Ayo Ciptaan Paket NVWOT, Newly Very Well Organized Tour, Untuk The New Normal.

Peta Pariwisata Kita Dewasa Ini.

Oleh Arifin Hutabarat dan Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdeka.News –Ini bukan pendapat. Melainkan fakta dan data yang membawa pesan yang sangat benderang bunyinya. Kalau Indonesia tidak mengubah paradigma pariwisatanya menjadi pariwisata domestik, maka pariwisata kita akan gagal. Apa ukuran sukses atau gagal dalam konteks ini?

Ukurannya, lihatlah apakah tampak riil bertambah kesejahteraan masyarakat, bertambah lapangan kerja, bertambah lapangan usaha di bidang pariwisata, di destinasi, atau tidak ?

Jadi, bukan lagi pada jumlah wisman yang berkunjung, atau mengejar jumlah wisman yang berkunjung. Itu masa lalu, sisa paradigma lama, yaitu pariwisata yang mengejar-ngejar jumlah wisman dan terbawa pada kegiatan mass tourism.

Itu lebih satu dasawarsa lalu, yang telah diubah dengan the new tourism paradigm is sustainable tourism. Yang kemudian menjadi semacam ideologi pariwisata di dunia kiwari.

Kebetulan tiba-tiba dahsyatnya badai corona muncul ke seluruh dunia. Maka perubahan besar di semua lini harus terjadi di sektor ekonomi. Peristiwa sedahsyat itu kita kenal sebagai fenomena dunia mencari titik equalibrium baru, keseimbangan baru.

Equalibrium baru itu bisa terjadi pada level harga-harga yang lebih tinggi alias lebih mahal dari sebelumnya. Serta, dengan aturan aturan main yang berbeda.

Persyaratan yang lebih berat atau lebih ringan, dan konskewensi yang mengikutinya. Itulah agaknya yang disebut menjadi NEW NORMAL, yang isinya New protocol dalam berpergian dan berinteraksi manusia. Selaras dengan standard Protokol kesehatan World Health Organisation.

Tapi perlu digarisbawahi, jangan dibuat dikotomi antara wisata domestik dan wisata  mancanegara, atau antara  inbound tourism dan domestic tourism. Jadi, bukan harus memilih salah satu.

Dari perspektif pemerintah, peta pariwisata kita dewasa ini bisa dilihat dari “kompas” yang diindikasikan dari arah yang implisit dan eksplisit dikemukakan oleh Presiden Jokowi.

Yang mengatakan Pemerintah ingin masyarakat produktif dan aman dari Covid-19. Dan belum akan melonggarkan kebijakan PSBB. Yang berlaku di sejumlah daerah.

Namun terus melakukan pemantauan berdasarkan data dan fakta di lapangan. Untuk menentukan periode terbaik bagi tahapan masyarakat kembali produktif namun tetap aman dari Covid-19.

Nantinya, masyarakat di Indonesia bisa beraktivitas normal kembali, harus menyesuaikan dan hidup berdampingan dengan Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan, terdapat potensi bahwa virus ini tidak akan segera menghilang, dan tetap ada di tengah masyarakat. Dalam waktu yang lama.

Dari situlah titik tolak menuju tatanan kehidupan baru masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali, menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kapan pelaksanaan tahapan masyarakat produktif aman dari Covid ini akan dimulai. Pemerintah akan terus melakukan evaluasi data dan fakta seperti kurva positif Covid-19. Berdasarkan kurva yang sembuh, dan kurva yang wafat, sebelum akhirnya membuat keputusan.

Kepada satu webinar internasional tanggal 15/8/2020 yang diketuai oleh Sapta Nirwandar mantan Wamen Pariwisata, dengan tema berbunyi Changes in the tourism paradigm in the era of new normal, sebenarnya telah kita ajukan pertanyaan dan usulan sebagai berikut:

Is it possible all the expertise in this Wenbinar :

  1. To make narration of one OR two sentences what is the NEW NORMAL IN TOURISM.
  2. To make narration of one OR two sentences what is most proper for indonesia on the new tourism paradigm?

I would like to offer for your critical consideration that for Indonesia it would be as follow :

New paradigm for Indonesia should be that tourism is not necessarily to chase up the number of inbound tourist but in the first place must develop the domestic tourism for a faster increase achieved in social economy welfare.

Then international market will automatically to follow rising up like the Bali success destination progress…

Bagaimana isi kesimpulan atau summary dari forum itu, masih dijanjikan hingga saat ini oleh penyelenggara. Kita perlu menyamakan persepsi dan pengertian bersama apa persisnya yang kita sebut the new normal dan the new paradigm.

Tapi dari Bali muncul aspirasi dan konsep begini: Para pemangku kepentingan pariwisata di Bali sedang mempersiapkan SOP Pariwisata the New Normal.

Konsep untuk prosedur yang tengah dikerjakan itu mulai dari saat mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Screening terhadap para penumpang sampai wisatawan ditransfer ke hotel. Protokol kesehatan juga akan disosialisasikan dan diberlakukan di obyek-obyek wisata.

Asosiasi perhotelan di Bali dan beberapa grup hotel bahkan telah mempersiapkan SOP terlebih dahulu. Sekarang SOP tersebut tengah menunggu validasi dari Kementerian Kesehatan dan stakeholders terkait. (ITN, 19/5/2020).

Bersamaan itu Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengatakan, (MetroTV, 18/5/2020) pelonggaran dan pembukaan suatu daerah akan dilihat antara lain. Dari faktor kasus positif Covid-19 di daerah. Tren penyebarannya terus menurun, tingkat kepatuhan masyarakat setempat, serta kelengkapan alat perlengkapan diri (APD) dan tenaga medis.

Jadi, jika sampai terjadi gelombang kedua covid-19 semua sudah siap.

Program Clean, Health and Safety (CHS) dalam rangka persiapan pembukaan kembali pariwisata Indonesia setelah masa tanggap darurat COVID-19, dilakukan di destinasi.

Program ini dilakukan guna menjamin kesehatan dan keselamatan wisatawan maupun pelancong yang datang ke destinasi, ke obyek-obyek wisatanya, akan selalu dijaga. CHS juga akan menjadi materi utama promosi pariwisata Indonesia tahun ini atau setelah Covid-19.

Setelah Bali, Yogyakarta, dan Kepri, pada tahap kedua fokus pelaksanaan akan dilakukan di destinasi pariwisata super prioritas, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

Baik rasanya diungkapkan kembali di sini bahwa historical fact and figures pariwisata kita telah membawa pesan perlunya kita di Indonesia menjajagi ide  besar. Yaitu, Indonesia perlu MENGUBAH PARADIGMA PARIWISATA, kalau tidak, MAKA AKAN TERSESAT TERUS ALIAS GAGAL.

Mengapa disebut tersesat ?

(sumber data dari siaran resmi kantor pariwisata masing-masing negara.)

Apa makna perbandingan statistik di atas? Fokuskanlah perhatian pada data 2015-2018. Tahun 2017 Jepang sudah mencapai 28,69 juta kunjungan wisman, melonjak duakali lipat dalam 4 tahun dari 2013.

Thailand sudah mencapai 35,38 juta wisman melonjak dari tahun 2015 yang 29,88 juta wisman. Vietnam yang baru lahir di dunia pariwisata bahkan mencapai jumlah wisman di tahun 2017 itu 12,9 juta. Melonjak hampir duakalipat dari dua tahun sebelumnya pada 2015 yang berjumlah 7,9 juta wisman.

Dilihat dari perspektif pemasaran dan penjualan, perbandingan capaian itu tentu mencerminkan perbandingan kemampuan dalam melaksanakan pemasaran dan penjualan intenasional pariwisata.

Kemampuan kita, Indonesia ternyata relatif lebih rendah.

Diperbandingkan dengan achievement yang pernah diraih, yaitu  Pengeluaran wisnus 2015 di Indonesia mencapai Rp 224,68 Triliun, jauh lebih besar dari pengeluaran wisman 2015 sebesar US$ 11,9 Miliar. Atau saat itu equivalen Rp 163 Triliun.

Maka jadi pertanyaan mengapa target-target kunjungan wisman dibuat sedemikian besar tetapi tidak tercapai?

Di situlah tampak pariwisata kita telah tersesat, mungkin lebih enak menyebutnya telah “kesasar”. Mestinya  sedari awal (tahun 2015) mendahulukan capaian –capaian dan pengembangan di pariwisata domestik dan bukan jumlah wisman.

Ciptakan branding baru: VWOT, Very Well Organized Tour !

Fakta dan data jugalah yang membawa kita pada apa yang sebaiknya bisa dilakukan untuk menghidupkan industri pariwisata kita. Dalam konteks ini, untuk menghidupkan pariwisata domestik Indonesia. Kita bisa berharap sedikitnya dua macam protokol untuk kegiatan masyarakat berwisata dan berinteraksi, yaitu :

  1. Protokol kesehatan;
  2. Protokol berwisata.

Dengan dua protokol itu sebenarnya terbuka peluang bagi pelaku industri pariwisata dalam hal ini operator tur dan agen perjalanan, untuk menciptakan menyusunkan satu protokol berwisata.

Yang akan ditempelkan melekat pada setiap produk atau itinerary wisata. Tentu akan tampak lebih ribet daripada produk dan itinerary yang biasa selama ini.

Tetapi memang demikianlah untuk jelas menguraikan apa itu NEW NORMAL dalam pelaksanaan kegiatan tur dan perjalanan. Kalau hanya menyebut kebersihan, ketertiban, keindahan dst, itu sudah lama kita dengung-dengungkan sebagi Sapta Pesona.

Kalau di masa lalu amatlah normal disebut kegiatan tur yang diatur dan dioperasikan oleh operator tur sebagai ORGANIZED TOUR, maka bisa saja di new normal diberikan branding baru.

Sebutlah misalnya newly very well organized tour atau nvwot. Misal, NVWOT Yogyakarta, dan para pelaku industri tentu mempunai daya kreatifitas lebih jauh menciptakan nama-nama produk. Terhadap protokol yang membuat kesan dan praktek pelaksanaan itinerary menjadi lebih njlimet ketimbang masa lalu.

Ada lagi menurut Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi ihwal “new normal” mengacu pada tiga hal. Berikut rinciannya:

  1. Tetap memprioritaskan penanganan Covid-19; mulai ketersediaan tempat tidur isolasi, alat-alat kesehatan, pendeteksian (tracing), hingga mendukung langkah pemerintah pusat memperluas pengetesan berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR); 2. Disiplin protokol kesehatan, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak aman, memakai masker, dan sebagainya, misnya, semua pengunjung pasar tradisional dan modern harus memakai masker, yang tak pakai masker dilarang masuk., dan, 3. Bertahap memulihkan ekonomi: Secara bertahap kembali meningkatkan produktivitas ekonomi lokal. Bertahap kita harus gerakkan lagi ekonomi lokal dengan prinsip produktif dan aman dari Covid-19 sesuai arahan Presiden Joko Widodo dan Menteri Dalam Neger.                                                                                  Pertanyaannya, mungkinkah diperbolehkan secara khusus kegiatan pariwisata dengan the new normal itu dilaksanakan kendati masih ada misalnya PSBB? (AH/BB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *