Berburu Makanan Tradisional di Pasar Pinggir Alas

EMPAT perempuan bersepeda berhenti di sebuah pintu gerbang berbahan bambu. Setelah bertanya sebentar, mereka akhirnya memasuki area pasar yang penuh dengan pengunjung.
Suasana di Pasar Pinggir Alas itu terkesan tradisional. Beragam ornamen dari bambu terpasang menghias pintu. Pria berbeskap dan perempuan berjarit menyambut di pintu dengan senyum terkembang.
Saat memasuki area dalam, terlihat beberapa tampah terpasang, lengkap dengan tulisan-tulisan menghibur. Beberapa sudut disiapkan hiasan untuk berswafoto ria, sehingga banyak pengunjung yang tidak melewatkan kesempatan ini untuk berfoto.
Sebelum membeli makanan, minuman, dan cenderamata yang dijual, pengunjung harus menukarkan uang di dekat pintu masuk. Pasar ini hanya menerima transaksi pembayaran dengan menggunakan uang kepengan yang terbuat dari batok kelapa. Satu kepeng uang setara dengan Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu.
Pengelola Pasar Pinggir Alas, Sudiro mengatakan, ide untuk membuat pasar ini dilatarbelakangi keinginan untuk memberdayakan masyarakat desa. Setelah berdiskusi dengan sejumlah pelaku wisata, akhirnya lahan milik Sudiro seluas 3.000 meter persegi dimanfaatkan untuk membuat pasar digital.
Di tempat tersebut terdapat 80 lapak. Namun baru 65 yang terisi untuk stan makanan dan 10 stan untuk suvenir. “Lapak yang masih kosong disebabkan karena sejumlah pedagang mengalami kendala. Karena pedagang tidak hanya berasal dari Banyumas, tapi juga luar kota seperti Purbalingga,” ujar Sudiro usai peresmian pasar dengan konsep kuliner tradisional, Sabtu (15/6).
100 Jenis
Pasar ini, kata dia, menjual lebih dari 100 jenis makanan tradisional. Mulai dari jajanan pasar, minuman tradisional, dan makanan khas jaman kuno. Ada banyak minuman tradisional diantaranya wedang cleblek (kopi), es mutiara, jahe, uwuh, dawet ayu, badeg (air nira), es cau (cincau), bajigur dan sebagainya. Sedangkan jajajan tradisional terdapat mendoan, gudeg ciwel, cenil, inthil, pecel, gebrak, candil, buntil, grontol, krawu, lopis, oyek, klepon, kemplang, srabi, awug-awug hingga nagasari.
Pasar tradisional ini rencananya buka setiap hari Sabtu dan Minggu serta hari libur nasional. Waktu operasional mulai pukul 06.00 hingga 17.00. “Sebagai suguhan hiburan ada musik tradisi juga seperti kentongan dan calung,” tuturnya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Asis Kusumandani mengapresiasi inisiatif warga kawasan wisata Baturraden yang membuka destinasi wisata digital ini. Dia mengingatkan pengelola untuk tetap menonjolkan keunikan dan ciri khas sebagai identitas pasar tersebut. “Yang penting jaga kebersihan tempat dan makanan, perbanyak tempat selfie, dan upayakan pasar ini memiliki ciri khas tersendiri. Jadi tidak terkesan menjiplak di tempat lain,” ujarnya.
Salah satu pengunjung, Narco Icuk mengatakan, tempat tersebut sangat cocok untuk menikmati makanan dan berfoto ria. Ia juga menyempatkan diri untuk menikmati jajan khas Purwokerto yaiu mendoan dan ketupat. “Tempatnya lumayan bagus makanan tradisionalnya juga enak. Bisa ngopi di alam terbuka,” ujarnya.(Nugroho Pandhu Sukmono-60)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort