Akselerasi Kunjungan Wisata dan Ekspor Dipercepat

SOLO – Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 7 persen di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi mempercepat akselerasi sektor-sektor yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi tinggi melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan ekspor.
Peran kabupaten/kota menciptakan iklim ekonomi yang kondusif, termasuk perbaikan regulasi dan pelayanan perizinan dalam memberi kemudahan bisnis kepada investor juga didorong. Demikian pula peningkatan peran Perbankan, BUMN dan BUMD, dan lembaga ekonomi lainnya.
Belanja modal pemerintah dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB) di Jawa Tengah melalui dana APBN/APBD dan sektor swasta, dalam maupun luar negeri ditingkatkan. Kawasan industri di pantai utara dan pantai selatan juga dikembangkan.
“Pemprov membentuk tim khusus percepatan pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah yang berbasis pentahelix, yakni dunia usaha, akademisi, media, masyarakat, dan pemerintah,” kata Gubernur Ganjar Pranowo dalam High Level Meeting (HLM) dan Capacity Building Keris Jateng di Solo, Senin (17/6). Narasumber lain dari BKPM, Bappenas, Bappeda Provinsi Jateng, dan Bank Indonesia.
Gubernur mengatakan, kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah, baik domestik maupun mancanegara, dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2013 kunjungan wisatawan domestik sebanyak 24.430.609 orang dan mancanegara 338.143 orang.
Selanjutnya pada 2014, 2015, 2016, 2017, dan 2018 masing-masing 29.808.674 orang, 33.030.843 orang, 36.893.055 orang, 40.118.470 orang, dan 48.943.607 orang untuk wisatawan domestik dan untuk wisatawan mancanegara masing-masing 419.584 orang, 421.191 orang 578.914 orang, 781.107 orang, dan 677.168 orang.
Tren
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Semarang Soekowardojo mengatakan, Jawa Tengah memiliki tren pertumbuhan ekonomi di atas pertumbuhan nasional. Pada triwulan I 2019, tumbuh 5,14 persen (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan dengan nasional yang tumbuh 5,07 persen. Namun, jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi provinsi lain di Pulau Jawa, pertumbuhan ekonomi Jateng tergolong rendah.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang perekonomian dengan pangsa 60,86 persen. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi memberi kontribusi signifikan, yaitu 31,94 persen. Kemudian, pangsa ekspor luar negeri 9,64 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 5,04 persen, dan net ekspor antardaerah 4,58 persen. Pangsa impor luar negeri, sebagai elemen pengurang dalam perekonomian Jawa Tengah, juga berkontribusi cukup besar, yaitu 15,68 persen.
“Laju pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, terutama bersumber dari ekspor luar negeri seiring pelemahan permintaan global. Di sisi lain, sektor investasi mengalami pertumbuhan 6,57 persen,” kata Soekowardojo dalam sambutannya.
Pertumbuhan investasi, kata dia, dipengaruhi investasi nonbangunan berupa pembelian barang modal, terutama untuk memenuhi kebutuhan pembangunan pembangkit listrik. Tapi, pertumbuhan investasi bangunan tidak setinggi pertumbuhan triwulan sebelumnya, karena berakhirnya proyek-proyek infrastruktur pemerintah.
“Agar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dapat lebih tinggi, perlu upaya mendorong pertumbuhan ekspor dengan melihat potensi unggulan dan tingkat investasi yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Diketahui, sejak 2013 neraca perdagangan Jawa Tengah selalu defisit. Pada 2018, defisit neraca perdagangan Jateng tercatat 8,19 miliar dolar AS, atau meningkat 75,57 persen dari tahun sebelumnya. Itu disebabkan oleh pertumbuhan ekspor yang terbatas di tengah signifikannya pertumbuhan impor. Untuk meningkatkan ekspor, kata dia, pengembangan industri manufaktur perlu diprioritaskan pada industri yang berkontribusi besar terhadap ekspor, seperti komoditas tekstil dan produk tekstil (TPT), kayu dan mebel, serta makanan dan minuman (mamin).
Pada sektor TPT dan mamin, lanjut dia, meski kontribusi ekspor tinggi, namun memliki kandungan impor cukup besar. Dengan demikian, pengembangan industri hulu di dua sektor itu untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku menjadi sangat penting. Seperti pembangunan/perluasan industri benang dan kain pada sektor TPT serta pembangunan/perluasan pabrik perisa makanan, susu skim dan gula, serta revitalisasi perkebunan tebu, kopi, dan cengkeh pada sektor mamin.
“Pendirian koridor ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata Jawa Tengah atau Keris Jateng adalah forum koordinasi untuk mengintegrasikan sumber daya dan kekuatan daerah dalam mendorong pertumbuhan sektor perdagangan, pariwisata, dan investasi,” tuturnya.
“Salah satu program kerja utama Keris Jateng yaitu Central Java Potential Investment Challenge (CJPIC) yang mempunyai tujuan mendorong investasi dan daya saing daerah sehingga menghasilkan profil investasi terbaik bersifat clean and clear serta layak dipromosikan pada forum investasi di dalam maupun luar negeri.” (G8-27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort