Ciptakan Lapangan Kerja dengan Bisnis Minuman

-Mulai Thai Tea hingga Kedai Kopi Tiada Dusta

Tekadnya bulat, memilih keluar dari pekerjaan sebagai marketing perusahaan swasta. Lantas mulai menekuni wirausaha minuman Thai Tea di pinggir jalan. Seiring waktu, usahanya berkembang. Kini telah membawahi waralaba yang berjumlah 86 outlet di seluruh Indonesia. Bisnisnya pun bertambah, dengan membuka kedai kopi “Tiada Dusta”.

Icha Patricia (27) berbincang dengan rekan-rekannya di kedai kopi “Tiada Dusta”, Jalan Brigjen Katamso, Kota Semarang, Selasa (5/11). Sejenak, lantas menemui wartawan Suara Merdeka yang baru saja duduk. Lantas mempersilahkan pindah tempat duduk di kursi dan meja kayu. Letaknya paling dalam di kedai itu.

Senyumnya riang, rambutnya dicat pirang. Dia mengenakan setelan atas warna hitam polos, dan bawahan coklat susu. Jam tangan logam, menghiasi tangan kiri. Cat putih dan hitam mendominasi dinding, atap, pintu dan hampir seisi ruangan kedai itu. Kecuali kursi dan meja kayu yang berwarna coklat.

“Temanya monokrom, hitam-putih, vintage. Ya, ala-ala (tahun) 70-an,” kata gadis asal Lampung itu.

Kedai kopi itu, menjadi bisnis terbarunya. Hari itu sekaligus pembukaan, rekan-rekannya datang. Celoteh pengunjung penuh canda dengan memanggil Icha sebagai ibu Owner. Musik akustik mengiringi riuh di dalam kedai. Di luar, siang sedang mendung.

Icha merantau di Semarang pada 2014. Lima tahun berlalu, dia nyaman dengan Semarang. Tentu saja, dia sedang menjalani bisinis. Bahkan bisnisnya terbilang moncer. Sebanyak 86 outlet minuman Thai Tea yang dibawahinya di seluruh Indonesia berawal dari pinggir jalan di Semarang, serta sebuah kedai kopi “Tiada Dusta.

“Lima tahun ya di Semarang. Dulu kerja marketing, terus nyambi jualan (Thai Tea) pada tengah 2017. Saat itu di pinggir jalan. Di Jalan Pleburan. Lalu kok capek, akhirnya keluar dan fokus ke usaha ini,” kata gadis kelahiran Lampung, 24 Maret 1992 ini.

Mulanya teman-teman Icha mencibir. Bahkan sampai dijauhi teman-temanya karena memilih berjualan di pinggir jalan. Dia merasa sakit hati, dan berakhir pada pembuktian akan bisnisnya yang sukses itu.

“Ada yang bilang, eh kamu udah gak punya duit sampai jualan di pinggir jalan. Ya, banyak teman-teman mulai menjauhi,” terangnya.

Dari satu, bisnisnya bisa berkembang menjadi empat outlet. Hasilnya bisa digunakan untuk menyewa ruko dan mengembangkan usahanya dalam bentuk waralaba.

“Saya suka travelling, suka jajan, suka minuman. Kalau aku (merasa) bisa bikin minuman kenapa enggak coba bikin sendiri. Akhirnya mulai jadi wirausaha ini,” katanya.

Kopi Lampung

Kini, dia mencoba tantangan baru dengan membuka kedai kopi “Tiada Dusta”. Targetnya, sama dengan bisnis Thai Tea. Memiliki waralaba. Saat ini bahkan, segera membuka dua waralaba. Di Semarang, dan Pekalongan.

“Awalnya memang ingin mandiri. Sekarang saya ingin membuat banyak lapangan kerja dengan bisnis saya,” ujarnya.

Nama kedai “Tiada Dusta” cukup unik, setelah ada “Janji Jiwa” yang juga tengah tren. Icha berfikir, nama itu akan mudah diingat. Sekaligus sebagai strategi pasar. Sasaran marketnya adalah pelajar, mahasiswa, pekerja, dan keluarga. Semua kalangan bisa menikmati menu yang disajikan.

Di kedai kopi barunya, Icha membawa menu andalan Es Kopi Lampung dengan gula aren murni. Menurutnya, kopi lampung mempunyai rasa yang khas. Seperti campuran arabika dan robusta.

“Rasanya pahit-pahit asam, ha ha,” celotehnya.

Namun, di tengah kampanye perubahan iklim yang masif, pebisnis juga harus peka. Kedai kopi masih banyak yang menggunakan wadah atau cup plastik. Penggunaan cup plastik harus mulai diganti dengan wadah yang lebih ramah lingkungan. (Diaz A Abidin-58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *