Film Mariposa. Berbilang Cinta dan Tawa.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Jika Anda remaja, dan hendak memasuki usia 17 tahun, bolehlah menonton film Mariposa. Apa yang perlu ditonton dari film drama remaja percintaan yang juga acap membuat tergelak penontonnya ini? Ceritanya yang ringan, tapi tidak murahan, sekaligus menerbitkan kegembiraan, serta — ini yang penting– tetap memberikan kedalaman.

Walau di saat bersamaan, sebagaimana kisah remaja tanggung kebanyakan, sifat “kelebaian”, picisan, dan “kehaluan” – jangan heran jika banyak yang jejeritan saat menonton film ini — juga menyertainya.

Di film yang berpusat pada sosok Iqbal Guana (Angga Yunanda) dan Natasha Kay Loovy (Zara Adhisty) ini, persoalan ihwal perburuan cinta memang menjadi menu utama. Dan Fajar Bustomi sebagai sutradara, tahu betul bagaimana menerjemahkan skenario pintar Alim Sudio yang berangkat dari novel renyah Luluk HF, dengan cara yang paling ringan. Dengan tetap meninggalkan jejak kesan mendalam.

Buktinya, saat premiere film produksi bersama Falcon Pictures dan Starvision Plus di Jakarta, Rabu (11/3/2020) petang, banyak yang meneteskan air mata bercampur gelak tawa berbilang-bilang.

Yang membuat kita geli, heran, sedikit bingung, sekaligus maklum, betapa remaja tanggung yang sedang berada di puncak “unyu-unyunya” itu, mempunyai dunianya sendiri.

Dunia merdeka, yang hanya dipahami dengan film cerita semacam Mariposa. Sehingga koneksinya menjadi sangat nyambung sekali dengan film yang akan mulai edar per tanggal 12 Maret ini.

Selebihnya, menonton film Mariposa, atau berarti kupu-kupu dalam bahasa Spanyol, atau Papillon dalam bahasa Prancis, adalah menyaksikan dunia “dedek-dedek gemes” dengan segala dinamikanya. Dunia remaja menuju aqil balik yang berikhtiar membaca dan memaknai cinta, cita-cita dan dunianya dengan caranya sendiri.

Cara sukasuka yang sesak dengan semangat penuh ketergesaan, memaksakan kehendak, serampangan, dan karenanya acap menerbitkan kesalahpahaman. Sebelum akhirnya waktu, dengan cara ajaibnya, menerbitkan kedewasaan. Sembari membawa dan mengajarkan sifat keteguhan, penerimaan, kebesaran hati, dan sportivitas.

Hingga akhirnya, kisah Mariposa, yang “terkejar tapi tidak tergapai,” itu menemui caranya sendiri dalam menyelesaikan persoalan klise khas remaja tanggungnya. Yang cenderung dibuat bingung oleh perasaannya sendiri. Yang “diribeti” oleh perasaan cinta sepihaknya.

Sisanya, selamat datang di dunia remaja. Mari berria, mari berlupa, mari mencinta Mariposa. (benny benke-69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *