Agrowisata dalam Situasi Pandemi

Oleh Opik Mahendra

SALAH satu motor penggerak perekonomian di Indonesia selain minyak dan gas bumi (migas) adalah aktivitas pariwisata. Meski terdampak sangat hebat akibat pandemi Covid-19, namun pariwisata tetap menjadi potensi yang menjanjikan, khususnya wisata berbasis pertanian (agrowisata). Kondisi pandemi Covid 19 dipastikan akan membawa perubahan besar minat wisatawan dengan mengedepankan aspek kebersihan, keamanan, dan kesehatan dalam berwisata sehingga perlu diantisipasi oleh pengambil kebijakan sekaligus menjadi peluang bagi pengembang ekonomi kreatif.

Masyarakat sekarang memiliki banyak pilihan objek wisata baik yang bersifat kebudayaan, nilai sejarah, maupun kependidikan serta desa wisata dengan berbagai corak budaya dan keindahan yang ditawarkan. Pergeseran ketertarikan wisatawan kepada wisata alam sebagai alternatif tempat liburan mulai terjadi. Suguhan keindahan alam yang dipadukan dengan kegiatan pertanian menjadi daya tarik yang komprehensif. Selain disuguhkan dengan keindahan alam, masyarakat juga bisa menambah wawasan tentang proses bertani dan berternak.

Aktivitas masyarakat yang dikembangkan untuk wisata, seperti belajar bertani, beternak, dan berbagai aktivitas ekonomi yang mendukung pertumbuhan desa wisata berbasis pertanian. Konsep desa wisata yang menawarkan pembelajaran pertanian, jika dikembangkan secara luas di berbagai daerah, maka akan bisa menarik anak-anak muda untuk kembali mencintai pertanian.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan Indonesia dapat memiliki 2.000 desa wisata dan terus mendorong potensi desa yang dapat dijadikan sebagai desa wisata. Data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (2019) menyebutkan, sebanyak 1.902 desa berpotensi sebagai desa wisata dengan sumber daya yang dimiliki, salah satunya di bidang pertanian atau agrowisata. Pandemi Covid-19 merupakan tantangan sekaligus peluang bagi agrowisata. Pembatasan dan larangan masyarakat untuk berkerumun perlu dimaknai dengan strategi pengembangan agrowisata yang tetap menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan jaga jarak aman antar pengunjung lokasi wisata.

Desa wisata yang ada di Indonesia perlu dikemas dengan story telling yang bagus sehingga selaras dengan hal yang menyejahterakan alam dan menjadi atraksi yang menarik. Prinsip utama yang dikembangkan sebagai pondasi wisata oleh desa adalah bagaimana nilai-nilai luhur baik tradisi maupun kebudayaan serta aktivitas masyarakat sehari-hari yang melekat dan sudah menjadi karakter harus tetap terlindungi walaupun tujuan akhirnya tentu adalah kesejahteraan bagi masyarakat desa.

Pengembangan desa wisata tepat untuk menggerakkan kembali ekonomi pedesaan akibat dampak Covid-19. Banyak hal yang semula dianggap tidak berarti ternyata dapat menambah penghasilan penduduk desa seperti aktivitas menanam sayuran, memetik daun teh, memerah susu kambing, mengarungi jeram sungai. Aktivitas yang bisa “dijual” kepada penduduk kota dan turis asing. Sumber mata air yang diubah menjadi kolam pemandian yang ditata apik dapat menambah kas desa berlipatlipat. Menyewakan sepeda untuk wisata, penjualan jajanan khas desa atau suvenir khas desa juga berpotensi mendatangkan pundi-pundi pendapatan bagi masyarakat desa.

Manfaat Ganda

Bagi daerah yang memiliki tanah subur dan komoditas pertanian yang mumpuni, pengembangan agrowisata dapat mendatangkan manfaat ganda. Selain pendapatan dari objek wisata itu sendiri, petani atau peternak juga dapat menjual hasil tani dan ternak untuk pengunjung dalam bentuk segar atau produk olahan dan meminimalisasi biaya distribusi karena konsumen datang langsung ke lahan.

Di lain sisi, salah satu dampak Covid-19 adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan diperkirakan banyak tenaga kerja yang kembali ke desa sehingga bisa diberdayakan kembali untuk mengelola agrowisata secara profesional dan berenergi. Dalam menjalankan desa wisata, persiapan sumber daya manusia (SDM) adalah hal yang sangat vital. Penampilan fisik desa juga sangatlah penting, bagaimana suatu kawasan tersebut tertata rapi sesuai dengan alam dan budaya sekitar sehingga menjadi salah satu daya tarik dari suatu objek wisata.

Desa wisata yang memiliki banyak pemasukan dari kegiatan wisata kini harus mengatur ulang strategi untuk tetap bertahan dengan kemandirian yang dibentuk. Satu kekuatan yang menjadi keuntungan dari desa wisata adalah tidak hilangnya pekerjaan utama masyarakat.

Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya masyarakat (89,6%) di desa wisata yang masih memiliki pekerjaan utama di luar sektor pariwisata. Dari 89,6% tersebut, sejumlah 59,8% penduduk di hidup dari sektor pertanian dan perkebunan. Selain itu, 11,3% bekerja sebagai wiraswasta, 11,3% bekerja di bidang kerajinan, 4,1% bekerja sebagai karyawan swasta, dan 2,1% bekerja di bidang perikanan atau budidaya ikan. (46)

—- Opik Mahendra SP MScKepala Seksi Bina Usaha, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort