Deddy PAW: Datang dan Menjelang.

Jakarta, Suaramerdeka.News
Deddy PAW “mudik” lagi ke Jakarta. Setelah lama bertiwikrama di padepokannya di kaki bukit Menoreh, seniman kelahiran Magelang, 18 Oktober 1963, ini bersiap menggelar sejumlah karya terkininya. Dalam pameran seni rupa bertajuk ”Excursion”, yang akan digelar pada 8–27 Januari 2020 di Gedung D Galeri Nasional Indonesia.

Perupa yang pernah 16 tahun, sejak 1989 menjadi wartawan dan redaktur seni di Harian Media Indonesia, bersiap memberikan karya terbaiknya. Kali ini, lulusan FSR-IKJ, Jurusan Seni Murni, Program Studi Seni Lukis, ini menyoroti dunia dan semesta Ibu. Yang masih bertalian erat dengan dunia dan semesta apel.

Sebagaimana dimaklumi, sejak 2003, tema “apel enigmatis” menjadi landasan penciptaan karya-karya Deddy PAW. Penggunaan istilah enigmatis, sepenceritaannya, dipakai berdasarkan pertimbangan sifat ungkapan karya yang bersifat simbolik, mengundang tanya, misteri, atau teka-teki sekitar buah apel dalam konteks persoalan eksistensial manusia.

Bentuk buah apel pada karya-karya Deddy, dimaklumkan bukan lagi berhenti sebagai model seperti sering terjadi pada lukisan-lukisan alam benda (still life) pada tradisi seni lukis Barat.

Tetapi ia bisa sebagai simbolisasi dari makhluk hidup, bangsa, negara, cinta, perdamaian, prinsip, ajaran, idealisme, cita-cita, dan sebagainya tergantung konteks yang akan ‘dibicarakan’.

Menurut Deddy, tema ibu yang diangkat dalam pameran kali ini, berangkat dari pemahaman kasih sayang ibu terhadap anaknya tidak akan pernah habis.

“Serta tak akan pernah hilang dimakan waktu. Kasih ibu tak terbatas, selamanya, seumur hidup,” kata Deddy PAW di Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Dia menambahkan, sebesar apapun harta yang dimiliki, waktu yang tersita, serta peluh yang menetes sebagai perwujudan kasih sayang seorang anak kepada ibunya, tak akan mampu membalas atau menyamai jasa ibu.

Ide lukisan ini, menurut dia, diambil dari hadis Nabi Muhammad, yang mengatakan bahwa ‘Surga itu di Telapak Kaki Ibu’. Para ibu, kelak di surga berada di tempat tertinggi, dan setiap makhluk berada di bawah derajat tersebut.

‘Surga itu di Telapak Kaki Ibu’ adalah kata kiasan, karena menurut Deddy PAW, betapa kita wajib mentaati dan berbakti pada ibu.

“Mendahulukan kepentingan beliau, mengalahkan kepentingan pribadi, karena ibulah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui, serta mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan meraih kesuksesan hidup,” katanya merujuk pada lukisannya berjudul “Mothers love is Eternal ” (Kasih Ibu Sepanjang Masa) 2019. Berbahan cat minyak dan akrilik di kanvas berukuran 140 x 250 x 5 Cm 2020. Dan cat minyak dan akrilik di kanvas 115 x 165 x 12,5 Cm.

Lukisan karya Deddy PAW. (SMNews/Doc).

Hingga diibaratkan, imbuh Deddy, letak diri kita bagaikan debu yang ada di bawah telapak kakinya bila kita ingin meraih surga.

Satu ibu, tanpa membeda-bedakan dan tanpa pilih kasih, bisa merawat serta melindungi sembilan anak. Tetapi sembilan anak belum tentu bisa merawat dan melindungi satu ibu.

Pesan moral yang ingin disampaikan lewat lukisan ini adalah: Selalu hormat dan berbaktilah kepada ibu. Janganlah berbuat tidak sopan, kasar, dan sewenang-wenang, sebab surga itu di bawah telapak kaki ibu.

Banyak Gelar Pameran Lukisan.

Perupa yang telah memperoleh sejumlah penghargaan di bidang seni ini, telah lebih dari 100 kali berpameran bersama dan delapan kali berpameran tunggal, di antaranya di Art Seasons Gallery, Singapura pada 2009.

Ia juga telah puluhan kali ikut tampil dalam ajang pameran internasional di 16 negara, di antaranya di Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, HK, China, AS, Pakistan, Laos, Myanmar, Mesir, dan Prancis.

Karya-karya seni rupa Deddy, telah dikoleksi oleh para kolektor dari 30-an negara, di antaranya dipajang di dinding-dinding dan ruang publik: IBS Expertiza Company, Moscow, Russia. Australasia, Brookfield Asset Management, Sydney, Australia. SST Selvi Singapore Trading Pte Ltd, Singapura.

Satu dari sekian banyak lukisan karya Deddy PAW. (SMNews/Doc).

MAC Art Museum, Glass Island, Daebu-do, Korea Selatan. Tanoto Foundation, Jakarta dan Singapura. Benoit & Associes, and CYB Invest, Shanghai, China, dan Paris, Prancis. LWH Gallery, dan RedSea Gallery, Singapura.

Philippine Bank Communication, Manila, Filipina. Bank BNP Paribas Singapura dan Paris, Prancis. Apple Computer Company (Steve Jobs Company), USA. Pullman Hotel, Jakarta. Wisma Mulia, Jakarta.
Hotel Trio, Bank Bukopin, dan OHD Museum, di Magelang.

Sejak akhir 2010, Deddy mendirikan TUKSONGO Visual Arts House di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Pada 2014, rumah seni rupa ini kemudian berkembang dan berubah nama menjadi Padepokan APEL WATOE.

Selain sebagai studio dan galeri seni rupa kontemporer, di tempat ini juga tersedia kafe & resto, money changer, dan ruang kelas aerobic, line dance, serta yoga. Secara berkala, APEL WATOE Contemporary Art Gallery menggelar pameran seni rupa berskala nasional dan internasional. (Benny Benke – 69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *