xpornplease.com pornjk.com porncuze.com porn800.me porn600.me tube300.me tube100.me watchfreepornsex.com

Dungu.

Catatan Benny Benke.

Anggota Dewan Juri Lomba Baca Puisi Antar Wartawan Se-Indonesia, dalam rangka Ultah Golkar ke-56.

//Kami haqqul yakin, bahkan SCB pun tampaknya sengaja dikelabui untuk pemilihan pemenang pertama ini. Sayang sekali, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena pengumuman pemenang pertama yang manipulatif, akhirnya tidak ada satupun kebaikan yang bisa diingat dari kerja keras kebudayaan yang dilakukan Partai Golkar melalui lomba ini. Sungguh sangat mengecewakan//.

JAKARTA, Suaramerdeka.News — Kutipan langsung dari berita yang dikirimkan bang Isbedy Setiawan ZS dari laman https://www.rmollampung.id/tuai-protes-lomba-baca-puisi-hut-ke-56-partai-golkar, berhasil membuat saya terbahak, saat kali pertama membacanya.

Ketika link berita yang sama dikirimkan mas Can (Putu Fajar Arcana), saya hanya membalasnya; “Dungu”, atas kutipan berita itu.

Saya bahkan diam-diam merasa welas asih dengan saudara Ramon Damora. Yang melemparkan berondongan tuduhan yang berangkat dari asumsi belaka. Sembari menyiramkan opini ngawurnya. Atas nama apa saja. Yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang penyair yang konon sesak dengan adab, bahkan dari mula caranya berpikir.

Saat link berita yang sama saya kirimkan ke Lola Amaria. Apa tanggapan Lola? “Aku ji#+k bacanya. Sotoy amat“.

Bagaimana dengan tanggapan mas Wina (Armada Sukardi)? “Iya. Saya Uda baca . Uda, biarin aja..nanti saya tulis sedikit penjelasan,” katanya.

Sedangkan Bang Tardji (Sutardji Calzoum Bachri), sebagaimana seorang resi, diam saja. Membiarkan kita menafsirkan keheningannya. Berspekulasi dengan semiotika.

Kalau benar yang disangkakan saudara Ramon, jika saya, mungkin juga Lola dan mas Wina “sengaja mengelabui” SCB demi menyenangkan dan memenangkan Pangeran Negara menjadi juara pertama, luar biasa sekali kita, mampu mengelabui SCB.

Anggota Dewan Juri Lomba Baca Puisi Antar Wartawan Se-Indonesia, dalam rangka Ultah Golkar ke-56. (SMNews/Ist).

Saya baru kemarin mengenal SCB, 20 tahun lalu, saat masih berumah di TIM, Jakarta. Saat bersama kawankawan Konsorsium Wartawan Kebudayaan, acap nongkrong di Cikini.

Saat saya membutuhkan komen bang Tardji, tentang apa saja, sebagai bahan dan sumber berita, bang Tardji hanya berucap pendek, “Sudah saya percaya dengan apa yang kautulis,” katanya kala Itu.

Saat kami bertemu lagi, kali ini sama sama menjuri, dan Bang Tardji saya ingatan ihwal,”Tulis apa saja, aku percaya dengan apa yang kautulis,” si empunya nama terkekeh-kekeh. Persis seperti dulu.

Bagaimana mungkin manusia istimewa, cerdas, kuat, terpilih, tawaduk — yang selalu menanyakan di mana letak mushola, jika berada sebuah tempat baru — dapat dengan mudah terperdaya oleh saya, yang bukan siapa-siapa. Fakir estetika. Dan jauh dari kedalaman ini.

Jangan-jangan saudara Ramon sedang mengolok-olok bang Tardji karena sudah sepuh, maka pantas, wajar, dan gampang diperdaya oleh bocah ingusan susastra seperti saya.

Yang ada malah sebaliknya. Kita yang kewalahan berhadapan dengan argumentasi bang Tardji. Yang berjarak sebenang dengan kebijaksanaan. Yang terpancar dari hampir setiap ujaran yang dikatakannya.

Ketika saya berusaha menyingkirkan untuk sementara nama besar Presiden Penyair Indonesia, dan memposisikannya berdiri sama tinggi, serta duduk sama rendah, sebagai sesama Anggota Dewan Juri, tidak sepenuhnya gagal, tapi tidak sepenuhnya berhasil juga.

Terutama pada momen tetiba bang Tardji membuat gerakan tanpa bola di tikungan terakhir penjurian, dengan mengatakan, “Sudahlah penyair-penyair senior itu, sudah “selesai” mereka. Kita berikan kepada yang muda-muda. Supaya puisi panjang umurnya. Supaya mereka (anak-anak muda) terus mencintai Puisi,” kami semua terdiam untuk satu dua jenak.

Hingga akhirnya, setelah baku argumentasi, singkat cerita, demikianlah Pangeran Negara ditetapkan sebagai pemenangnya.

Meski kita juga maklum, sangat maklum, banyak lobang teknis di sana. Juga masih jauh dari Kematangan.

Tapi tahukah Anda pilihan filosofis atas terpilihnya anak muda, yang jauh dari sempurna , dan belum selesai dengan urusan teknis itu? Silakan nanti Anda tanya sendiri bang Tardji.

Yang pasti, semua anggota Juri telah mengetok keputusannya dengan sadar sekali. Tidak ada kecelakaan kesadaran di sana. Toh, keputusan mana yang dapat menyenangkan semua orang?

Hingga akhirnya, datanglah semburan tuduhan menggelikan itu. Yang kemudian mengingatkan saya pada ujaran Albert Einstein; “Dua hal tidak terbatas: alam semesta dan kebodohan manusia; dan saya tidak yakin tentang alam semesta”.

Einstein benar, kebodohan manusia memang tidak terbatas. Siapa yang sanggup mencegahnya.

Singkatnya, orang bodoh mengira mereka cerdas, dan mengetahui semua dan banyak hal. Karena mereka terlalu bodoh untuk menyadari bahwa mereka bodoh (ketidaksadaran yang membahagiakan).

Di sisi lain, orang yang cerdas menyadari bahwa mereka tidak dapat mengetahui dan memahami segala sesuatu, sehingga mereka menganggap diri mereka tetap bodoh.

Jadi secara obyektif, setiap orang cenderung berlawanan dengan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri. Ini dinamai efek Dunning-Kruger. Panjang umur Puisi. Salam. (Bb-39).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

izmir escort
php shell
denizli escort bayan düzce escort bayan bolvadin escort denizli escort banaz escort escort ısparta escort çankırı afyon escort bayan escort balıkesir escort bolu
istanbul escort ilanlari istanbul escort istanbul escort bayanlarla sevgili tadinda etkilesimler. istanbul escort bayanlar istanbul escort istanbul escort hizmeti icin ideal web sitesi.