SM/dok ROHMAN DI BANGKOK : Rohman Supriadi (5 dari kanan) bersama para petinggi SEA FT negara-negara ASEAN, saat turnamen di Bangkok, Thailand, April 2019. (20).
- Olahraga

Lulusan Diklat Merden Ditargetkan Mampu Berdakwah

DUALISME di organisasi sepak bola Indonesia selama 2010-2014, membuat pembina kesulitan menghidupi klub, terutama aspek pendanaan. Melihat itu, Rohman Supriyadi tergerak menyiapkan pemain muda untuk bisa dipakai klub di kemudian hari. Dia lalu mendirikan lembaga Pendidikan dan Latihan (Diklat) Merden atau DM.

Upaya itu didukung tokoh Banjarnegara, Sigit Dwi Antoro, karena melihat DM potensi daerah, berkarya untuk bangsa. Sigit memfasilitasi dan mendukung semua yang bisa dilakukan. Rohman menjadi pemilik DM, Sigit pembina. DM ber-homebase di Stadion Urang Jaya Desa Merden.

Awalnya menerima siswa pemain usia 16, 17, dan 18 tahun, dengan maksud setelah dibina setahun pemain siap pakai di liga senior. Seiring waktu, didapat kenyataan membentuk karakter dan mengasah skill pemain usia SMA relatif lebih sulit, dibanding usia di bawahnya. Mulai 2017 DM pun menerima pemain usia lebih muda, kelas VII (I SMP), untuk dilatih bermain sepak bola yang baik dan benar, sesuai sepak bola modern.

Sejumlah pelatih berlisensi menjadi mitra dalam kepelatihan, seperti Jajang Nurjaman (Persebaya), Raja Isa dan Budiyanto Matnanto dari Malaysia, Sansan Susanpur (pelatih fisik Timnas U-16, Persija), Soni Kurniawan, dan sejumlah nama lain. Hafal Alquran Sentuhan nonteknis diberikan lewat pendidikan agama, berupa pengajaran Alquran, tahsin dan tahfidz. Tujuannya, selain menjadi pemain andal, siswa DM hafal Alquran minimal dua juz tiap tahun ajaran.

Diklat sepak bola, yang memberi pelajaran seperti itu mungkin DM satu-satunya di dunia. Awalnya Rohman sendiri mengajar hafalan, kemudian dikelola beberapa ustadz, yaitu Hayan Hafidzulloh, Anas Hidayat Hafidzulloh, Saifrul Bahri Hafidzulloh, dibantu guru lain. Khusus 2019-2020, mulai 2 Juli, pengajar bertambah tiga guru lulusan Pondok Darrul Quran, Tangerang, pimpinan Ustadz Yusuf Mansyur. Siswa juga diberi materi fikih ringan, dilatih berkutbah dan berceramah.

Itu sebagai filter agar mereka memahami syarat minimum beribadah. Diharapkan lulusan DM juga mampu berdakwah dan menjadi imam, minimal lingkungannya. Ketika di kalangan pemain ada yang bisa berdakwah, biasanya lebih didengar. ”Kira-kira menjadikan pemain seperti M Salah, pesepak bola asal Mesir di klub Liverpool.” Materi ini penting, mengingat pemain profesional masih muda, berduit, bertenaga besar, dan belum menanggung beban.

Godaan terbesar biasanya menjurus perbuatan maksiat. Dengan dibentengi agama, semoga tak tergoda, karena tahu halal haram, dosa, dan yakin ada kehidupan akhirat. Inilah ruh di DM. Salah satu tugas pokok orang Islam mendekatkan semua orang di sekelilingnya mendekat Allah SWT. Go Internasional Di tahun pertama didirikan (2015), DM langsung beprestasi juara I Menpora Cup U-14 Jateng barat, juara III provinsi.

2016 juara I Menpora Cup U-14, semi finalis U-14 dan U-16 Jateng, dan berbagai turnamen lain. 2017 Rohman membuat langkah besar, yakni go internasional. Siswa dibawa ke turnamen Rocky Rose Cup di Bangkok. Lalu ikut Singa Cup Singapura, hasil perempat final. 2019 tim U-13 DM juara I dan tim U-15 juara III Kuala Lumpur Cup Malaysia.

”Ini untuk memberi pengalaman internasional siswa, agar kelak kalau bertanding di level internasional sudah terbiasa.” Kiprah mengelola DM itu membuat nama Rohman dikenal di kalangan komunitas SSB di kawasan Asia Tenggara. Dia lalu menjadi Ketua South East Asia Football Talent (SEA FT), yakni komunitas SSB se Asia Tenggara dan Australia, masa bhakti 2019-2024. ”Dalam kapasitas ini, saya pernah diundang membuka turnamen internasional antar-SSB di Bangkok, April lalu.”

Secara perorangan, binaan DM juga sukses. 2015 beberapa anak masuk klub liga profesional, Persibangga Purbalingga dan PSCS Cilacap. 2016 siswa masuk tim ISC B Persibangga dan Persita Tangerang. 2017 lulusan diterima Persibanggga, PSGC Ciamis, PSPS Pekanbaru. 2018 sebanyak 18 siswa masuk tim Suratin U-17 Bali FC Yr, 15 anak diambil Bali FC Liga 3, dua pemain (Zaki Nurfauzan dan Arya Satria Tama Kusuma) lolos seleksi Asia Tenggara untuk trial di Akademi Eropa, beberapa pemain lain masuk Diklat pro Barito Putra U-16, Serui Badak Lampung U-16, PSS Sleman U-18, PSIS Semarang U-18, PSPS Pekanbaru dan Persija Senior.

Tahun 2019 ini, tujuh pemain DM dipanggil TC Timnas Pelajar U-14 untuk turnamen Internasional di Wuhan, Tiongkok. Satu pemain masuk Persebaya, dan pemain lain dikontrak klub dari Jabar dan Kalimantan. ”Itu bentuk kepercayaan publik pada pemain binaan DM.” Pengakuan Orangtua Prestasi nonteknis, lulusan DM hapal Alquran minimal dua juz.

Awalnya pengajaran memakai metode yang biasa di pondok pesantren, ternyata siswa relatif sulit mencapai target hapalan, karena saat belajar dalam kondisi lelah, setelah latihan pagi sore, dan sekolah. ”Setelah satu tahun, ditemukan konsep mengajar khusus untuk siswa atlet. Sampai 2018-2019 ada anak hapal 10 juz.”

Pembelajaran itu pun mendapat pengakuan dari orangtua siswa. Sugiyono, ayah siswa Sodiki Jauhari, menelepon Rohman menyampaikan terima kasih. Anaknya berubah drastis, sholat wajib berjamaah di masjid, rajin membaca Alquran, dan itu membahagiakan.

Karena sibuk, orangtua tiada waktu mengawasi anak. Sugiyono pun merekomendasi koleganya mengirim anak ke DM. Beni asal Surabaya, orangtua Irhat, menuturkan anaknya semula mudah berkata tak pantas, setelah di DM berubah. Orangtua itu terharu anaknya komunikatif, mau berdiskusi, shalat berjamaah, sebelumnya pendiam dan jarang berkomunikasi.

Agung dari Magelang, ayah Zidan Asafi, terharu saat mendengar anaknya mengumandangkan ayat-ayat Alquran. Berbeda dibanding sebelum masuk DM. Meski memberi materi pelajaran Islam, di lembaga itu tetap ada tolerasi. DM tak hanya menerima siswa muslim, nonmuslim pun masuk, tiada pemaksaaan ibadah.

Beberapa siswa DM yang beragama Katolik, sering diantar kru sering ke Gereja, berjarak 500 m dari asrama. Siswa nonmuslim meliputi Al Ebelhard Lewis (asal Batam), Ronny Saranamual, Johan Lisi, dan Anis Almum asal Papua. (Budi Hartono).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *