Asthie Wendra: Tersesat di Jalan Yang Benar.

Jakarta, Suaramerdeka.News —SWETLAWENDRASTI, kelahiran Bandung, 27 April 1977, bisa jadi masuk ke dalam golongan orangorang yang “tersesat di jalan yang benar”.

Betapa tidak, kala duduk di bangku SMA, Asthie Wendra — demikian ia biasa disapa — masuk di jurusan IPA. Lalu saat lulus di tahun 1995 dia meneruskan jenjang pendidikan formalnya di Fakultas Ekonomi di Unpad, Bandung. Tapi saat ini dialah sosok perempuan di balik sejumlah konser musik terkemuka di Indonesia. Atau kemudian publik menyebutnya sebagai Stage Manager & Show Director.

Meski sejatinya, sepenceritaan mantan penyiar radio di salah satu Stasiun Radio FM di Bandung itu, profesi yang saat ini menghidupi dan dihidupinya itu, tidak pernah terbersit dalam benaknya. Bahkan saat kecil sekalipun berprofesi sebagai seorang Stage Manager & Show Director.

“Mungkin saya salah satu anak yang gak punya cita-cita, dan dari sisi akademis gak nyambung banget karena saya dulu anak IPA dan kuliah di Fakultas Ekonomi, ” kata Asthie kepada Danny Fe membuka lembaran masa lalunya di Jakarta, barubaru ini.

Asthie mempertegas ceritanya dengan mengatakan, bahkan tidak akan pernah ada seorangpun yang bercita-cita ingin menjadi Stage Manager atau Show Director, atau pekerjaan sejenisnya. Paling tidak pada anak sezamannya. “Jadi sama sekali gak ada cita-citanya, jadi dengan kata lain jadi Show Direcor ini seperti kejeblos tapi menyenangkan,” tekannya.

Anak ketiga dari tiga bersaudara ini melanjutkan, bahkan dalam keluarga intinya, sama sekali tidak ada yang seprofesi dengannya. “Kakak saya yang pertama seorang Akuntan, kakak saya yang kedua itu kerja di ASEC (Asean Secretary) lebih ke Hubungan Internasional. Saya sendiri yang ada di dunia otak kanan,” katanya sambil menderaikan tawanya sampai jauh.

Asthie Wendra. (SMNews/Doc)

Untungnya untuk urusan asmara, tidak ada yang anomali dalam peri kehidupan Asthie. Suami tercintanya, Aditama Dwiputra, a. k. a Tameng, berdiri di sisi paling dekatnya, sembari terus memberikan dorongan kepadanya. “Bangett..mendukung banget, karena suami saya juga satu profesi. Tapi lebih ke Artist Management, dan sekarang lebih ke dunia Photografi dan Videografi dan juga panggung. Jadi suami mengerti banget pekerjaan saya seperti apa, jadi support banget,” kata Asthie sumringah.

Asthie yang belum menempuh pendidikan Non-Formil, seperti kursus untuk memperkaya keilmuannya di bidangnya saat ini, tetap sebisa mungkin menajamkan wawasannya dengan berbagai cara. Salah satunya pada tahun 2015 sampai 2019, di setiap bulan Maret, dia selalu ikut International Live Music Conference, di London.

Asthie Wendra dibalik ruang FOH. (SMNews/Doc)

“Cuma 1 kali di tahun 2016 gak ikut karena menikah. Itu adalah ajang ngumpulnya temen-temen produksi se-dunia membahas tentang trend-nya Produksinya Live Music tuh seperti apa sih, dari sisi Safety-nya, Technology-nya, Wellfare, dan lain-lain. Jadi sebetulnya kita ngumpul untuk diskusi di acara tahunan tersebut,” katanya mengelaborasi.

Dan perjalanan Asthie hingga sejauh ini, tentu saja bukan perjalanan seperti membalik telapak tangan. Pengalaman kerjanya sudah panjang. Dari awal, saat masih duduk di bangku SMA dan Kuliah, dia sudah selalu bikin event, “Kalau dulu nama nya seksi acara. Yang bikin kreatif panggung dan segala macam. Tahun 2003 kurang lebih saya kerja di salah satu Mall di Bandung sebagai Event Promotion. 2004 saya keterima di salah satu stasiun TV Lokal sebagai Executive Producer. 2007 saya hijrah ke Jakarta kerja di salah satu Activation Company yang kebetulan pegang sebuah Event besar, Indie Fest namanya. Disitulah pertama kali saya dicemplungin sama boss saya untuk jadi Event Producer, Show Director, sekaligus Stage Manager-nya,” katanya, sembari menambahkan, pada titik itu, dia harus membuat konsep event, preparation sampai dengan eksekusi.

Sebelum akhirnya pada tahun 2013, Asthie resign dari perusahaan tersebut dan memutuskan menjadi Profesional Show Director dan Stage Manager sampai sekarang!

Pada momen itupula Asthie mulai akrab dengan segala dinamika dunianya. Kedukaan dan keriaan datang bergantian, sebagaimana sunnatulah kehidupan.

“Tentu lebh banyak sukanya. Karena bagi saya ini adalah hobi yang dibayar. Saya suka mengerjakan ini, saya suka seni, suka liat musik dan…saya dibayar,” katanya sembari lagilagi menderaikan tawan. “Kalau kita ngomong, kasarnya.. FOH itu (Front Of House) nya konser atau event adalah VVIP nya dari semua yang ada di ruangan. Sementara orang lain mungkin bisa bayar puluhan juta untuk menyaksikan pertunjukan tersebut, saya di bayar untuk ada di posisi itu. Nonton enak, sambil kerja sambil berkarya tapi seneng laah, sudah menjadi hobi sih soalnya,” katanya layaknya emak emak nyerocos enggan dipotong perbincangannya.

Asthie Wendra saat beraksi. (SMNews/Doc)

Meski dukanya tetap ada. Seperti saat dia pernah jatuh dari panggung setinggi 1,5 meter hingga tidak bisa jalan saat itu, meski untungnya tidak ada yang patah dari anggota tubuhnya. Kejadian itu terjadi H-2, sebelum acara puncak. Tapi di hari H tersebab adrenalinnya tinggi, entah kenapa Asthie sembuh dengan sendirinya. “Tapi setelah itu sampai gak bisa jalan karena lutut duluan cederanya,” katanyan

Sedangkan duka yang lain dialami saat menjalai proses produksi, contohnya saat konser Dream Theater di Yogyakarta, dan merupakan bagian dari gelaran JogjaROCKarta harus dipindahkan venue nya dari Prambanan ke Stadion Kridosono.

“Hampir batal manggung technically, tapi akhirnya bisa kita handle. Itu lumayan butuh effort, dan itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, tapi Alhamdulillah bisa teratasi,” kata merujuk pada konser besutan Rajawali Indonesia itu.

Sebagai Show Director buat Asthie pencapaian tertingginya dialami saat terlibat di ajang di Indie Fest. “Karena itu beberapa kota, beberapa panggung, dan saya benar-benar involve, dan itu juga saat-saat pertama kali saya kerja dengan artist internasional,” katanya.

Sebagai Stage Manager pencapaian paling tinggi yang menurut Asthi tidak akan dialupakan, yaitu di sekitar akhir tahun 2018 lalu, “Saat saya pegang beberapa konser besar seperti 35 Tahun Slank, 30 Tahun KLa Project, Konser Inspirasi Cinta Yovie Widianto, sampai Konser Monokrom-nya Tulus, itu semua dalam waktu yang berdekatan. Dan itu semua menjadi portofolio yang bagus buat saya,” katanya penuh kebanggaan.

Oleh karena itu, dia mempunyai harapan besar atas profesi ini. Agar semakin berkembang ke depannya. Untuk itu, Asthie masih rajin menghadiri pelatihan-pelatihan serta, serta terus berbagi ilmu dengan kawankawan seprofesinya.

“Jadi passion saya sekarang ini adalah bagaimana caranya temen-temen punya standarisasi, dari sisi Stage Management, dari sisi Event juga. Nah itu yang lagi saya jalani, saya lagi banyak sharing dengan temen-temen EO, dengan temen-temen di daerah juga,” harapnya.

Selain itu, Asthie sedang melakukan campaign tentang safety di lapangan kerja ini. “Gerakan harus massive, harus serempak, gak bisa hanya kita aja yang berjuang, karena semua temen-temen yang berhubungan dengan itu dari mulai temen-temen vendor, venue, dan semua. Dan juga harus merubah habit,” imbuh dia.

Asthie yang mengaku tidak mempunyai role model juga panutan di dunia ini, lebih suka menciptakan dirinya menjadi persona seprofesional mungkin.

“Saya ngga punya punya kiblat, gak punya senior, dan semua otodidak, belajar sendiri. Sendiri dalam arti kata, elemen-elemen yang mengajarakan saya ya mereka-mereka yang ada di sekitar saya. Seperti untuk Sound System, saya banyak belajar dari Almarhum Mas Eko (Sumber Ria). Dia banyak mengajari saya dari saya masih blo’on laah istilahnya. Lighting banyak belajar dari Om Iwan Hutapea di masa-masa dulu. Saya gak punya idol atau siapa yang menjadi inspriasi di profesi saya sendiri, akhirnya saya banyak belajar dan mencari refrensi dari membaca dan browsing sendiri, ” katanya.

Asthie Wendra saat ngebrief “pasukannya”. (SMNews/Doc)

Untuk itu dia memberikan tips kepada generasi penerus pekerja pertunjukan untuk tidak lelahlelah meng update keilmuannya.

Menurut Asthie, dunia Stage Management, yang harus selalu di update pertama tehnologi pertunjukannya. “Kedua, kerja kita tuh bukan kerja robot. Kerja kita dengan rasa, kalau kita gak punya passion, jangan jadi Stage Management, jangan kerja di events. Kemudian yang paling penting adalah attitude. Saya senang kalau ada orang akhirnya bekerja sama lagi dengan saya karena menganggap attitude saya yang baik. Sebagai Stage Manager kita adalah sebagai Leader di pertunjukan, kita harus bisa memperlakukan semua orang, dan membuat semua orang (tim) diperlakukan sejajar, baik itu artis, kru panggung, vendor dan semua orang. Begitu semua nyaman, talent nyaman, penonton nyaman.. yaa sudah..bisa kita dapatkan apa yang kita mau,” pungkasnya tanpa bermaksud menggurui. (benny benke -69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *