Iwan Fals, Menteri Kesepian dan Kawankawan Sepermainannya. (Suaramerdeka.News/Doc)
- Kolom Esai

Diantara Kesepian, dan Perasaan Iwan Fals.

Oleh Yon Moeis.

Leuwinanggung, Suaramerdeka.News – Malam di Leuwinanggung. Inggris, sejak 2018, sudah ada Minister for Loneliness; menteri Kesepian yang mengayomi warganya yang dilanda perasaan sunyi.

BUKAN “Jalan Panjang Yang Berliku”, bukan pula “Yang Terlupakan”, tapi “Engkau Tetap Sahabatku” yang ikut menghangatkan perjalanan Jum’at malam lalu yang, kami sebut sebagai malam minggu kecil. Jalan bebas hambatan Jagorawi terasa lengang, padahal tersendat. Dari “kandang ayam” Rawamangun menuju Istana Leuwinanggung, kami lewati dengan gembira sambil bersenandung kecil lagu-lagu Iwan Fals, karena pemilik rumah sudah menanti.

“Sudah sampai mana,” kata Iwan setelah kami melewati kawasan Cibubur. “Masuk dari pintu gerbang belakang ya,” kata Iwan lagi.

Yang bakal kami sambangi ini bukan orang sembarangan. Dia lejend, super star. Dia adalah “Manusia Setengah Dewa”. Tapi julukan-julukan itu tak lantas membuat dia berubah. Dia adalah kawan dulu di “Lenteng Agung of University” yang tetap asyik, hangat, dan menyenangkan.

Ngobrol dengan Iwan Fals, seperti yang sudah-sudah, saya pastikan banyak topik bahasan yang bisa seketika pindah ke bahasan lain,terutama yang hangat akhir-akhir ini sebagai bahan pembicaraan. Pada lima menit pertama, saya harus ambil kesempatan setelah dia menerima kami di Teras Kamboja, dengan tema orang-orang yang “Lolita” (lolos lima puluh tahun) tidak boleh kesepian.

“Di Inggris sudah ada menteri urusan kesepian. Ada sekitar lebih dari 9 juta warga Inggris yang merasa kesepian. Diperkirakan 2 juta warga berusia 75 tahun ke atas di seluruh Inggris tinggal sendirian dan sudah pasti merasa kesepian,” kata saya.

“Kesepian itu jadi masalah serius ya,” kata Iwan.

“Benar, karena itu kita-kita yang sudah melewati 50 tahun, tidak boleh kesepian,” kata saya lagi.

Obrolan seputar kesepian pun terhenti seiring datangnya martabak telor, martabak manis, dan tentu saja kopi hangat. Beberapa kali Iwan meminta kami mencicipi hidangan di atas meja besar ini, disela-sela obrolan.

Iwan Fals Virgiawan Listanto Toro Cocomeo Cocomeo Mimi Azmy Imaduddin Alqamar dan Radja Pane adalah manusia-manusia keren. Persahabatan mereka berempat tidak mudah meleleh dalam situasi apa pun. Mereka sanggup mengubah kenangan-kenangan masa lalu, dulu di Lenteng Agung atau di “sebuah desa”, misalnya, menjadi cerita-cerita indah.

Setelah jenuh dengan obrolan dengan berpindah-pindah topik itu, tepat pukul 00.00, Iwan mengajak kami ke Studio Kemangi yang terletak di bawah rumah induk. Disana, Iwan memamerkan sekitar 100 lebih karya lukisannya.

“Tommy W. Awuy suka lukisan ini,” kata Iwan. Profesor Tommy adalah kawan satu kelas saya di Lenteng Agung. Dosen filasafat di Universitas Indonesia itu, juga salah satu sahabat Iwan.

Selain tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Publisitik di LA dengan empat kali masuk, empat kali keluar, Iwan juga adalah mahasiwa seni rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Dulu, selain bermusik, Iwan sudah melukis. Dan terakhir-terakhir ini, Iwan selalu menyediakan waktu tuk menuangkan karyanya, terutama setelah dia menjalani operasi tangan kanan.

“Lebih pada terapi sih, gue melukis,” kata Iwan, sambil membuat gerakan-gerakan memutar tangan kanannya.

“Tapi pasti lebih dari itu dong,” kata saya.

“Benar, melukis adalah tempat gue menumpahkan perasaan-perasaan. Gue bisa tidur nyenyak setiap kali menyelesaikan satu lukisan. Lukisan bisa tidak selesai karena begitu gue tahu sudah berbentuk, gue hancurkan lagi. Tapi gue tidak bisa lari. Selebar apa pun kanvas, pasti ada pembatasnya. Gue gak bisa lari dari pembatas-pembatas itu,” kata Iwan.

Iwan tidak akan pernah lari, apalagi dalam konteks memelihara pertemanan. Iwan tak bisa lari — dia mengantar kami hingga halaman parkir, tepat pukul 01.15 – ketika Radja Pane meminta dia meluangkan waktu tuk kumpul bersama teman-teman kampus sambil bernyanyi bersama seperti reuni 12 jam pada 2015.

“Kapan, atur aja waktunya,” kata Iwan.

Malam sudah benar-benar jatuh di Leuwinanggung. Sebelum meninggalkan istana sang super star, Toro dan Mimi, masih sempat menggoda Iwan. “Selamat malam mas Iwan, kami pamit pulang ya mas Iwan …”

Wan, terima kasih sudah menerima kami. Sehat-sehat ya Wan ….(Benny Benke -69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *