- Politik

Budayawan Suarakan Keprihatinan Perpecahan Jelang Pilpres

JAKARTA – Sejumlah budayawan yang bergabung dalam forum musyawarah seniman, budayawan, cendekiawan dan ilmuwan menyatakan keprihatinannya dengan perpecahan di masyarakat yang terjadi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April 2019. Mereka pun mengajak masyarakat menjaga keadaban publik,​ agar Indonesia tetap damai.
Kumpulan budayawan yang menamakan diri Mufakat Budaya Indonesia (MBI) itu antara lain Radhar Panca Dahana, selaku koordinator. Lalu ada Adi Kurdi, Niniek L Karim, Donny Gahral A, Toni Q, Renny Djajoesman, Dindon WS, Olivia Zalianty, Anto Baret dan beberapa nama lainnya.
Radhar mengaku cemas dengan keyakinan beberapa pihak yang menyebut paska Pilpres 17 April siapapun yang menang dalam Pemilu Presiden,​ Indonesia pasti ribut.​
“Itu yang saya dengar. Ini nggak bener,” protesnya saat membacakan Pernyataan dan Imbauan MBI di Warung Apresiasi (Wapres) , Bulungan,​ Jakarta,​ Selasa (12/3) petang.​
Menurutnya kalau mayoritas orang yang melek kebudayaan memilih menjadi the silent majority,​ tapi kemudian yang terjadi seperti sekarang,​ itu menjadi berbahaya.​
“Kita harus mengekspresikan diri lewat kebudayaan. Kalau kebudayaan tidak bersuara,​ maka Indonesia bisa pingsan,​ dan menjadi zombie. Bagi yang membiarkan Indonesia hancur karena perpecahan politik seperti sekarang, maka ia adalah kianat dan laknat,” pekikya.​
Hal senada dikatakan Dr.​ Donny​ Gahral Adian. Menurut pengajar Filsafat UI itu, Indonesia di ambang kehancuran. “Karena perang politik telah membelah republik ini,” katanya.​
Menurut dia,​ Indonesia akan menghadapi kejadian seperti di Suriah, Sudah,​ Libia dan banyak negara lainnya, jika membiarkan ketegangan politik ini berlarut larut.​ Dan ia meyakini yang bisa mengobati ini hanya budaya.
“Setelah politik praktis membelah bangsa Indonesia, budayalah obatnya,” tandasnya.
Lebih jauh Doni mengingatkan bahwa perpecahan negeri ini sangat diinginkan kekuatan asing.​ “Balkanisasi terjadi di negara lain. Jangan sampai terjadi di Indonesia,” serunya.
MBI menilai perpecahan kelompok masyarakat yang didasari oleh perbedaan agama, keyakinan, suku bangsa, dan terutama pilihan politik sekarang ini sudah semakin memprihatinkan. Bahkan yang semakin nyata terjadi perpecahan itu sudah sampai pada tingkat personal dan hubungan keluarga/rumah tangga.​
“Jika perpecahan seperti ini dibiarkan, sangat membahayakan Indonesia.​ Saatnya kita berbalik kepada kebudayaan,​ sebelum bangsa ini hancur sebagai sebuah bangsa,” sambung Radhar.
Ia mengaku Pernyataan dan Imbauan MBI sudah disampaikan ke beberapa puncuk pimpinam politik di Indonesia.​ ​Tapi imbauan itu sama sekali tak didengar, karena mereka hanya berpikir tentang kekuasaan.
Meski demikian MBI meyakini, gerakan budaya ini,​ sebagaimana ditekankan Niniek L.Karim tetap akan memberikam dampak penting demi menjaga keutuhan Indonesia.​
“Mari kita suarakan kebudayaan agar Indonesia tetap ada,” kata Niniek. (Benny Benke/67).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *