Film Sang Prawira. Mimpi Menjadi Polisi yang Baik dan Benar.

Jakarta, Suaramerdeka.News –– Gambaran ideal acapkali berpunggungan dengan kenyataan. Apa yang diceritakan seringkali mengingkari kahanan.

Tapi, via film Sang Prawira, Kapolda Sumut Irjen Pol. Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H yang menjadi inisiator film Sang Prawira, berikhtiar melaraskan harapan dengan kenyataan.

Ihwal dunia Kepolisian dengan banyak persoalannya di dalamnya. Dengan menyodorkan cerita versinya, tentang menjadi dan masuk menjadi anggota Polisi, tidak melulu harus melibatkan rupiah dalam prosesnya.

Film Sang Prawira. (SMNews/Bambang Erros).

Cerita turun temurun di masa lalu, tentang proses masuk Polisi, di tingkatan apapun harus mengeluarkan rupiah berbilang juta, menurut film ini, tak benar adanya.

Menjadi Polisi hanya persoalan prestasi. Kolusi, nepotisme dan sogokan sudah lama mati. Katanya seperti itu. Paling tidak demikianlah yang dinarasikan dalam film yang melibatkan sejumlah cameo wahid, dari mantan Kapolri, Menteri dan Gubernur Jateng itu.

Film yang akan rilis pada 28 November 2019 mendatang ini, juga dilakoni anggota Kepolisian sebenarnya, sebagai pelakon utama. Terutama yang berdinas di wilayah Sumut.

Dari Ipda Aditia ACP, Anggika Bolsterli, Ipda Dimas Adit S, Ipda M. Fauzan Yonanndi, hingga Jenderal (purn) Tito Karnavian, Luhut Binsar Pandjaitan, Yassonnah H. Laoly, Ganjar Pranowo, Irjen Dr. Eko Indra H S, dan Mayjend. TNI M. Sabrar F.

Inisiator dan Pendukung Utama film Sang Prawira. (SMNews/Bambang Erros).

Ceria film yang disutradarai Ponti Gea dan skenario Onet Adithia Rizlan, serta produksi MRG Film dan Mabes Polri ini, sebenarnya simpel. Ihwal anak kampung di sebuah dusun di pinggir Danau Toba, bernama Horas (IPDA Dimas Adit S). Yang ingin menjadi Polisi meski citacitanya pada mulanya, ditentang ayahandanya sendiri.

Yang lebih menginginkan anaknya menjadi TKI, sebelum harapannya menjadi pengusaha. Dengan demikian menarik derajad ekonomi keluarganya yang paria.

Likaliku yang tidak terlalu berliku dari tokoh Horas yang hendak masuk Akpol di Semarang, hingga akhirnya menjadi Polisi itulah yang dikisahkan dalam film ini.

Selebihnya, menonton film bioskop rasa FTV ini, seperti menonton dongeng yang bikin geli. Jika kita, misalnya menyandingkannya dengan film bertema serupa dari Korea, Mandarin apalagi Hollywood.

Yang intriknya dipastikan melibatkan Polisi dan institusi Kepolisian itu sendiri. Dengan bahasa lebih sederhana, di sejumlah film manca itu, ingin mengatakan, sumber kejahatan sangat bisa jadi, dan seringkali datang dari Polisi itu sendiri.

Gala Premiere Film Sang Prawira. (SMNews/Bambang Erros).

Meski tentu saja tidak apple to apple, tapi menonton Sang Prawira yang prosesinya prewiew di Jakarta, pada Sabtu (23/11) siang, Audzubillah min Dzalik lamanya itu, cukup membesarkan hati.

Karena wabilkhusus Polda Sumut ingin mengatakan, citra buruk Polisi tidak seutuhnya benar, sebagaimana tertanam dalam memori publik. Karena masih banyak Polisi baik di sekitar kita. Yang sayangnya, jarang kita jumpai. (Benny Benke – 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *