Epidemiolog UGM: Tim Pemulihan Kesehatan dan Ekonomi Perlu Duduk Bersama

Tentukan Batas Toleransi Risiko Covid-19

JAKARTA – Virus tidaklah bepergian, orangnya yang bepergian. Ketika orang bepergian, maka virus akan terbawa.

Demikian analogi dari pakar epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad, mengenai situasi pandemi Covid-19 akibat virus corona. Doni, begitu dia akrab disapa, melihat ada empat skenario yang bisa terjadi hingga pandemi selesai.

Pertama, skenario herd immunity (kekebalan kelompok). Sebuah skenario ketika orang membiarkan transmisi virus berlangsung secara cepat agar imunitas terbentuk. Dampaknya, korban yang meninggal dunia bisa mencapai jutaan jiwa. Sistem kesehatan dan sosial ekonomi akan kolaps, dan negara bisa berisiko gagal menjalankan skenario ini. Butuh waktu lama untuk recovery melalui skenario herd immunity, yakni 1-2 tahun setelah pandemi usai.

“Skenario kedua adalah yang kita lakukan saat ini. Skenario penurunan transmisi dengan menghindari 3R (ruang tertutup, ramai-ramai, dan rumpi jarak dekat) dan melakukan 3T (testing, tracing, dan treatment).”

“Pandemi bisa menjadi lebih lama. WHO bilang bisa sampai lima tahun sampai muncul vaksin. Gelombang (pandemi) bisa berulang-ulang, karena orang masih bisa bepergian.”

“Korban relatif lebih sedikit. Ada resesi ekonomi, tetapi sistem sosial ekonomi bisa beradaptasi,” kata Doni, dalam Webinar KAGAMA Inkubasi Bisnis (KIB) ke-XIV, Minggu malam (28/9/2020).

Dosen FK-KMK UGM itu melanjutkan, skenario ketiga adalah lockdown global. Yakni menghentikan seluruh mobilitas: 70 persen penduduk dunia tidak boleh ke mana-mana dalam kurun satu bulan. Dengan diikuti respons cepat surveilans, skenario ini diklaim bisa berhasil. Namun demikian, Doni memandang, skenario ketiga ini mustahil dijalankan.

Tiga skenario awal punya persamaan membutuhkan kemunculan herd immunity. Namun, bila herd immunity tidak muncul, skenario empat adalah yang terjadi.

Beberapa penelitian yang dirujuk Doni menyebut bahwa imunitas yang muncul punya jangka waktu pendek, sehingga tidak bisa menciptakan herd immunity. Akibatnya, pandemi akan berlangsung lebih lama, hingga Covid-19 nanti akan menjadi seperti flu biasa (musiman).

“Keempat skenario akan mempengaruhi berapa lama pandemi akan terjadi, dan bagaimana seharusnya kita melakukan adaptasi,” kata Doni.

“Sekaligus bagaimana kita nanti melakukan recovery terhadap ekonomi,” terang pria yang mendapat gelar dokter dari FK UGM pada 1996 ini.

Doni lantas menarik benang merah dari empat skenario di atas. Menurutnya, jika transmisi virus dibiarkan berlangsung secara cepat, kerugian yang ditimbulkan akan banyak. Jika transmisi diturunkan (secara perlahan), dampaknya juga akan berkurang. Akan tetapi, kata dia, pandemi yang berlangsung lebih lama membuat masalah bagi perekonomian.

Karena itu, Doni bertutur, kita tidak hanya bisa bertumpu pada strategi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau lock-down. Pencarian titik seimbang antara menghentikan dan membiarkan mobilitas adalah jawabannya.

“Karena kalau kita melakukan PSBB atau lock-down, kematian karena non-Covid bisa meningkat lebih besar daripada kematian karena Covid. Kerusuhan bisa juga terjadi seperti di India beberapa waktu lalu,” ujar Doni.

Doni menduga, kematian non-Covid akibat PSBB bisa terjadi pada kelompok ibu dan anak. Penyebabnya, mereka tidak mampu mengakses layanan kesehatan.

“Demikian juga kalau kita membiarkan, kematian karena Covid-19 akan tinggi. Ekonomi bisa berjalan, tetapi jika kemudian kacau, perekonomian akan bermasalah. Kerusuhan juga bisa terjadi. Keduanya bisa berada pada titik yang sama,” terangnya.

Hal yang menjadi catatan penting bagi Doni adalah, saat ini Pemerintah belum punya kebijakan yang mengintervensi pengelolaan risiko. Sebuah kebijakan yang mengatur kapan mobilitas akan dihentikan, dan kapan mobilitas bisa dilonggarkan. Doni menilai, orang-orang memandang bahwa new normal adalah penerapan protokol kesehatan. Padahal, menurut dia, tidak sekadar itu. Namun, seperti yang dia katakan sebelumnya, yakni pengaturan kapan mobilitas dihentikan dan kapan dilonggarkan.

“Pada satu titik kita bisa melonggarkan, pada titik tertentu kita harus mengurangi mobilitas. Meskipun tidak sampai menghentikan,” kata Doni.

“Kuncinya adalah sampai penularan bisa terkontrol. Karena protokol kesehatan saja terbukti tidak cukup untuk bisa menurunkan (transmisi), ketika mobilitasnya normal,” tandasnya.

Kepada Pemerintah, Doni menyarankan, tim pemulihan kesehatan dan ekonomi harus duduk bersama untuk menentukan batas toleransi risiko. Setelah itu, membuat parameter tertentu. Misalnya, jika ada penularan tak terkendali selama tiga minggu, mobilitas harus dikurangi. Dengan begitu, WFH (work from home), sekolah daring, ibadah dari rumah, dan pengurangan kerumunan, mesti dilaksanakan lagi. Itu semua juga harus dilaksanakan dengan jangka waktu pasti, misalnya 2-3 minggu.

“Itu akan cukup banyak mereduksi transmisi. Setelah itu, jika parameter yang terlihat bisa kita turunkan, kita bisa melonggarkan lagi,” ujar Doni.

“Ini yang harus dikomunikasikan secara terus-menerus kepada pelaku bisnis dan masyarakat, sehingga mereka bisa bersiap-siap,” pungkasnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort