Batang Akan Gelar Bazar Bisnis

BATANG – Kabupaten Batang saat ini dikepung industri. Untuk memberikan peluang pada pengusaha lokal, Bupati Wihaji mengagendakan mengadakan bazar bisnis. Kegiatan itu untuk menggerakkan dan meningkatkan ekonomi.
“Bazar bisnis bertujuan memberikan ruang bagi pengusaha lokal untuk besar bersama. Itu bukan untuk egosektoral, karena hari ini ruang industri sudah mengepung Batang, sudah ada 80 persen industri, sedangkan yang 20 persen tidak sampai satu tahun sudah selesai,” kata Wihaji seusai memberikan sambutan pada Forum Bisnis di Hotel Sendang Sari, Rabu (30/10).
Dia menuturkan, investor jangan kaget jika pada 2021 ada banyak industri baru berdiri di Kabupaten Batang. Sebab, sejak awal bulan 2019 sampai pertengahan 2020 sudah banyak yang beroperasi dan menyusul.
“Tumbuhnya industri menjadi lompatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan Batang di atas provinsi dan Indonesia, yakni 5,72 untuk investasi nomor dua di Jateng,” tandasnya.
Pertumbuhan industri dan ekonomi yang bagus ini agar ditangkap masyarakat Batang. Pemkab memberikan ruang dan melibatkan pengusaha lokal di bazar bisnis agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri.
Pada 2021 ada sekitar 8.000 sampai 10.000 tenaga kerja baru di Batang. Itu menjadi pangsa pasar untuk membuka bazar bisnis di bidang ritel, hiburan, dan wisata.
”Karena itu, Pemkab sangat terbuka bagi pengusaha lokal dengan mempermudah segala perizinan yang penting sesuai aturan. Untuk wilayah industri, Pemkab menyediakan sekitar 3.500 hektare.”
Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi yang masuk ke Batang mencapai Rp 67 triliun,” kata Wihaji.
Kendala
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Batang (DPMPTSP) Sri Purwaningsih mengemukakan, pada 2019 Kabupaten Batang sangat diminati investor untuk menanam modal. Meliputi berbagai sektor investasi industri, perumahan, pertanian, peternakan, perdagangan, dan pariwisata.
“Bersasarkan data kami sudah tercatat 372 perusahaan yang mendaftar izin dengan nilai investasi lebih dari Rp 67 triliun. Memang ada beberapa investor mengalami kendala terkait dengan RTRW yang belum disahkan,” kata Sri Puwaningsih.
Menyikapi hal itu, dia berharap Perda RTRW bisa segera disahkan tahun ini. Pertimbangannya sudah banyak investasi besar mangkrak akibat regulasi tata ruang yang belum selesai.
”Ada beberapa investor yang siap berinvestasi, yakni penanaman modal asing (PMA) seperti PT Batang Apparel Industri, PT Sinar Terang Benderang Indonesia, Fit Food Industri, dan Fit Coal Industri. Sementara Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN), yaitu PT Rimba Wood, PT Taman Safari Indonesia (TSI), dan PT Wanho Investment Indonesia,” ujar alumnus Fakulaltas Hukum Unissula Semarang itu. (ar-27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *