Catherine Keng: Occupancy Rate (OR) Adalah Kunci.

Jakarta, Suaramerdeka.News— Menanggapi “sentilan” Lola Amaria selaku sutradara sekaligus produser film 6,9 Detik, tentang filmnya yang hanya diputar di 11 (sebelas) layar di wilayah Jakarta di hari pertama penayangannya pada Kamis (26/9) ini.

Sedangkan perolehan layar film Hayya, yang telah tayang sejak Seminggu lalu, atau tanggal 19 September, masih mendapat 15 layar di Jakarta. Juga film Pretty Boys yang masih tayang di 35 layar di Jakarta, serta film Danur 3 di hari pertama penayangannya malah mendapakan 40 layar di Jakarta, Catherine Keng, Corporate Communications Cinema XXI memberikan penjelasan.

Menurut Keng, setiap bioskop atau eksebitor memiliki mekanisme masingmasing dalam hal penentuan jumlah layar. Proses ini, sepenceritaannya, telah berjalan puluhan tahun, dan selalu di perbaiki dari masa ke masa. “Kami sungguh menyayangkan sikap bu Lola yang sudah sering menayangkan filmnya di bioskop (jaringan kami), (tapi) masih mempertanyakan hal yang sama,” kata Keng di Jakarta, Kamis (26/9) malam.

Dia menambahkan, masyarakat akan dengan mudah mengetahui performance sebuah film di hari pertama, dengan hanya melalui sistem online ticketing, seperti Mtix XXI. “Bisa dilihat dengan sangat jelas, bagaimana performance sebuah film di hari pertamanya,” katanya.

Sebagai informasi, imbuh dia, kebijakan penambahan ataupun pengurangan layar dilakukan berdasarkan kinerja film. Dan dibuktikan dengan tingkat Occupancy Rate (OR)-nya setiap hari tayang, berdasarkan animo dari penonton.

Occupancy Rate adalah jumlah penonton dibagi dengan jumlah kursi yang tersedia. “Kami tidak perlu membuka angka OR film 6,9 Detik di sini. Karena justru dapat berdampak lebih buruk lagi bagi film tersebut,” kata Keng.

Pada prinsipnya, sepengakuan Keng, jaringan bioskop XXI selalu berusaha mendukung perfilman nasional. Namun dukungan itu, menurut dia, sering disalah-artikan oleh beberapa sineas dengan meminta ‘mengistimewakan’ film mereka.

“Tentu kami tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Karena pada akhirnya ‘pengistimewaan’ satu film akan mendiskriminasi film sineas lain, dan sekaligus merampas kesempatan film lain utk memaksimalkan hasil penontonnya,” jelasnya.

Keng sangat yakin masyarakat perfilman nasional dan penonton Indonesia sudah sangat mengerti bagaimana mekanisme ini berjalan. Dan menurut dia berhasil meningkatkan market share film Indonesia secara umum. “Karena mekanisme ini juga berlaku di seluruh dunia,” ujarnya.

Keng menegaskan, sebuah film akan berhasil atau tidak, laku atau tidak, sepenuhnya ada di tangan penonton.

Mengetahui tanggapan Chaterine Keng, Lola Amaria dengan santai menjawab, “Gak menjawab pertanyaanku,” katanya. Karena sejatinya yang diaminta dari pihak XXI sangat sederhana.

Yaitu mengapa layar di bioskop Metropole, Kemang Village, dan Gading tidak diberikan sesuai dengan permintaannnya, meski jauhjauh hari dia memintanya. Karena di tiga layar bioskop tersebut, menurut Lola, ceruk penonton film 6,9 Detik sangat bagus sekali. Tersebab banyak agenda Nobar (nonton bareng) akan digelar di sana.

“Gak dikasih (oleh XXI). Padahal udah minta baikbaik. Karena ada banyak yang mau nobar (di tiga layar bioskop itu). Intinya, aku gak minta layar banyak. Cuma minta ditambah di 3 lokasi itu. Ampun dah,” kata Lola Amaria yang sangat menyadari, langkah beraninya mempertanyakan ihwal pembagian layar tidak akan mengubah keadaan. Meski sepemahamannya, nasib baik hanya berpihak pada orangorang pemberani. Dan Lola Amaria sudah berusaha menjadi berani. (Benny Benke-69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *