BEM Solo Raya Gelorakan Persatuan

Libatkan Tokoh Masyarakat

SOLO – Para mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Solo Raya mendatangi puluhan tokoh masyarakat di Solo dan sekitarnya untuk mengajak mereka bersama sama menggelorakan kembali upaya rekonsiliasi dan persatuan masyarakat pascapemilu 17 April 2019. Para tokoh masyarakat tersebut datang dari berbagai kalangan mulai dari ulama, budayawan, tokoh agama, panutan masyarakat, pimpinan lembaga masyarakat, pimpinan adat dan lainnya.

‘’Kami melibatkan para tokoh masyarakat di Solo dari berbagai kalangan karena mereka lebih dianut oleh masyarakat, sehingga ajakan ataupun imbauan mereka lebih didengar daripada kami para mahasiswa yang mungkin dinilai bukan siapa-siapa,’’ kata Ketua Gerakan Mahasiswa Kawal Persatuan Ismail Syarifuddin di sela-sela kegiatan Rapat Umum Mahasiswa Solo Raya bertema ‘’Meneguhkan Semangat Persatuan Bangsa Demi Merawat Keutuhan Indonesia’’ di salah satu rumah makan, Senin (20/5).

Selain melibatkan tokoh masyarakat, mahasiswa mengampanyekan semangat persatuan ke masyarakat melalui media sosial dari masing masing anggota. Dikemukakan, para tokoh yang mereka datangi dan diajak mayoritas menyambut baik ajakan para mahasiswa.

Kegiatan yang dilakukan mahasiswa tersebut menurut Ismail dilakukan mahasiswa untuk menyikapi situasi pascapilpres yang dalam pandangan mahasiswa ada keretakan.
Hal itu sebagai langkah konkret mahasiswa untuk menjadi pelopor persatuan bangsa. Selain itu juga langkah mahasiswa mengupayakan menghentikan upaya provokatif yang menjadi ancaman persatuan bangsa.

Dalam kegiatan tersebut mahasiswa juga melakukan hal unik sebagai simbol ajakan untuk memantik persatuan masyarakat pascapemilu 17 April. Mereka menukar kaus, dari yang semula bertuliskan nomor 01 dan 02 menjadi kaus bertuliskan #03 persatuan Indonesia.

Ismail mengemukakan, secara filosofis mahasiswa ingin mengajak masyarakat yang awalnya terpolarisasi menjadi pendukung pasangan calon tertentu untuk menanggalkan identitas mereka dan kembali bersatu.

‘’Kendati pemilu telah usai, ketegangan masih sangat terasa di masyarakat karena identitas politik masih mereka sandang. Karena itu kami dari mahasiswa ingin menggelorakan kembali persatuan di dalam masyarakat melalui berbagai kegiatan. Kami juga mengajak masyarakat menanggalkan identitas politik dan bersatu menjadi rakyat Indonesia,’’ kata Ismail.

Dikemukakan, Pemilu yang berlangsung di era post truth sehingga politik identitas terus digelorakan di media sosial dan menjadi titik picu munculnya ujaran kebencian. Di sisi lain, di medsos, etika sopan santun hilang karena fanatisme dukungan terhadap kontestan yang bertarung dalam pada Pemilu. Bahkan meski pemilu telah usai, ketegangan dan perselisihan masih terasa. Ini tak lepas dari langkah elit politik yang semakin memperpanas situasi. Disadari atau tidak, lanjutnya, potensi konflik dan gesekan di tengah masyarakat nyata adanya. Salah satu indikasinya adalah semakin kendornya semangat kebersamaan. Keguyuban semakin hilang karena semangat partisan semakin kuat tertanam.

Indikasi lain adalah cara berkomunikasi kian menjauhi nilai peradaban. Padahal keutuhan bangsa ini dirajut dari komunikasi yang beradap. Tanpa itu semua bangsa hingga rakyat, biasa tercerai berai. (G18-68)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort