- Ekonomi

Investasi kultural AirNav untuk navigasi dalam negeri

K


BAGI warga Jawa Tengah, tiap Syawalan atau sepekan setelah Lebaran, langit Pekalongan dan Wonosobo selalu meriah oleh balon udara. Secara bergotong royong warga mengumpulkan modal untuk membuat balon yang akan diterbangkan di pagi hari, ketika matahari belum tinggi dan angin bertiup tenang.

Ukuran balon udara beragam. Paling kecil diameternya sekitar tujuh meter dengan tinggi belasan meter. Semakin gigantik ukuran balon, semakin besar pula kebanggaan kelompok warga yang menerbangkannya.

Sorak-sorai selalu mengiringi penerbangan ketika balon perlahan mengapung tinggi, semakin tinggi hingga hilang dari pandangan. Jika balon udara dibekali bahan bakar tabung elpiji 3 kg, balon udara tersebut bisa sundul langit, menggapai ketinggian hingga 30 ribu kaki.

Belasan hingga puluhan balon-balon ini tampak indah ketika mengudara bersama-sama, namun tradisi ini sangat berbahaya karena selain terbang mengikuti arah angin, ketinggian 30 hingga 35 ribu kaki adalah ketinggian jelajah rata-rata pesawat jet komersial.   

Tak heran banyak laporan para pilot jet komersil di rute penerbangan Jakarta-Bali, Jakarta-Jogjakarta, dan Jakarta-Surabaya terhadap pergerakan balon udara tersebut. Tidak saja mengganggu tapi juga membahayakan.  

Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) mencatat sejumlah bahaya jika sampai balon udara tertabrak pesawat. Di antaranya, mengganggu pengendalian pesawat ketika balon menyangkut di sayap dan ekor pesawat.

Selain itu balon udara juga bisa menutup bagian depan pesawat yang mengganggu pandangan pilot (visual guidance), namun yang paling berbahaya tentu saja ketika balon tersedot masuk ke dalam mesin pesawat yang mengakibatkan mesin mati atau terbakar, bahkan meledak.

Pemerintah sendiri sejak satu dekade terakhir telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan yang tegas menyebutkan penggunaan atau menerbangkan balon udara tersebut dapat dipidanakan dua tahun atau paling banyak denda 500 juta.

Ancaman tersebut rupanya tak terlalu digubris masyarakat, pemerintah melalui Kemenhub kemudian merilis Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 40 Tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara Pada Kegiatan Budaya Masyarakat (Permenhub 40/2018).

Permenhub 40/2018 mengatur balon udara tradisional boleh diterbangkan dengan ketentuan ditambatkan dengan tali maksimum 125 meter dari tanah, ukuran balon maksimum diameter 4 meter dan tinggi 7 meter. 

Selain itu, setiap kegiatan penerbangan balon harus meminta izin kepada otoritas bandara dan pemerintah daerah. Artinya, pemerintah sebetulnya sudah membuka pintu dialog dengan mengapresiasi kegiatan tradisi penerbangan balon udara.

Pendekatan kultural

Sebagai pengelola seluruh ruang udara Indonesia, AirNav Indonesia yang berdiri 13 September 2012, tak tinggal diam. Selain melakukan sosialisasi ke masyarakat, sejak tahun lalu Airnav melakukan pendekatan kultural pada tradisi penerbangan balon udara tersebut.

Melalui gelaran Java Traditional Balloon Festival, AirNav Indonesia sejak tahun lalu menjembatani budaya masyarakat dalam menerbangkan balon udara tradisional namun disiplin dalam memperhatikan keselamatan penerbangan.

Balon tetap dapat mengudara untuk memperingati momen Syawalan, namun dengan cara ditambatkan sehingga tidak melejit ke angkasa. Masyarakat pun mulai terbiasa, jumlah peserta pun dalam dua tahun terakhir.

Untuk kompetisi di Pekalongan, tahun lalu total peserta hanya 30 kelompok. Tahun ini, jumlah peserta meningkat drastis menjadi 105 kelompok. Sementara di Wonosobo, dari 104 kelompok pada 2018, tahun ini menjadi 119 kelompok.

Selain menggelar festival di Jawa Tengah, AirNav rupanya juga menyelenggarakan kegiatan serupa di Jawa Timur. Harapannya tentu saja, energi masyarakat untuk menerbangkan balon udara tidak digilas begitu saja oleh hukum tetapi justru diarahkan menjadi lebih positif.

Pendekatan kultural yang dilakukan AirNav adalah salah satu strategi yang sering digunakan untuk mengatasi persoalan konflik. Hal ini didasari bahwa manusia menggunakan kultur untuk memecahkan persoalan karena kultur adalah sebuah strategi yang telah dikenal dan dipahami masyarakatnya. 

Investasi waktu dan tenaga dalam pendekatan kultural yang dilakukan AirNav mungkin akan sulit untuk dikomparasikan dengan finansial yang digelontorkan demi peningkatan kualitas layanan navigasi di bandara.

Suara Merdeka mencatat alokasi AirNav untuk peningkatan kualitas layanan navigasi di bandara mencapai Rp2,6 triliun, melonjak Rp700 miliar dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp1,9 triliun. Dana sebesar itu digunakan untuk meningkatkan infrastruktur dan pelayanan navigasi penerbangan.

investasi tersebut ditujukan untuk modernisasi peralatan CNS-A (Communication, Navigation, Surveillance dan Automation) dan peningkatan kualitas personel layanan navigasi penerbangan di seluruh kantor cabang, baik di bandara besar maupun perintis. 

Sementara anggaran yang dialokasikan untuk peralatan communication adalah Rp.260,4 miliar (10%), navigation Rp.113,5 miliar (4%), surveillance Rp.222 miliar (9%), automation Rp.1,1 triliun (44%), mechanical & electrical Rp.71,4 miliar (3%) serta building & supporting Rp.779,7 miliar (30%).

Khusus untuk Papua, AirNav tahun ini mengucurkan Rp245,5 miliar untuk 45 program, jauh meningkat dibandingkan 2018 yang hanya Rp156 miliar. Program hingga bandara perintis dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan lalu lintas penerbangan.

Lalu apa hubungannya investasi AirNav dengan balon udara? Mengapa pendekatan kultural terasa penting? Jawabannya sederhana, tak lain, sampai saat ini belum ada teknologi untuk mendeteksi pergerakan balon udara.

Sehingga patut dipuji upaya pendekatan kultural yang telah dilakukan oleh AirNav mengatasi tradisi penerbangan balon udara tiap Syawalan di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan berkoordinasi dengan berbagai pihak. 

Sebuah kegiatan yang tentu saja tidak mudah dilakukan karena mutlak menuntut nafas panjang mengelola komunikasi antar pihak. Satu saja pihak tidak puas maka akan menimbulkan konflik di sisi lain.

Meski rumit, pendekatan kultural biasanya lebih bersifat adaptif dan merupakan bagian dari pendekatan struktural fungsional masyarakat Indonesia yang masih kuat dalam tradisi gemeinschaft (paguyuban). Artinya, strategi ini lebih menekankan adanya kesepakatan di dalam memecahkan masalah. 

Dengan pendekatan ala AirNav Indonesia, keselamatan penerbangan Indonesia yang dipantau International Civil Aviation Organization (ICAO) terjaga dan meningkat sementara masyarakat dan pemerintah sama-sama senang.(budi nugraha/69)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *