- Pendidikan

Masyarakat Harus Cerdas Gunakan Obat

CILACAP- Masyarakat harus cerdas dalam menggunakan obat. Untuk itu melalui Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat), pemerintah dan masyarakat berupaya mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan obat secara tepat dan benar.

Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menggunakan obat dengan benar, meningkatkan kemandirian dan perubahan perilaku masyarakat dalam memilih dan menggunakan obat secara benar, dan akhirnya akan meningkatkan penggunaan obat secara rasional.

Hal itu dikatakan dosen Stikes Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap, Septiana Indratmoko MSc Apt, ketika bersama timnya melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan mengedukasi warga tentang penggunaan obat secara tepat dan pemanfaatan tanaman obat untuk penyakit degenerative dan infeksi yang diadakan di Dusun Rawajarit, Desa Menganti, Kecamatan Kesugihan, baru-baru ini.

Menurut Septiana Indratmoko, selain melakukan edukasi pihaknya bersama tim pengabdian juga melakukan skrining kesehatan yang meliputi pengukuran tekanan darah dan gula darah kepada 26 warga setempat. Bahkan tim tersebut dibantu beberapa mahasiswa juga melakukan demonstrasi peracikan pemanfaatan tanaman obat untuk menurunkan tekanan darah.

“Setelah dilakukan edukasi dan pelatihan, rata-rata pengetahuan peserta tentang penggunaan obat dan pemanfaatan tanaman obat secara tepat untuk penyakit degenerative dan penyakit infeksi mengalami peningkatan. Peserta juga mampu meracik tanaman obat untuk penyakit degenerative dan infeksi,” katanya.

Kegiatan tersebut diadakan karena selain penyakit degeneratif, berdasarkan hasil survei di Dusun Rawajarit, Desa Menganti, menunjukkan perlunya tindak lanjut dalam pencegahan penyakit infeksi menular seperti campak dan HIV/AIDS.

“Terkait upaya pencegahan penyakit campak dan HIV/AIDS di Kelurahan Menganti, perlu diadakan kegiatan kampanye melalui media edukasi di wilayah yang lebih kecil seperti RT atau kelompok jamaah pengajian di musola. Hal ini sebagai percontohan. Seperti yang kami lakukan pada 1 Maret 2019, bertempat di Rumah Kepala Dusun Rawajarit,” katanya.

Sedangkan dosen Stikes Al-Irsyad, Rully Andika Ns MAN bersama timnya melakukan pengabdian masyarakat di Desa Doplang, Kecamatan Adipala, Cilacap. Kegiatan yang dilakukan terkait masalah gangguan jiwa.

Hal itu dilakukan karena hingga akhir tahun 2017 di Desa Doplang terdapat 47 kasus gangguan jiwa. Ada kemungkinkan jumlah tersebut masih dapat bertambah.

Ternyata sebagian besar masyarakat Desa Doplang belum mempunyai upaya–upaya preventif yang konkrit pada keluarga dalam upaya menyelesaikan masalah yang diakibatkan dari adanya anggota keluarga mereka yang mengalami gangguan jiwa.

“Selain itu mereka juga dihadapkan pada stigma yang sangat mengakar di masyarakat bahwa gangguan jiwa adalah kondisi yang memalukan dan penderitanya dianggap sudah tidak berguna lagi di masyarakat,” katanya.

Menurut Rully Andika, masyarakat yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa perlu diberi pengetahuan tentang mekanisme koping serta pentingnya ibadah dalam menjaga kesehatan jiwa.

“Kami bersama tim pengabdian yang terdiri atas dosen Stikes Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap pada 24 Januari 2019 pernah mengadakan kegiatan pengabdian di Balai Desa Doplang, Kecamatan Adipala. Kegiatan tersebut diikuti kader kesehatan jiwa dari desa setempat berserta masyarakat yang memiliki anggota keluarga dengan masalah kesehatan jiwa,” katanya.

Saat itu metode yang digunakan adalah ceramah yang membahas tentang konsep sehat jiwa, mekanisme koping serta pentingnya ibadah dalam upaya menghindari timbulnya kembali masalah gangguan jiwa serta praktik implementasi ibadah serta doa yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari.

Hasil yang dicapai, lanjut dia, terdapat peningkatan pengetahuan keluarga tentang sehat jiwa, mekanisme koping serta kemampuan keluarga dalam pelaksanaan ibadah dan kemampuan mengamalkan doa. Diharapkan hasil tersebut dapat mengurangi munculnya masalah baru serta kekambuhan masalah gangguan jiwa di Desa Doplang.

Adapun Dwi Setiyawati SSt MFis bersama tim melakukan pengabdian dengan mengadakan kegiatan pelatihan penguluran otot punggung sebagai upaya untuk mencegah kondisi scoliosis. Kegiatan tersebut diadakan di SD Negeri Jangrana, Kecamatan Kesugihan.

Dikatakan, smartphone telah digunakan oleh anak-anak hingga orang tua. Penggunaan smartphone mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Salah satu dampak negatif penggunaan smartphone adalah gangguan postur tubuh karena sebagian besar pengguna smartphone selalu menundukkan kepala ketika membuka smartphone.

“Tanpa disadari posisi tersebut dapat menyebabkan tulang punggung menjadi bengkok dan otot-otot pada pagian punggung atas mendapatkan beban kerja berlebih. Akibatnya otot pada punggung atas akan mengalami ketegangan berlebih. Dampak yang lebih lanjut dapat menyebabkan kondisi tulang punggung bengkok (scoliosis),” katanya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut perlu dilakukan pelatihan penguluran otot punggung guna mencegah scoliosis. Setelah diadakan pelatihan yang diikuti siswa SD Negeri Jangrana, pemahaman siswa tentang cara mengulurkan otot punggung menjadi meningkat.(ag-37)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *