Airnav Terus Berupaya Merajut Prestasi


PERUSAHAAN Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau yang lebih dikenal AirNav Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan navigasi penerbangan dalam rangka merangkai konektivitas Nusantara melalui transportasi udara. 

Penilaian itu bukan isapan jempol namun telah  dibuktikan oleh sejumlah pencapaian Airnav hingga September 2019 ini.

Mengutip informasi yang disampaikan Direktur Utama Airnav Novi Riyanto, selama enam tahun memberikan layanan navigasi penerbangan di ruang udara Indonesia, AirNav Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan kualitas layanan. Pada tahun  2019 ini pihaknya sudah mengalokasikan anggaran investasi senilai Rp.2,6 triliun untuk 290 program peningkatan layanan navigasi penerbangan di seluruh Cabang AirNav Indonesia baik di bandara-bandara besar maupun perintis. Investasi ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu senilai Rp.1,9 triliun..

Investasi tersebut ditujukan untuk modernisasi peralatan CNS-A (Communication, Navigation, Surveillance dan Automation) dan peningkatan kualitas personel layanan navigasi penerbangan. Anggaran yang dialokasikan untuk peralatan communication adalah Rp.260,4 miliar (10%), navigation Rp.113,5 miliar (4%), surveillance Rp.222 miliar (9%), automation Rp.1,1 triliun (44%), mechanical & electrical Rp.71,4 miliar (3%) serta building & supporting Rp.779,7 miliar (30%).

Adapun untuk  mengantisipasi pertumbuhan traffic penerbangan, kualitas layanan navigasi penerbangan akan kami tingkatkan bukan hanya di bandara-bandara besar, tetapi juga bandara yang lebih kecil hingga bandara-bandara perintis. Papua misalnya, tahun ini Airnav i meluncurkan 45 program senilai Rp.245,5 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2018 lalu senilai Rp.156 miliar.

Dalam pasa itu beberapa program besar yang dikerjakan oleh AirNav Indonesia pada tahun 2019 antara lain adalah pembangunan menara pengendali lalu lintas penerbangan (ATC Tower) di New International Yogyakarta Airport (NYIA), Banjarmasin, Solo, Ilaga, Wamena, Palu, Silangit, Bengkulu, Letung, Muara Teweh, Dekai dan Sintang, peremajaan dan upgrade ADS-B (Automatic Dependent Surveillance Broadcast) di sejumlah bandara, A-SMGCS (Advanced-Surface Movement Guidance and Control System) level 2 di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar dan Bandara Juanda Surabaya, penambahan mobile tower, serta 3D ATC simulator dan surveillance simulator.

Bandara Juanda merupakan salah satu bandara yang dipasangi alat canggih dan modern yang bernama ASMGC tersebut. Alat tersrbut mempunyai fungsi membantu dan mempermudah pemandu lalu lintas udara dalam memantau pergerakan pesawat terbang.

Peralatan canggih itu salah satunya berasal dari Amerika Serikat dan sudah banyak digunakan di sejumlah bandar udara internasional di berbagai negara dan memang banyak membantu petugas pemandu lalu lintas udara.

Salah satu alasan dipasangnya kedua alat tersebut di Bandara Juanda adalah memiliki trafik penerbangan yang sangat tinggi.

Fungsi ASMGCS yang dipasang di menara air traffic control (ATC) untuk mengamati pesawat saat melakukan pergerakan di landas hubung (taxiway) dan landas pacu (runway). Selain itu juga untuk mendeteksi pergerakan pesawat baik menuju atau dari tempat parkir pesawat (apron) yang tidak bisa terlihat secara visul dari menara ATC.

Sebelum ada ASMGCS keberadaan pesawat terbang hanya bisa terlihat pada siang hari saat hujan dan kondisi cuaca yang buruk. Tapi dengan ada alat itu maka pesawat bisa terlihat pada situasi apapun.

Selain itu jika tanpa ASMGCS kemungkinan bisa terjadi kesalahan tanda panggil pada urutan pesawat yang akan terbang, tapi dengan alat itu maka tanda panggil terakurasi pada urutannya.

Juga jika tanpa menggunakan alat itu maka pemandu lalu lintas susah membedakan tipe pesawat, tapi jika menggunakan ASMGCS maka tipe pesawat akan tertulis secara otomatis dan jelas.

Prinsip kerja ASMGCS adalah menggunakan antene pendeteksi sinyal melalui sensor yang dipasang pada posisi geografis yang berada di sekitar bandara atau cakupan area yang ditunjuk pesawat atau kendaraan harus mengirimkan Mode S.

Khusus di Bandara Juanda terpasang 13 sensor yang terletak diberbagai titik strategis yang dilalui oleh pesawat terbang.

Alat canggih lainnua adalah CDU yang fungsinya adalah memastikan semua pesawat yang akan berangkat telah memiliki rencana penerbangan yang valid serta memperoleh informasi yang relevan terkait kondisi cuaca.

Selain itu juga mengurangi keterlambatan keberangkatan pesawat, data penerbangan menjadi lebih akurat dan terkoreksi, serta mengurangi potensi kehilangan data penagihan.

Ïntinya adalah manfaat kedua alat tersebut untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan penerbangan baik saat di darat maupun udara.

Seluruh program investasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan layanan navigasi penerbangan secara merata di seluruh ruang udara Indonesia. Layanan navigasi penerbangan yang diberikan oleh AirNav Indonesia sepanjang tahun 2018 mendapatkan predikat excellent dari maskapai penerbangan yang beroperasi di Indonesia.

Sinergi dengan seluruh stakeholder penerbangan adalah kunci keberhasilan dalam merangkai konektivitas udara.  Karena itu pula Airnav mengapresiasi salah satu mitra strategis yaitu Indonesia National Air Carriers Association (INACA) yang telah memberikan predikat excellent untuk layanan navigasi penerbangan. Capaian ini tidak akan membuat Airnav terlena, justru menjadi pelecut semangat baru untuk terus meningkatan layanan navigasi penerbangan.

Sedangkan Service Quality Index (SQI) berdasarkan survei yang dilakukan oleh INACA meningkat menjadi 4,31 di tahun 2018 dari sebelumnya 4,07 di tahun 2017. SQI didapatkan melalui perpaduan antara Cockpit Crew Satisfaction Index (CSI) dengan proporsi nilai 80% dan Observed Quality Index (OQI) dengan proporsi nilai 20%.

CSI ditentukan melalui metode survei dan wawancara Proportionate Stratified Random Sampling (PSRS) terhadap 1.015 pilot on duty yang mendarat di lokasi survei, yang terdiri dari 844 pilot rute domestik dan 171 pilot rute internasional. Pertanyaan yang diajukan seputar kualitas layanan navigasi penerbangan seperti kualitas komunikasi penerbangan, informasi penerbangan, informasi cuaca, prosedur layanan navigasi penerbangan dan kualitas personel navigasi penerbangan yang memberikan layanan tersebut.

Sementara OQI ditentukan melalui observasi langsung yang dilakukan oleh tim INACA dan AirNav Indonesia di 10 lokasi antara lain Jakarta Air Traffic Services Canter (JATSC), Makassar Air traffic Services Center (MATSC), Balikpapan, Batam (Tanjung Pinang), Bandung, Denpasar, Medan, Sentani, Surabaya dan Ternate. Survei ini dilakukan untuk meninjau kompetensi personel navigasi penerbangan, APP room, ACC room (khusus JATSC dan MATSC), briefing office, ruang administrasi dan keuangan, keamanan lingkungan kerja, fasilitas komunikasi, fasilitas navigasi penerbangan, fasilitas otomasi dan fasilitas surveillance. Pada tahun 2018, nilai CSI meningkat menjadi 4,28 dan nilai OQI meningkat menjadi 4,43 dari sebelumnya 4,03 dan 4,25 pada tahun 2017.

Sebagaimana sudah disebutkan di awal, tolok ukur kinerja AirNav Indonesia terutama dilihat dari sisi safety. Namun demikian, tentu saja, safety yang dimaksud mencakup aspek yang luas dan memiliki banyak unsur: soal SDM, peralatan, prosedur, dsb., yang semuanya diatur secara ketat dalam Civil Aviation Safety Regulations. 

Jika dilihat dari sejarah kelahirannya, perusahaan ini baru berdiri tahun 2013. Ini sebuah organisasi unik. Dulunya ini pelayanan navigasi yang ada di PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II di seluruh Indonesia, lalu digabung menjadi satu perusahaan. Orang-orang dan aset yang terkait kenavigasian dijadikan satu. Tantangannya dari sisi manajemen SDM sangat unik.

Di bidang pengelolaan SDM, di Tahun 2016, kinerja pengelolaan SDM masih jauh dari excellent.  Saat itu pengelolaan masih berantakan. Gaji masih naik-turun karena dihitung masih serba manual. Level jabatan melekat pada orang, bukan jabatan. Usia pensiun tak tentu, database karyawan tidak lengkap, belum ada program pensiun atau program jaminan hari tua. Pun ego masa lalu antarkaryawan masih tinggi.

Hubungan dengan stakeholder saat itu juga tidak berjalan baik, belum tercipta budaya kerja karena semua orang membawa budaya masing-masing ketika masuk AirNav. Belum lagi, dari sisi jumlah ketersediaan SDM, waktu itu belum mampu memenuhi jumlah SDM sesuai dengan kompetensi yang diharuskan regulasi. Namub demikian berkat kerha keras didukung semangat untuk cepat belajar , dalam HR Excellence Award 2019 AirNav Indonesia berhasil meraih rating “A”, sesuai dengan penilaian tim juri, hingga hal ini jelas merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Tahun 2016, tom SDM  Airnav mulai dengan menganalisis permasalahan, mengembangkan organisasi, membangun komunikasi, dan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang relevan. Pola-pola kolaborasi dijalankan untuk mengembangkan organisasi yang relatif baru tersebut.

Hubungan dengan stakeholder yang belum berjalan baik pun mulai dibina.Di bidang manajemen SDM, pihaknya benar-benar melakukan transformasi, termasuk dengan meretrukturisasi organisasi yang tumpang tindih.

Dalam rangka transformasi SDM ini, manajemen Airnavmenerapkan delapan cara untuk menjalankan perubahan. Yakni, menciptakan sense of urgency, membangun guiding coalition, membentuk inisiatif yang strategis, mencari volunter, mengaktifkan tindakan dengan menghilangkan hambatan, menghasilkan short term wins, mempertahankan akselerasi, dan institute change.

Selain itu, juga dengan menjalankan program smart recruitment. Karena, saat itu Airnav kekurangan orang mengembangkan program magang untuk mempercepat jumlah karyawan.Hingga sampai saat ini karyawan Airnav mencapai   5.200-an orang.

Di bidang SDM, salah satu yang menjadi fokus pengembangan ialah aspek manajemen kinerja, performance management. Di mana hingga sekarang Airnav sudah mengimplementasikan penilaian kinerja karyawan 360 derajat berbasis web atau Appraise-U. Survei kepuasan dan engagement karyawan juga telah dijalankan berbasis online.

Pemilihan karyawan teladan pun berbasis online.  Pihak manajamen Airnav menilai karyawan menggunakan sistem poin, yang dinilai meliputi kompetensi teknis, kompetensi nonteknis, dan pengalaman kerja. Yang menghitung sistem, sehingga bila sudah terpenuhi semuanya, karyawan akan naik dengan sendirinya ke level selanjutnya.

Pengelolaan SDM di AirNav Indonesia memang dijalankan berbasis sistem teknologi informasi. Untuk pengisian Key Performance Index, misalnya, juga dilakukan dengan sistem sehingga setiap orang bisa melihat kinerjanya. Bahkan, sistem HR  juga sudah dapat dilihat melalui mobilei. Sistim remunerasi pun telah selesai dimodernisasi.

Dalam mengembangkan SDM, AirNav Indonesia mengacu pada standar global sehingga juga terus menjalin kerjasama dengan mitra internasional, termasuk dengan AirNav di Prancis. Juga, dengan mengirim karyawan belajar, mengambil program master di luar negeri.  Penguasaan kemampuan bahasa Inggris di AirNav ini menjadi syarat. Selain itu manajemen juga mempunyai program training rutin, dan berbagai exposure kegiatan internasional untuk mengembangkan kemampuan karyawani. AirNav Indonesia menggunakan standar internasional sehingga pihaknya harus mengikuti apa yang diperintahkan Civil Aviation Safety Regulations.

Sejauh ini, berdasarkan survei kepuasan karyawan, karyawan AirNav Indonesia cukup happy, terbukti dengan hasilnya yang sudah cukup bagus dengan skor 80. Adapun untuk employee engagement, per tahun 2018 mencapai angka 85,65. Yang menarik, dari 5.200-an karyawan, sekitar 70 persennya adalah segmen milenial (di bawah 30 tahun). Dari sisi komposisi karyawan, kini pada titik imbang dan sudah cukup.Airnavi baru akan menambah karyawan jika memang ada penambahan pelayanan, seperti karena beroperasinya bandara internasional Yogyakarta ,hingga Airnav baru menambah tenaga baru.

Dengan pengembangan yang sekarang dilakukan,  diperkirakan lima tahun ke depan AirNav Indonesia akan menjadi setara dengan Airnav terbaik dunia. Sekarang Airnav sudah lebih tinggi daripada Malaysia, namun masih kalah dari Singapura karena peralatan mereka lebih bagus. Tentu saja, serangkaian program pengembangan SDM yang sudah direncanakan akan terus dijalankan agar bisa menunjang pertumbuhan cakupan layanannya.Akhir kata maju tetus Airnav Indonesia.(Budi Nugraha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *