- Life Style, Politik

Film Sexy Killers. Mampir di National University of Singapore.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Setelah menggegerkan Indonesia, film dokumenter Sexy Killers, kali ini diampirkan di Singapura. Atau lebih tepatnya dalam forum Indonesia Study Group, Film Screening “Sexy Killers” di AS8, Level 4, Seminar Room 04-04, 10 Kent Ridge Crescent, Singapore 119260 National University of Singapore (NUS), Singapura, pada Kamis (9/5/2019) kemarin.

Sebagaimana diceritakan Ari Trismana, produser eksekutif WatchdoC Documentary, yang menghasilkan film Sexy Killer. NUS sangat tertarik dengan tema permasalahan pertambangan batubara yang memiliki dimensi sangat kompleks dan pelik di Indonesia.

“Lalu dimana posisi film Sexy Killers? Film dokumenter karya Watchdoc yang telah ditonton hampir 22 juta viewers di Youtube. Untuk itu kami sharing di NUS, ” kata Ari Trismana kepada Suara Merdeka, Jum’at (10/5) pagi.

Ari Trismana menjelaskan, bagi negara dan korporasi, kehadiran pertambangan dinilai sebagai jawaban atas kemiskinan dan ketidak mampuan warga lokal yang dianggap tak mampu memajukan kehidupannya. “Kebijakan pertambangan selalu diklaim sebagai bagian dari upaya mensejahterakan warga,” ujar mantan aktivis ’98 itu.

Ari Trismana di NUS. (Suaramerdeka.News/ Doc WatchdoC Documentary)

Dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba dinyatakan bahwa tambang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak. Karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh negara, untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional. Dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.

“Karena itulah kemudian tambang selalu dibingkai dalam makna kesejahteraan rakyat,” katanya repetitif.

Di sisi lain, bagi warga lokal keberadaan pertambangan dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup dan ancaman kelestarian alam yang akan berdampak bagi warga secara luas. 

Dua kepentingan yang berbeda antara negara dan korporasi di kubu pertama, dan kepentingan warga di kubu kedua inilah yang selalu berkontestasi dalam kebijakan pertambangan. 

Masih menurut Ari Trismana, kontestasi bisa dipastikan berlangsung tak seimbang. Dengan kekuatan modalnya kubu pertama menguasai beragam sumber daya, termasuk media sebagai kekuatan yang turut memperkuat narasi “Tambang untuk kesejahteraan rakyat”.

Pemutaran Sexy Killers di NUS (Suaramerdeka.News/WatchdoC Documentary)

Berangkat dari kesadaran itulah, Sexy Killers hadir untuk mencoba menyeimbangkan kontestasi antara kubu negara dan korporasi vs warga.

Dengan menggunakan jalur distribusi dan ensiminasi fakta dan data via channel Youtube, WatchdoC Documentary, biasanya juga menggunakan media nonton bareng atau nobar dan diskusi di berbagai lokasi.

Mulai dari kampus hingga kampung, di dalam negeri hingga luar negeri. “Hingga saat ini film Sexy Killers telah dinobarkan hampir di 500 lokasi,” kata jebolan Universitas Diponegoro ini.

Pemutaran Sexy Killers di NUS (Suaramerdeka.News/ Doc WatchdoC Documentary)

Dan pada Kamis (9/5/2019) kemarin, film Sexy Killers dinobar dan didiskusikan di Asia Research Institute – National University of Singapore (NUS).

Acara ini dihadiri sekitar 30 mahasiswa dan akademisi berbagai bidang studi. Hadir sebagai pembahas adalah Maribeth Erb Associate Professor of Sociology Dept NUS dan Ari Trismana Produser Eksekutif film Sexy Killers.

Menurut Ari Trismana, beberapa pertanyaan tajam sempat diajukan oleh mahasiswa dan peneliti NUS. Mulai dari bagaimana Watchdoc membiayai film dokumenternya, mengapa diluncurkan jelang Pemilu, hingga bagaimana Watchdoc menghadapi resiko yang mungkin muncul paska peluncuran film Sexy Killers. 

Yang pasti. Menurut Ari Trismana, Sexy Killers mempunyai agenda lebih jauh daripada sekadar politik elektoral.

“Persoalan yang dibawa film ini adalah persoalan nyata yang harus mendapatkan penjelasan publik lebih jauh, daripada sekadar apa yang dikatakan oleh Luhut Binsar Panjaitan, yang mengatakan, ‘pembuatnya kurang kerjaan’ “, katanya.

Ari Trismana menambahkan, pola komunikasi yang disampaikan oleh Menteri Kordinator bidang Maritim yang juga pengusaha batu bara, itu masih memperlihatkan pola komunikasi serupa dengan masa Orde Baru.

“Di mana opini publik tidak diperhitungkan sebagai bagian dari pertimbangan politik, apalagi sebagai dasar pengambilan keputusan atau political deliberation,” katanya geram.

LBP mangkel dan geram pada film Sexy Killers dengan mengatakan, “Pembuatnya kurang kerjaan, ” karena nama LBP disebut dalam salah satu grafls fllm Sexy Killers yang memperlihatkan posisi kepemilikan saham LBP dalam PT. Toba Bara. Hingga hubungan dengan perusahaan yang dikelola oleh anak-anak Jokowi. “Ada potensi konflik of interest karena bisnis yang dikelola oleh anak-anak Jokowi berhubungan dengan kepentingan publik, semisal transmigrasi dan pembebasan lahan.” Turunannya, citra kesederhanaan anakanak Jokowi yang apa adanya, dan hanya berbisnis “recehan”, seperti dagang pisang goreng dan martabak, ambruk karena kehadiran film ini.

Pemutaran Sexy Killers di NUS (Suaramerdeka.News/ Doc WatchdoC Documentary)

Ari Trismana tentu sadar dengan apa yang dikatakannya, dan siapa yang di hadapinya. Tetapi sebagai mantan aktivis, dia sudah kenyang berpunggungan dengan kekuasaan. Dan bersemuka dengan rezim penguasa. Apalagi, sebagai aktivis totok. Konskwensi “jalan aktivis” masih mengendap kuat di sanubarinya. Yaitu 4B: Buru, Bui, Buang dan Bunuh!

Sexy Killers adalah film keempat karya rumah produksi Watchdoc yang diputar di kampus NUS setelah Kala Benoa, Rayuan Pulau Palsu, dan Asimetris. (Benny Benke- 69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *