Cintai Negeri Sampai Mati.

Film Jangan Berhenti Menyayangi Aku: Janji untuk Negeri (JBMA).

Jakarta, Suaramerdeka.News
Dedi Setiadi (71), salah satu sutradara senior yang menolak untuk berhenti berkarya, bersiap melahirkan karya terkininya. Masih dengan formulasi lamanya, Dedi Setiadi akan menyajikan film drama keseharian, yang isyunya dekat dengan persoalan orang kebanyakan.

Di film berjudul Jangan Berhenti Menyayangi Aku: Janji untuk Negeri (JBMA), Dedi Setiadi mengaku bahkan tidak akan menggunakan formulasi membuat film komersil.

“Ini bukan film komersil. Tapi film idealis. Karena judul dan ceritanya steril dari formulasi film komersil,” kata Dedi Setiadi di kediaman Haidar Alwi, selaku eksekutif produser JBMA di Damai Indah Golf, BSD, Serpong, Kamis (12/3/2020).

Dedi Setiadi dalam proses syuting film JBMA. (SMNews/Benny Benke).

Dia menambahkan, tidak sebagaimana formulasi yang digunakan dalam film komersil. Di film JBMA dia akan menyajikan drama sewajarnya, natural dan tidak lebai.

“Garis besarnya film ini bercerita tentang kematian dan jodoh ada di tangan Tuhan yang Maha Perkasa. Di atas semua, pesan besarnya, kita harus menyayangi sesama dan negara, ” katanya merujuk pada film produksi pertama rumah produksi Sinta Perkasa Film (SPF) dan Haidar Alwi Care (HAC).

Film JBMA terinspirasi dari sepenggal kisah perjalanan hidup Haidar Alwi. Yang diharapkan dapat menjadi inspirasi, motivasi dan menumbuhkan kecintaan terhadap negeri.

Haidar Alwi mengaku menjadi
saksi melunturnya toleransi, hilangnya tenggang rasa, melunturnya kecintaan terhadap negeri. Juga sikap-sikap radikal, menguatnya politik identitas yang memecah belah, kekerasan yang mudah tersulut dan yang paling menyedihkan baginya adalah munculnya sikap-sikap yang mendegradasi nilai-nilai kemanusiaan.

“Banyak orang bicara besar tapi hanya pencitraan. Tapi tidak dengan Haidar Alwi. Karena dia bicara apa adanya. Tapi di film ini saya menyutradarai tidak berdasar pandangan politiknya, tapi atas nama kemanusiaan. Ini film fiktif yang berangkat dari inspirasi kisah hidup Haidar. Jadi bukan film biopik,” imbuh Dedi Setiadi.

Haidar Alwi dan Dedi Setiadi di Syukuran Film JBMA. (SMNews/Benny Benke).

Di film yang dilakoni Nikita Willy, Seng Lota dan beberapa nama lainnya itu, Dedi Setiadi meminta semua pelakonnya berakting natural dan sahaja. “Akting yang baik adalah yang tidak berakting. Alias natural dan penuh kewajaran. Yang penting menjadi. Makanya saya tidak bisa membuat film yang lebay,” tekan Dedi Setiadi.

Nikita Willy, yang berperan sebagai toloh Miranti, mengaku tersanjung dilibatkan dalam proyek film ini. “Ada nama besar mas Dedi Setiadi. Makanya saya mau (dilibatkan dalam film ini), ” katanya. Nikita bercerita sosok Miranti adalah donatur besar LSM yang dipimpin Haidar. “Miranti akhirnya jatuh cinta dengan Haidar,” imbih Nikita Willy.

Seng Lota, yang berlakon sebagai sosok Kusrini juga mengaku senang terlibat di film yang mengambil lokasi syuting di Jakarta, Solo dan Papua, itu. “Saya berlakon sebagai istri pak Haidar,” kata Seng Lota ihwal film yang mengambil tagline: Aku sangat mencintai negeriku, dan aku ingin terus menyayangi negeri ini hingga nafas terakhirku.

Film JBMA diharapkan menjadi film drama kehidupan anak-anak kampung yang mampu menghadirkan nilai-nilai persahabatan, gotong royong, menghargai perbedaan, mudah memaafkan, menyayangi sesama tanpa memandang suku maupun golongan.

Dan nilai-nilai agama menjadi dasar bagi keluarga dalam mendidik anak-anak menyayangi sesama. Plus nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, menjadi landasan bagi keluarga menanamkan kecintaan terhadap negeri.

Haidar Alwi berharap, film JBMA nantinya, diharapkan dapat menang di festival film internasional, bukan hanya kelas nasional. Haidar berjanji separuh keuntungan film ini akan disodakohkan.

“Saya hanya ingin Indonesia satu, tanpa label mayoritas dan minoritas. Ayuk kita bangun dan bina bangsa ini bersama. Karena saya mendapatkan informasi dari banyak ulama besar dunia, Indonesia menjadi target negara ke tujuh yang akan dihancurkan, seperti di Suriah dan Yaman, ” katanya sembari bergegas meninggalkan tempat acara, karena mengaku hendak menghadiri sebuah rapat di Kemenhan.

“Yang pasti, film ini akan saya jadikan amal Jariah. Karena Indonesia butuh persatuan, bukan perkelahian,” tutupnya. (Benny Benke -69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *