70.000 Lebih Konser Musik Batal Selama Pandemi.

Jakarta, Suaramerdeka.News — Selama Pandemi Covid-19, 70.000 konser musik batal diselenggarakan di seluruh wilayah Indonesia. Demikian dikatakan promotor musik Harry Koko Santoso, dalam diskusi “Recovery Industri Hiburan di Era New Normal“, yang diinisiasi PWI Jaya Sie Musik, Film & Hiburan di Hotel Jambuluwuk, Tapos, Bogor, Jabar, Sabtu (22/8/2020).

Menurut promotor Deteksi Production itu, angka 70.000 bisa jadi menjadi ratusan ribu jumlahnya, karena tercatat dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, jumlah grup band di Indonesia sangat banyak sekali.

Tercatat, dari 34 propinsi di Indonesia, terdapat 500 Kabupaten/Kota, Dan 6000 lebih kampung/Kelurahan, yang minimal mempunyai satu (1) group band. Yang setiap band, minimal beranggotakan empat (4) personal. Dengan demikian, dalam perhitungan Harry Koko, minimal Ada 76.000 grup band di seluruh Indonesia, yang nganggur selama pandemi.

Harry Koko Santoso. (SMNews/Bb)

“Dari era Koes Plus sampai Afghan saja, terdapat 30.000 group band yang punya nama, nah dari gambaran kasar itu, ada sekitar 100.000 band yang sekarang kehilangan nafkahnya. Dengan demikian, jika dalam sehari ribuan konser tertunda, bagaimana jumlah keseluruhan konser yang tertunda selama pandemi,” imbuh Harry Koko sembari menjelaskan pertunjukan musik di kampung-kampung termasuk bagian dari konser Musik, meski skalanya kecil/kompak.

Kalaupun ada sumber pemasukan lain diluar konser musik, seperti dari YouTube misalnya, menurut Harry Koko belum bisa menjadi andalan. “YouTube belum menjadi tuan rumah Musik Indonesia,” katanya.

Oleh karena itu, dia meminta perhatian serius Dari Pemerintah untuk bersegera memberikan solusi atas keadaan yang sangat menyiksa ini. Karena pendaringan para musisi mati selama pandemi, juga saat New Normal diberlakukan.

Salah satu caranya dengan misalnya setiap Pemerintah Kabupaten/Kota kemudahan penggunaan venue dengan harga yang sepantasnya. Atau kalau mungkin digratiskan, serta kelonggaran pajak tontonan. Dengan tetap mematuhi standar kesehatan yang ada.

“Karena industri hiburan sama pentingnya dengan industri lainnya. Bahkan di AS industri hiburan pemasukannya mengalahkan industri senjata, sekalipun,” kata Harry Koko sembari mengatakan, “Negara maju adalah negara yang bahagia. Negara menjadi bahagia karena ada industri hiburannya yang tumbuh subur di sana”.

Hal senada dikatakan produser musik Agi Sugiyanto. Selama pandemi, Agi yang tetap berupaya keras terus mempopulerkan Trio Macam, T-Five hingga D’Mojang dan beberapa nama lainnya mengaku mengalami kerugian di angka miliaran Rupiah.

“Mau gerak susah, apalagi jualan. Ngga ngerti pandemi selesai sampai kapan,” katanya dalam diskusi yang dibuka Ketua PWI Jaya Said Iskandar didampingi Sekjen PWI Jaya Kesit.

Menurut Agi, pemasukan utama anak asuhnya 80 persen dari off air. “Jika off air berhenti karena pandemi, mau dapat pemasukan dari mana,” katanya sembari mengamini apa yang dikatakan Harry Koko, bahwa YouTube belum bisa dijadikan ladang pemasukan. “Karena kita bikin sekarang, pemasukannya yang fluktuatif itu, baru terjadi tahun depan,” katanya yang tetap berupaya survive dari terjangan pandemi dengan cara mandiri.

Diskusi yang juga menghadirkan Djonny Sjafruddin, Inggrid Wijanarko, Roy Jeconiah, Derry 4 Sekawan, Alicia Johar dan Bagiono Prabowo akhirnya berkeputusan akan mengirimkan memo atau rekomendasi ke Komisi X DPR RI, demi turut memberikan solusi kepada pemangku kepentingan. (Benny Benke – 39).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


yozgat escort kars escort tokat escort osmaniye escort bayburt escort afyon escort kahramanmaraş escort çorum escort fethiye escort kastamonu escort balıkesir escort erzurum escort sivas escort düzce escort ordu escort manavgat escort burdur escort adıyaman escort aydın escort giresun escort mardin escort kutahya escort şanlıurfa escort yalova escort van escort kırklareli escort bilecik escort karaman escort muğla escort zonguldak escort