, No. 11, Jakarta Pusat.

Di tahun kedua ini, GWRF 2019 mengusung tema “Literacy in Diversity’, sebagai simbol atas keberagaman di dalam dunia literasi. Seperti halnya kemajemukan di Indonesia, literasi juga tertuang pada banyak hal.

Rentang usia, wilayah, dan latarbelakang, mampu memberikan inspirasi berbeda dalam dunia literasi. Pun demikian di acara GWRF 2019, penulis, pemateri, dan tema tiap kelas yang dihadirkan akan beragam. Selain ke!as talkshow dan workshop, GWRF 2019 akan menghadirkan Editor’s Clinic, Film Review, Book Bazaar, Music Performance, dan Awarding Gramedia Short Film Festival.

Sebanyak 45 penulis buku dan pemateri profesional akan berbagi pengalaman serta praktik nyata dunia keliterasian dalam balutan tema yang berbeda. Sederet nama tokoh dan penulis ternama seperti Fiersa Besari, Ayu & Ditto, Aan Mansyur, Sapardi Djoko Damono, Rintik Sedu, A.Fuadi. Budiman Sudjatmiko, Maman Suherman, Naela Ali. Ayu Utami, dan Iainnya dipastikan akan memeriahkan GWRF 2019 selama 3 hari.

Talkshow dan workshop dari masing-masing penulis akan mengusung ragam tema ringan hingga serius, khas milenial, budaya clan sastra. pemantik kreatifitas, hingga spiritualitas.

Dalam sesi Editor’s Clinic, peserta memiliki kesempatan untuk berkonsultasi Iangsung dengan para editor dari penerbit buku besar di Indonesia, guna memberikan masukan terhadap naskah yang telah ditulisnya.

Para pengunjung juga dapat menikmati Music Performance, Book Bazaar dan area Food and Beverage yang berlokasi di Plaza Perpustakaan Nasional dengan harga spesial.

Hal spesiai Iainnya dari GWRF 2019 mi adalah terdapat acara Awarding untuk Pemenang Gramedia Short Film Festival (GSFF) 2019 yang pertama kali pada Sabtu, 3 Agustus.

GSFF adalah kompetisi film pendek yang inspirasinya bersumber pada buku puisi karya penulis terkenal seperti Sapardi Djoko Damono, Maman Suherman, dan Rachel Amanda feat Keshia Deisra.

Terdapat kurang Iebih 600 peserta dari seluruh Indonesia yang mengikuti kompetisi ini.

Panitia juga turut mengundang Wakil Presiden Republik Indonesia Drs. H. M. Jusuf Kalla dan Duta Baca Nasional Najwa Shihab.

Seperti pada tahun sebelumnya, animo masyarakat terhadap acara ini sangat tinggi. Pemesanan tiket secara online melalui aplikasi MyValue langsung diserbu dalam waktu singkat. Gramedia Writers and Readers Forum ini merupakan komitmen Gramedia untuk terus membantu meningkatkan Iiterasi di Indonesia. melalui acara inspiratif dan inovatif.

Maman Suherman sebagai salah satu pengisi acara mengatakan, isyu inklusi sosial menjadi sangat kontekstual saat ini. Sebagai penggerak literasi, isyu “Literacy in Diversity” sangat dekat dan lekat kehidupan masa kini. Sekaligus mengajak Kebhinekaan tetap dirawat di Indonesia. “Kontennya bring your library out, ” kata Maman Suherman sembari berharap tingkat leterasi Indonesia bisa naik dari posisi 60 ke tingkat pertama, yang diduduki Finlandia.

Maman Suherman menambahkan tingkat literasi yang baik, akan meningkat taraf kebahagiaan seseorang. Karena semakin sering seseorang banyak membaca, semakin pandai dia menyelesaikan persoalan. Serta tidak akan mengambil hak orang lain. Akhirnya, tingkat korupsi juga turun. (benny benke -69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *