Bianca, Turut Sukseskan “Di Bawah Langit Biru”.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Pujangga India, Rabindranath Tagore, dengan penuh kedalaman pernah bersyair, “Setiap anak adalah suatu pesan, betapa Tuhan belum jera dengan manusia”.

Demikianlah, betapa istimewanya anakanak kita di mata Tuhan, sehingga dititipkan kepada kita para orang tua, yang juga baru belajar menjadi orang tua yang baik dan laras.

Bianca Rayya Mashurie (5), adalah salah satu anakanak itu. Yang dengan keriangan, kepolosan, ketulusan, dan kesungguhannya terlibat dan melibatkan diri dalam perhelatan Ballet & Jazz Dance School Production 2019. Dengan tema “Di Bawah Langit Biru” yang melibatkan murid-murid ballet tingkat Pre Ballet, sampai dengan Grade 2 dan Jazz For Kids, Namarina.

Bianca Rayya Mashurie setelah pementasan Di Bawah Langit Biru. (SMNews/Benny Benke).

Pada Minggu (13/10) siang kemarin, bertempat di Teater Jakarta, TIM, Bianca bersama sejumlah kawankawannya dari Pre Primary Namarina, Kebayoran, menunjukkan aksi menggemaskannya.

Di bawah bimbingan Tri Prasetyaningtyas, ARAD (Associate of the Royal Academy of Dance), aksinya sebagai Anak-Anak Mall, berhasil menghidupkan cerita.

Terlebih saat kawan seperbaletannya, seperti Adara Megumi Ayoedhini Lisdiarto, Adriana Kaitlyn Kantono, Alyka Fianna Alizar, Andrea Jemima Hardiana, Arini Aulia Putri, Ayasofya Azzahra D, dan Carissa Audree, juga beraksi dengan tak kalah lucunya.

Tentu masih jauh dari sempurna.gerakan ballet mereka semua. Tapi sebagai kanakkanak, sudah berani berdiri di atas panggung yang megah, besar dan bermandikan cahaya, serta di bawah sorotan lampu — ini yang paling utama — dan tatapan ratusan pasang mata penonton, adalah sebentuk kemenangan serta prestasi tersendiri.

Di Bawah Langit Biru. (SMNews/Lestari Setyaningrum).

Mengajari anak berani mengekpresikan kreatifitas mereka adalah sebuah pencapaian. Oleh karenanya patut diapresiasi. Meski peran Anak-Anak Mall dalam pementasan yang dimatangkan oleh Maya Tamara LRAD-ARAD, selaku Direktur Artistik, tidak kunci, tapi tetap memberi arti.

Karena sejatinya, tidak ada peran besar atau kecil dalam sebuah pertunjukan. Semua peran saling mengait dan melengkapi.

AnakAnak Mall dalam Pertunjukan Di Bawah Langit Biru di Teater Jakarta, TIM (SMNews/Lestari Setyaningrum).

Narasi dalam Di Bawah Langit Biru, sebenarnya sederhana. Tentang Risa, seorang anak  yang dikisahkan tumbuh di lingkungan perkotaan. Dan belum menyadari pentingnya “memanjakan” indera yang dimilikinya. Hingga pada sebuah program Iive-in yang diadakan oleh sekolahnya, Risa belajar banyak hal. Sebuah pengalaman yang akan mengubah pandangannya terhadap alam di sekitarnya.

Meski ceritanya sederhana, tapi pesan yang dibawanya sejatinya sangat esensial. Tentang bagaimana seorang anak harus mengenal lingkungannya, sebaik dia harus mengenal dirinya sendiri. Dan orangorang terdekatnya.

Sebagaimana dijelaskan Maya Tamara, LRAD, ARAD selaku PrincipaI dan Artistic Director Namarina, lakon “Di Bawah Langit Biru”berangkat dari tema besar
mengenai Lingkungan. “Dan Namarina menggarap isu ini melalui akar yang dimilikinya, yaitu Tari,” kata Maya Tamara.

Diawali dengan pementasan pada bulan Agustus lalu di sebuah bangunan bersejarah di Jakarta, Namarina Youth Dance (NYD) Season Performance, imbuh Maya Tamara, mengangkat tentang sikap masyarakat Jakarta dalam merespon lingkungannya, saat masih menjadi Batavia tempo doeloe, Jakarta saat ini, dan harapan terhadap Jakarta di masa depan.

Oleh karenanya, Ballet & Jazz Dance School Production for Beginner tahun ini mengangkat tema “Di Bawah Langit Biru”. “Sebuah karya orisinil yang diciptakan untuk semakin menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap lingkungan sekitar, sekaligus kembali ‘memanjakan’ seluruh indera yang dimiliki dengan mengalami sendiri indahnya alam ciptaan Tuhan,” kata Maya Tamara.

Lakon Di Bawah Langit Biru, yang pembiayaannya dilakukan secara swadaya oleh para orang tua didik di Namarina, diikuti sekitar 800 orang murid dari seluruh studio Namarina School Production yan tersebar di Jakarta

Bianca dan rekan. (SMNews/Benny Benke).

Kegiatan ini, adalah bagian penting dari kurikulum sekolah yang bergerak di bidang Seni Pertuniukan (performing arts).

Saking banyaknya peserta didik di Namarina, pagelaran berlangsung dengan dua pembagian waktu:

Pertunjukan 1 pk. 10.00-12.00 oleh muridmurid Studio Pusat, Tebet, Jakarta Barat dan Duren Sawit.

Pertuniukan ll pk. 15.00-17.00 oleh murid-murid Studio Kebayoran, Bintaro, Pondok lndah dan PIK.

Masih menurut Maya Tamara, pertunjukan ini diharapkan bermanfaat bagi perkembangan para murid, antara lain untuk mempertajam technique, musicality dan performance. Serta menumbuhkan bakat dan minat pada Seni dan kebugaran sejak usia dini.

“Di luar persoalan menanamkan rasa percaya diri, dan keberanian untuk tampil di atas panggung. Yang kesemuanya diharapkana akan mempunyai dampak positif pada diri masingmasing hingga mereka dewasa nanti,” tuturnya.

Bianca pasca pementasan Di Bawah Langit Biru. (SMNews/Bb).

Karena, sebagaimana dipesankan Tagore, anak-anak adalah masa depan kita. Berada dalam fase kanak-kanak adalah sebuah tahap awal untuk mendapatkan bekal yang luar biasa bagi masa depannya. Turunannya, para orang tua harus mengisi waktu anakanak dengan menjaga kepekaan dan kepeduliannya. Hingga menjadi insan yang berguna untuk sekelilingnya, juga untuk nusa dan bangsa.

Tentang Namarina.

Namarina mempunyai misi menciptakan anak-anak yang percaya diri, kreatif, mampu bekerjasama, mempunyai kepekaan estetik, dan berjiwa sosial. Selain itu, mereka diharapkan dapat mengerti dan memahami pentingnya Seni dalam kehidupan, agar mampu menjadi manusia yang disiplin, peka, inovatif, dan dapat memberikan solusi.

Namarina didirikan pada tahun 1956 oleh Almarhumah Nanny Lubis. Di dunia Seni dan Pendidikan, Namatina dikenal sebagai institusi pendidikan non-formal pertama di Indonesia yang bergerak di bidang seni tari ballet dan jazz serta kebugaran (fitness).

Saat ini Namarina dipimpin oleh Maya Tamara sebagai PrincipaI/Artistic Director.

Sejak tahun 1975, Namarina telah berafiliasi dengan The Royal Academy of Dance (RAD), sebuah institusi pendidikan tari terkemuka yang berpusat di London, Inggris.

Disamping itu, Nanarina secara rutin mengadakan ujian lokal di bidang ballet dan jazz, dan saat ini juga masih mempersiapkan kurikulum tari berbasis kompetensi tingkat nasional di kedua bidang tari tersebut.

Tahun ini Namariba menginjak usianya yang ke-63 tahun. Salah satu tekad bulat Namarina menjadikan profesi penari menjadi salah satu profesi yang setara dengan profesi lainnya di masyarakat. Caranya dengan mendirikan sebuah semi-professional dance company yang diberi nama Namarina Youth Dance (NYD) pada tahun 2006.

Hingga kini Namarina tak pernah berhenti menyelenggarakan sekaligus mengembangkan kegiatan ballet, jazz dan senam kebugaran fitness) di Tanah Air maupun di dunia Internasional. Serta terus menghasilkan guru tari, instruktur senam, penari, dan koreografer yang berbakat dan berdedikasi di bidangnya. (benny benke – 69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *