Berburu Energi Baru dari Timbunan Sampah

AGUS Junaidi tak mengira gagasan sederhana kala masih menjabat sebagai Kepala UPTD Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang pada 2014 mampu meringankan beban ekonomi lebih 100 KK di sekitar TPA. Bahkan kini, TPA tersebut mampu memproduksi listrik dan dalam waktu dekat akan segera diinterkoneksikan dengan jaringan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Idenya muncul ketika iseng-iseng menyulut korek di atas galian timbunan sampah, lalu bisa keluar api biru dari gas metana. Kalau malam pun, petugas sering membakar ubi menggunakan gas metana tersebut,” ungkap Agus.

SM/Hartatik
Armada truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang antre di jembatan timbang TPA Jatibarang Semarang.

Bermula dari gagasan sederhana ini, Agus yang kini menjabat Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kala itu berinisiatif menyalurkan gas metana dari timbunan sampah ke rumah warga di sekitar TPA, khususnya Dusun Bambankerep. Gas metana yang disalurkan melalui pipa paralon berdiameter lima sentimeter itu menjadi alternatif bahan bakar memasak.

“Pertimbangannya sederhana, saya hanya ingin membantu warga sekitar TPA agar bisa memanfaatkan gas metana ini secara cuma-cuma untuk bahan bakar masak. Apalagi gas metana ini berbahaya kalau terlepas ke udara, jadi lebih baik dimanfaatkan,” imbuhnya.

SM/Hartatik
Timbunan sampah berusia 10 tahun dengan kandungan gas metana yang tertutupi lapisan membran terlihat dari area zona buang sampah (landfill).

Gagasan itu pun mendapat pendanaan dari APBD Kota Semarang hampir Rp 200 juta. Anggaran dialokasikan untuk membangun instalasi gas metana lengkap dengan blower, pengadaan dan pemasangan pipa dengan jangkauan hingga 1,2 km dari TPA ditambah kompor untuk 100 KK.

Warga yang mendapatkan bantuan suplai gas metana ini pun sudah lengkap dengan kompor yang dimodifikasi khusus, tersambung dengan keran pipa gas metana dari TPA. Lebih lanjut, Agus menjelaskan bagaimana gas metana bisa muncul.

“Gas metana muncul dari sampah yang tertimbun di TPA selama bertahun-tahun. Setiap satu meter kubik gas metana setara dengan energi yang dihasilkan 0,48 kg gas elpiji.”

Lalu Agus menggagas untuk mengalirkan gas metana berkapasitas 72 meter kubik dari timbunan sampah di TPA, secara gratis ke 100 rumah warga di Dusun Bambankerep. Salah satunya ke Kantin Gas Metan yang dikelola Sarimin (52) dan Suyatmi (47).

Untuk mendorong masyarakat peduli terhadap sampah, kantin yang berada di jalur masuk TPA Jatibarang ini tidak menggunakan uang, melainkan sampah plastik sebagai alat transaksi pembayaran. Konsumennya didominasi para pemulung yang sehari-hari mengais sampah di TPA ini.

SM/Hartatik
Karung berisi sampah daur ulang berupa plastik, rongsok logam dan kertas sebagai alat pembayaran ditumpuk di depan Kantin Gas Metan TPA Jatibarang.

Setiap hari kantin tersebut tak pernah sepi. Suyatmi mengatakan, kantin yang digagas Agus Junaidi tersebut hampir empat tahun berdiri. Ia bersama suami, awal mulanya bekerja sebagai pemulung, mencari rongsok di TPA.

“Siang hari cari rongsok bersama suami, kalau pagi dan sore ikut orang kerja di warung sekitar TPA,” ungkap ibu dua anak ini.

Tawaran mengelola kantin berbayar sampah ini pun disambut senang oleh pasangan suami istri dari Kabupaten Rembang itu. Mereka tidak harus pusing memikirkan bahan bakar untuk memasak, karena kebutuhan gas sehari-hari disuplai dari TPA. Bahkan gas metana yang dialirkan dari TPA juga bisa digunakan untuk menghidupkan lampu. Suyatmi mengaku, nyala api dari gas metana tidak berbeda dengan elpiji, warnanya biru dan cepat matang untuk memasak.

“Sama sekali tidak bikin langes (hitam) alat masak. Kompor yang digunakan juga khusus. Kalau mau masak tinggal buka keran pipa (gas).”

SM/Hartatik
Suyatmi, pemilik Kantin Gas Metan berbayar sampah daur ulang di TPA Jatibarang tengah memasak makanan.

Sehari-hari, kantin ini buka mulai pukul 05.00 sampai pukul 21.00. Pada awal berdiri, Sarimin dan Suyatmi hanya menerima sampah plastik sebagai alat pembayaran. Namun kini berkembang, rongsok logam dan kertas pun bisa menggantikan peran uang.

Bahkan pelanggan kantin kini tidak lagi repot menimbang sampah yang akan mereka serahkan sebelum makan. Namun cukup mencatat bon, tagihan dibayar setelah jumlah sampah yang mereka kumpulkan dirasa cukup.

“Dulu ribet, tiap orang mau makan di sini sampahnya ditimbang dulu. Sekarang tinggal catat bon, setor sampah lalu dihitung masih ada berapa selisihnya,” katanya.

Satu kilogram sampah plastik dihargai Rp 1.000. Sedangkan sampah kertas Rp 1.500/kg dan kardus Rp 1.100/kg. Adapun harga sepiring nasi plus lauk yang dijual di kantin ini sangat terjangkau. Misalnya nasi rames dengan tempe hanya Rp 6.000, ditambah es teh Rp 8.000. Kalau pakai lauk ikan lele Rp 10.000. Sedangkan sepiring nasi, sayur, ayam goreng dan es teh harganya Rp 11.000.

Diambil Pengepul

Lebih lanjut, sampah yang terkumpul dari pelanggan kantin ini biasa diambil dua kali dalam sepekan oleh pengepul dari luar kota, seperti Demak dan Kudus. Disinggung berapa pendapatan bersih dalam sebulan, Suyatmi tersenyum bangga.

“Sekali diambil (pengepul), bisa dapat lebih dari Rp 1 juta malah kadang sampai Rp 2 juta,” bebernya.

SM/Hartatik
Suyatmi, pemilik Kantin Gas Metan menimbang sampah daur ulang dari pelanggan sebelum disetorkan ke pengepul.

Dalam sebulan, omzet kotor yang diperoleh Sarimin dan Suyatmi bisa sampai Rp 10 juta. Sedangkan pengeluaran hanya berkisar separuhnya. Itu artinya mereka bisa mengantongi pendapatan bersih bulanan sekitar Rp 5 juta. Berkat sampah itu pula, Suyatmi mampu membiayai kuliah dua putranya, Supriyono (27) dan Agus Suparlan (21).

“Yang sulung sudah lulus, kalau (anak) nomor dua masih kuliah dan nyambi kerja jadi tenaga honorer di DLH. Alhamdulillah semua berkat sampah.”

Menurut Suyatmi, penggunaan gas metana dari TPA tersebut sangat menghemat pengeluaran. Apalagi sudah lebih dari setahun terakhir, aliran gas diputus sementara, lantaran tengah ada pengerjaan proyek pembangunan PLTSa di TPA Jatibarang. Kini, dia terpaksa menggunakan elpiji 3 kg. Dalam seminggu, ia mengaku bisa habis empat tabung elpiji 3 kg (Rp 20.000/tabung) untuk keperluan memasak di kantin.

Hal senada diungkapkan Rokhani (75) dan Nasokha (70), warga Dusun Bambankerep. Sebelum ada penghentian aliran gas dari TPA, dalam sebulan, konsumsi elpiji 3 kg bisa dua tabung. Begitu pula, keuntungan menggunakan gas metana diungkapkan Agusmanto (50), warga RT 4/RW 2 Dusun Bambankerep. Di dusun tersebut ada 6 RT yang teraliri gas metana dari TPA.

“Gas metana dari TPA biasanya untuk memasak. Sebelum ada aliran gas dari TPA, satu tabung elpiji tiga kilogram bisa habis satu minggu. Jadi suplai gas metana ini bisa menghemat pengeluaran,” katanya.

SM/Hartatik
Salah seorang warga Dusun Bambankerep memperlihatkan sambungan pipa paralon yang mendistribusikan gas metana dari timbunan sampah aktif di TPA Jatibarang menuju permukiman sekitar.

Suprapto, pengawas lapangan TPA Jatibarang membenarkan bahwa aliran gas ke rumah warga sekitar TPA dihentikan sementara, lantaran tengah proses perataan lahan untuk proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), termasuk sumur-sumur yang mengeluarkan gas.

“Nanti kalau proyek PLTSa sudah selesai akan disalurkan kembali gas metana ke rumah-rumah warga. Bahkan rencananya jumlah KK yang memanfaatkan gas akan ditambah,” terangnya.

SM/Hartatik
Suprapto, pengawas lapangan TPA Jatibarang menunjukkan pipa berkeran yang mengangkut gas metana dari sumur timbunan sampah ke mesin generator Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

TPA Jatibarang berdiri pada 1989, memiliki luas 46 ha dan mampu menampung sampah dari 177 kelurahan yang tersebar di 16 kecamatan se-Kota Semarang. Saat ini, kata Suprapto, produksi sampah di TPA Jatibarang mencapai 1.200 ton per hari. Sampah yang sudah diolah menjadi pupuk kompos sekitar 250-350 ton per hari. Pupuk kompos tersebut didistribusikan oleh Petrokimia Gresik.

Sedangkan proyek PLTSa memanfaatkan gas metana dari 10 sumur. Sumur gas tersebut digali pada timbunan sampah yang telah berusia 10-12 tahun. Lebih lanjut, keberadaan PLTSa dinilai sudah mendesak, mengingat umur pakai TPA Jatibarang diperkirakan tidak lebih dari lima tahun lagi.

“Masih ada dua zona buang (sampah) baru yang disediakan untuk PLTSa, kalau nanti yang dipersiapkan sudah habis,” sambungnya.

SM/Hartatik
Timbunan sampah berusia 10 tahun lebih yang menghasilkan gas metana tertutupi lapisan membran.

Terpisah, Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Agus Junaidi menjelaskan ada dua teknologi yang dikembangkan PLTSa di TPA Jatibarang. Pertama teknologi landfill gas yakni mengubah gas metana sampah menjadi energi listrik melalui turbin. Disamping PLTSa gas metana, Pemkot juga akan membangun satu PLTSa baru dengan teknologi insinerator berkapasitas 12 Megawatt.

“Insinerator itu teknologi tinggi dan tidak menghabiskan lahan, tapi signifikan mampu mengurangi sampah sampai 90 persen. Sedangkan teknologi pemanfaatan gas metana tidak mengurangi sampah, namun bisa mengurangi polusi udara,” sambungnya.

Agus meyakini bahwa teknologi insinerator tidak membahayakan lingkungan sekitar. Bahkan teknologi ini sudah teruji di luar negeri, seperti Jepang. Instalasi PLTSa insinerator ini nantinya akan dilengkapi dengan filter yang aman, ramah lingkungan, serta memiliki parameter jelas. Menurutnya, semua parameter disesuaikan dengan standar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Termasuk tinggi cerobong minimal 70 meter dari permukaan tanah, jarak intalasi minimal satu kilometer dari permukiman warga.

SM/Hartatik
Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang didatangkan dari Spanyol siap dioperasikan di TPA Jatibarang, Semarang.

Arif Budi Witarto, Pakar Bioteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan, proses mendapatkan bahan baku gas metana sebenarnya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan energi lainnya. Hanya saja untuk melakukannya belum menjadi prioritas. Dari sampah yang menumpuk di perkotaan saja sudah menjadi potensi yang besar untuk mendapatkan gas metana, yang berguna sebagai energi alternatif. Akibat inisiatif yang kurang, sampah yang tidak teroptimalkan tersebut malah menyebabkan pencemaran.

Sementara itu, dari sisi akademisi, Pakar Lingkungan dari Universitas Diponegoro (Undip) Winardi Dwi Nugraha menilai pengembangan PLTSa memang sudah saatnya dilakukan.

Selama ini, menurutnya, persoalan yang jamak ditemui di TPA yakni keterbatasan lahan, umur pakai sudah lewat serta sanitary landfill yang tidak disiplin. PLTSa menjadi salah satu alternatif menghilangkan persoalan limbah padat. Begitu pula PLTSa dengan teknologi insinerator dinilai tidak membahayakan lingkungan.

“Saya kira pembakaran sampah menjadi energi dengan insinerator ini sudah tidak ada emisi maupun limbah abu yang sekiranya membahayakan lingkungam, sebab teknologi pembakaran bersuhu tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Hendrar Prihadi yang akrab disapa Hendi mengungkapkan sampah menjadi masalah serius Kota Semarang, terutama sampah plastik yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah baru. Setiap harinya, tak kurang dari 1.400 ton sampah diproduksi oleh masyarakat.

Hendi pun meyakinkan, Pemkot Semarang serius dalam penanganan sampah yang semakin hari semakin bertambah volumenya. Salah satunya dengan melakukan inovasi pengolahan sampah di TPA Jatibarang, yakni menjadi gas metana untuk disalurkan guna keperluan memasak masyarakat sekitar.

“Dengan berbagai inovasi yang terus kami inisiasi, TPA Jatibarang ke depan bahkan dapat menjadi sumber dari berbagai energi terbarukan di Kota Semarang. Setidaknya kami tengah menyiapkan pengolahan sampah di TPA untuk bisa menghasilkan tiga jenis energi, yaitu energi gas, listrik, dan bahan bakar kendaraan bermotor,” tuturnya.

Dari inovasi tersebut, hasilnya bahan bakar dari sampah plastik bisa digunakan untuk menggerakkan kendaraan roda tiga dan genset. Prototipe alat pirolisis itu pun sudah jadi dengan kapasitas 3 kg sampah plastik untuk menghasilkan 1,5 liter bahan bakar setara premium.

Prosesnya yaitu plastik dimasukkan ke alat tersebut dan ditutup hingga kedap udara. Berikutnya pemanasan dilakukan dengan suhu stabil antara 300 sampai 400 derajat celcius, dengan waktu pemanasan sekitar 3-4 jam.

Sedangkan listrik yang diproduksi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Jatibarang, dalam waktu dekat akan segera diinterkoneksikan dengan jaringan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Apalagi Pemkot Semarang sudah menandatangani perjanjian jual beli listrik landfill gas TPA Jatibarang melalui PT Bhumi Pandanaran Sejahtera yang merupakan BUMD milik Pemkot, dengan PLN.

“TPA Jatibarang mempu memproduksi listrik hingga 0,8 Megawatt melalui pembakaran gas metana dari timbunan sampah,” jelasnya, Senin (24/8).

Ke depan, produksi listrik tersebut akan ditambah, setelah pemasangan pembangkit listrik yang dilengkapi insinerator (tungku pembakaran). Panas yang dihasilkan dari proses pembakaran itulah, yang nantinya akan diubah menjadi tenaga listrik.

Pengembangan PLTSa ini, menurut Hendi merupakan upaya serius Pemkot untuk menjawab tantangan mewujudkan Semarang sebagai kota berkelanjutan. Dengan jumlah penduduk mencapai 1,7 juta orang, setiap harinya sebanyak 1.000-1.200 ton sampah dihasilkan.

Pada awal 2012, Pemkot Semarang lebih dulu memulai upayanya dengan mendorong pengolahan sampah menjadi kompos dengan produksi 300-400 kubik per hari.

Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sistem landfill gas di TPA Jatibarang, bantuan dari Kerajaan Denmark senilai Rp 46 miliar. Program ini juga didukung dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kemenkomaritim, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.

”Dengan sistem landfill, 9 hektare timbunan sampah di TPA Jatibarang ditutup dengan geo membran sehingga menghasilkan gas metana yang dapat dikonversikan menjadi listrik sebesar 0,8 Megawatt,” lanjutnya.

Sementara itu, General Manager PLN Distribusi Jateng dan DIY, Agung Nugraha menerangkan, PLTSa tersebut bisa mengalirkan listrik untuk 800 hingga 1.000 rumah. Sementara yang metode insinerator, diprediksi bisa dialirkan kepada sebanyak 20.000 rumah.

”Penyaluran listrik hanya bisa dilakukan di area sekitar PLTSa saja. Itu karena hanya memiliki daya sekitar 0,8 MW hingga 0,9 MW. Disalurkan melalui lima gawang atau tiang bertrafo yang ada di dekat PLTSa. Diperkirakan radius paling jauh mencapai 1,5 kilometer,” kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, berbagai potensi energi baru terbarukan (EBT) mulai dari biogas dari kotoran sapi, limbah tahu tempe, sampah, mikrohidro, gas rawa, panas bumi, hingga panas matahari, terus diburu, diolah dan dikembangkan, menjadi energi alternatif pengganti migas dari fosil.

Di samping pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), Jateng juga memacu realisasi sejumlah proyek EBT, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Semarang dan Solo. Hal itu sebagai upaya menjadikan EBT sebagai bagian dari Rencana Strategis (renstra) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mewujudkan kedaulatan di bidang pangan, air dan energi.

“Kami terus mengembangkan EBT sebagai bagian dari upaya mewujudkan kedaulatan energi di Jawa Tengah,” ungkap Sujarwanto.

Tak hanya biogas dari kotoran sapi, Jateng gencar berburu energi baru dari sampah. Ini sejalan dengan kebijakan nasional tentang pengolahan energi dari sampah (waste energy). Tahun 2019, Jateng mengembangkan biomassa berbasis sampah di Kota Semarang dan Cilacap.

Di Cilacap, pengolahan sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF) pengganti briket batubara yang dibangun PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), mampu menghabiskan 120 ton sampah per hari. Sedangkan di TPA Jatibarang Kota Semarang, pengolahan energi biomassa dari sistem landfill sanitation, pada 2019 lalu, menghasilkan listrik 0,8 MW.

Grafis Citra Satelit TPA Jatibarang

Lebih lanjut, imbuhnya, selama dua tahun terakhir, Jateng telah berhasil melampaui target bauran EBT sesuai Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Pada 2018, dari target bauran EBT 10,32%, berhasil dicapai 10,82%. Pada 2019, dari target 11,61% tercapai 11,69%.

Untuk tahun 2020, masih tengah dihitung, dari target yang dicanangkan 11,60%. Sedangkan untuk bauran EBT pada 2023, Jateng menargetkan 15,96%, dan 2025 sebesar 21,32%.

“Untuk menembus target tersebut, Jateng praktis tak bakal surut berburu energi baru,” tukasnya. (Hartatik-58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort