Bulan Juni, Tiga Candi Ini Siap Dibuka

YOGYAKARTA – Selama pandemi Covid-19, PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan dan Ratu Boko (Persero) tutup.  Maka bila tidak ada halangan bulan depan atau bulan Juni kawasan wisata kebanggaan bangsa siap dubuka kembali.

Namun operasional baik di Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, tetap menerapkan protokol Covid-19 dengan teliti dan ketat. Sehingga semua pengunjung merasa aman dari ancaman virus yang menyerang paru-paru dan pernapasan tersebut.

“Saat ini kami mulai melakukan berbagai persiapan mulai dari perbaikan hingga peningkatan standar kualitas pelayanan. Kami siap menjalankan pariwisata yang bersih, sehat, dan aman bagi pengunjung,” kata Edy Setijono, Direktur Utama PT TWC Borobudur Prambanan Dan Ratu Boko, kemarin.

Apa yang disampaikan itu, menurut Edy  Setijono, berkaitan dengan fase kehidupan normal baru atau ‘new normal’ langsung disambut positif pelaku wisata. Mereka siap menerapkan pola hidup baru wisatawan di tengah pandemi virus corona dengan protokol ketat penanganan virus Covid-19.

Dijelaskan Edy, operasional pelayanan pariwisata tersebut sesuai dengan arahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). New Normal Pariwisata yang dilakukan TWC, lanjut dia, juga mewajibkan seluruh wisatawan menggunakan masker dan menerapkan physical distancing. “Jadi yang tidak menggunakan masker kami tolak untuk masuk,” ujar Edy.

Setiap wisatawan yang masuk juga dicek suhu tubuhnya. Usai dicek suhu tubuhnya, wisatawan akan diberi stiker berwarna sesuai dengan statusnya. Suhu tubuh di bawah 37,5 derajat celcius, akan diberikan stiker warha hijau. Stiker kuning, untuk suhu tubuh 37,5 hingga 37,7 celcius, sedang yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat, diberikan striker warna merah.

“Ini bukan untuk membuat ketakutan, tetapi memberikan attention dan pelayanan kepada wisatawan. Mereka yang berstiker kuning akan mendapatkan pengawasan khusus. Yang berstiker merah akan diarahkan ke klinik kesehatan dan akan mendapatkan treatment,” katanya.

Pihaknya juga menyediakan hand washing stations tiap 100 meter, signage dan information board protocol Covid-19, menempatkan customer service secara mobile. “Untuk mengurangi interaksi antara petugas dan wisatawan, kami menerapkan pembayaran sebagian loket ticketing secara cashless,” katanya.

Edy mengatakan, operasional pelayanan tersebut tidak hanya untuk kepentingan TWC tetapi juga pada bagaimana bisa menggerakkan roda ekonomi disekitar yang sudah tidak bergerak sejak beberapa bulan terakhir.

“Selama tiga bulan kami tidak beroperasi, tentu tidak ada pendapatan yang masuk. Ekonomi di sekitar yang mengandalkan pariwisata seperti UKM, travel agent, perhotelan juga tidak bergerak,” katanya.

Dengan diterapkannya ‘The New Normal’ Pariwisata dia berharap dapat membangun kepercayaan wisatawan, sehingga dunia pariwisata dan perekonomian di kawasan sekitar destinasi kembali berputar.

“Kami berharap ini dapat kembali membangkitkan perekonomian masyarakat. Tentunya dengan tetap mengikuti anjuran pemerintah menggunakan masker, jaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun,” kata Edy. (sgt/67)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *