Di manapun di Dunia, Sektor Energi Membutuhkan Konsistensi Kebijakan

JAKARTA, Suara Merdeka.Com.– Karakter pembangunan di sektor energi selalu membutuhkan investasi besar, padat modaL dan teknologi, serta memerlukan waktu panjang untuk mencapai titik impas. Dan karena kapasitas keuangan terbatas, sudah pasti Indonesia memerlukan kemitraan investasi internasional untuk mengembangkan sektor energi nasional.

“Namun investor sektor energi di manapun di dunia selalu membutuhkan keberlanjutan dan konsistensi kebijakan. Iklim investasi ini yang harus dibangun, bila kita mau mengembalikan sektor energi sebagai lokomotif pemulihan ekonomi ke depan,” kata Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said saat berbicara dalam diskusi publik virtual yang diselenggarakan Majelis Nasional KAHMI Bidang Energi dan Pertambangan dengan tema BUMN Energi & Tambang Dalam Pemulihan Ekonomi Nasional Akibat Covid-19, Selasa (28/7/2020).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2014-2016 memandang, situasi kebijakan energi yang berganti-ganti, tidak konsisten, dan tidak dapat diprediksi (unpredictable) membuat investor energi berpikir ulang untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Bahkan sejumlah perusahaan energi multinasional yang sudah lama berada di Indonesia pun siap-siap angkat kaki dari Indonesia.

“Kita belum bisa beranjak dari suasana batin yang menggelayuti pembangunan sektor energi kita, yaitu myopic, populis, ditambah dengan gendongan konflik kepentingan (vested of interest) para stakeholders yang memiliki kekuasaan atau kedekatan dengan politik,” imbuh Sudirman dalam disukusi yang juga menampilkanAnggota Komisi Energi DPR RI Herman Khaeron, Orias Petrus Moedak (Dirut PT Inalum), dan Suko Hartono (Dirut PT PGN Tbk) sebagai pembicara.

Lebih lanjut Sudirman menilai sektor energi nasional dalam kondisi tidak ada pertumbuhan yang memadai. Proyek-proyek yang dalam pipeline ditunda atau dibatalkan. Tidak ada yang bisa menolak analisis bahwa sebab utamanya adalah ketidakkonsistenan kebijakan energi.

“Di tambah dengan beban politik populis, dan kecenderungan mengabaikan pandangan teknokratis jadinya adalah penilaian (judgment) atau keputusan yang salah. Wajar jika para investor internasional berfikir ulang untuk masuk ke dalam sektor energi di Indonesia. Yang sudah lama masuk saja siap-siap keluar menghadapai ketidakpastian kebijakan itu,” urainya.

Menurut Sudirman, jika ingin sektor energi memberikan kontribusi yang besar untuk ekonomi nasional maka kembali pada semangat UU Energi dan semua ikutannya, seperti Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Umum Energi Nasioanl (RUEN).
Energi, lanjutnya, bukan lagi sekedar sebagai komoditas tetapi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakannya harus mengarah pada dipacunya sektor energi besar-besaran di antaranya dengan cara : kembali ke alam (back to nature), perkuat teknokratik dan minimalkan polititisasi, ikuti best practices global, dan minimalkan konflik kepentingan.

“Isi sektor ini dengan orang-orang terbaik yang fokus pada pembangunan kapasitas nasional,” pungkas Sudirman.(bn/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *