Buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda: Bercanda di Jalan Yang Benar.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Meminjam bahasa Putu Fajar Arcana, kawan cerpenis dan kolumnis, yang mengatakan penekun sastra adalah adalah penghayat kata-kata. Yang memperlakukan kata sebagai “benda sakral”, dan laku peribadatannya sebagai ritual bersama dalam menggalang kemaslahatan moral publik.

Tentang kemaslahatan moral publik ini, bisa kita sematkan kepada sosok Marchella FP. Betapa tidak. Setelah sukses dengan buku ”Nanti Kita Cerita Tentang Hari lni” (NKCTHI) yang diklaim terjual habis di menit pertama dan cetak ulang sampai 12 kali dengan total penjualan Iebih dari 130.000 eksemplar selama kurang dari 1 tahun, Marchella FP merilis prekuel berjudul ”Kamu Terlalu Banyak Bercanda” (KTBB) dengan genre flash fiction.

Kita tidak sedang membicarakan apakah karya Marchella FP, dara ayu nan lucu ini, sudah masuk kategori susastra atau tidak. Tapi kemuliaan yang ingin diabagikan kepada pembaca karyanya dan sesamanya.

Lihatlah, saat merilis secara resmi buku setebal 194 halaman, terbitan PT. Kebahagiaan Itu Sederhana, Marchella FP yang merangkap sebagai ilustrator buku, memilih tempat sahaja, yang bisingnya audzubillah. Tepat di bibir jalan Kesehatan Raya, Bintaro, Jaksel. Hanya berjarak sebenang dengan jalan pengkolan, di mana toko buku Erlangga, yang tampak kusam, kelam, dan diabaikan pengguna jalan, menolak untuk mati dan terus bertahan dengan mendagangkan buku, dengan mempertahankan toko buku fisiknya. Di tengah gempuran keberadaan toko buku online.

Rilis Buku KTBB. (Suaramerdeka.News/Benny Benke)

Pilihan merilis buku di toko buku Erlangga di Bintaro, yang seperti ditelan zaman itu, di sebuah ruangan sepetak yang menjorok ke dalam, sehingga sesak saat puluhan orang masuk ke dalamnya, bukan tanpa alasan.

Bagi Checel — demikian Marchella FP disapa– toko buku kecil seperti Erlangga di Bintaro, tidak hanya sekadar penyalur buku. Tapi juga menyimpan kenangan baginya. Checel sedang bernostalgia, dengan bayaran bisingnya acara rilis buku digempur suara motor sport yang acap wara wiri di jalan itu.

Tapi dia tidak perduli. Karena Checel ingin berbagi rejeki seperti para nabi. Dengan menjual buku KTBB di toko buku Erlangga, sekaligus merilisnya, dan siapa tahu banyak pencintanya yang membelinya, “Kita bisa bantu menghidupkan lagi para pahlawan bisnis lokal. Makanya, saya ingin mengajak banyak orang untuk merekomendasikan toko buku kecil untuk KTBB,” kata Checel seperti bernubuat.

Checel yang Ayu dan Lucu. (Suaramerdeka.News/Benny Benke)

Checel tidak sedang berpetatah petitih hendak menjadi nabi. Justru sebaliknya, dia beberapa kali mengatakan, buku terkininya itu, pesan besarnya berbunyi lantang, “Manusia jadi manusia aja. Di jaman media sosial saat ini, banyak manusia seolah (ingin) menjadi Tuhan. Jadi, jangan lupa bercanda,” katanya sambil tertawa, bercanda. Guyon dengan MC nya yang juga lucu dan tidak wagu, Kamis (25/7) sore.

Checel menambahkan, “Pasti ada di antara kita yang punya toko buku favorit di masa kecil dan merasa toko buku tersebut berjasa dalam menyediakan kebutuhan buku dan perlengkapan lainnya. Tapi makin ke sini, toko buku kecil makin Sepi pengunjung bahkan terpaksa tutup,” katanya masygul.

Untuk itu, dengan segala kemampuannya yang terbatas itu, dia ingin sedikit memberi andil, agar toko buku toko buku kecil lainnya, yang memilih menolak mati, dengan tetap bertahan, sebagai tempat menjajakan bukunya.

Padahal sebenarnya, Checel yang pelan dan pasti telah menjelma penulis pesohor itu, bisa saja menggelar prosesi rilis bukunya di mall yang adem, keren dan milenial. Tapi dia tidak melakukan itu. Alihalih di mall dan tempat sejenis, dia memilih toko buku kecil yang brisik, sumuk, dan kusam.

Meski sebenarnya dia juga telah menjalin kerjasama dengan Blibli.com sebagai distributor ekslusif buku KTBB. Sebagaimana diamini Wenny Yuniar, VP Home and Living Category Blibli.com. Pihak Blibli.com dan Checel sepakat untuk mengangkat potensi toko buku kecil yang menjadi bagian pahlawan literatur dengan sebutan ‘Pahlawan Bisnis Lokal”.

Dukungan terhadap bisnis dan produk lokal sebagaimana dijelaskan Wenny Yuniar, menjadi komitmen institusinya sejak awal berdiri.

“Kami sangat senang Checel dan Blibli.com memiliki misi yang sama. Menjadi rekanan toko buku kecil untuk penjualan buku KTBB merupakan bentuk dukungan kami untuk membangun industri literatur di Indonesia,” katanya sembari menambahkan, akses juga semakin luas dan mudah untuk anak-anak muda bisa mendapatkan buku KTBB.

Dia menerangkan preorder pertama buku KTBB langsung mencapai angka 1.000 eksemplar edisi spesial box set KTBB. Yang terbit tepat di hari ulang tahun ibunda Checel (8 Mei 2019), habis dalam waktu 3 menit saja. Begitu juga dengan 5.000 eksemplar preorder kedua dan Iebih dari 10.000 eksemplar penjualan online.

Rilis buku KTBB yang Sahaja tapi Manfaat. (Suaramerdeka.News/Benny Benke)

Melihat potensi besar pasar literatur, yang sejatinya di Indonesia di mata Checel berada pada titik nadir, KTBB dianilai berhasil memberikan warna baru untuk menaikkan minat baca para milenial. “Biar anakanak sekarang ngga cuman ngemall. Banyak kegiatan positif lain, seperti membaca buku, ” katanya.

Checel bercerita, saat berposes kreatif menulis sejumlah bukunya, dia lebih suka mengurung diri. Serta menikmati dan menggunakan kesedihan untuk fondasi menulis. “Sampai harus ketemu terapis untuk ngobrolngobrol. Lalu umroh setelah pembuatan buku. Setahun berproses lega kayak bikin skripsilah, ” kata Checel yang menghimbau pembaca bukunya agar tak malumalu membuka pikiran dan hatinya. Dengan harapan wawasan kehidupan dan kelapangan hatinya makin bertambah.

“Ada yang mau bunuh diri, ngga jadi setelah baca buku pertama saya. Yang introvert jadi lebih terbuka. Karena terwakilkan dengan buku pertama. Buku pertama dan kedua seperti Yin and Yang, saling terkait,” katanya sembari menekankan, di buku KTBB pada dasarnya semua orang adalah korban dirinya masingmasing.

Checel Banyak Bercanda Saat Rilis buku KTBB.(SMNews/Bb)

Atau menurut Checel KTBB adalah sisi gelap untuk terangnya NKCTHI. Atau sisi lain Awan, tokoh utamanya yang jarang ditunjukkan seperti kemarahan, kesedihan, perasaan ragu, dan ketakutan. “Intinya. manusia ya jadi manusia aja,” kata Checel.

Buku KTBB sepengakuan Checel baru berani diaterbitkan setelah 10 tahun, sejak pertama dia menulis KTBB di tahun 2008. Potongan tulisan dia rangkai menjadi pesan dari Awan untuk masa depan, mewakili mereka yang kesulitan mendeskripsikan perasaannya, serta menjadi teman bagi mereka yang menyimpan sisi gelapnya sendirian.

“Meski kita tahu, pada dasarnya masalah manusia patternnya terulang, dengan pola yang berbeda. Jadi, apapun itu, semoga kita masih punya waktu bercanda di tengah kesibukan hidup kita,” pungkas Checel cengengesan seperti membenarkan adagium lawas, “Tidak ada yang baru di bawah matari”. (benny benke – 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *